(Business Lounge – Global News) Tesco mengatakan optimistis dapat mencapai batas atas target laba tahunannya setelah membukukan kenaikan penjualan pada kuartal ketiga dan periode Natal, memperkuat posisinya sebagai peritel bahan pangan terbesar di Inggris di tengah tekanan biaya hidup yang masih membayangi konsumen. Perusahaan menyebutkan bahwa kinerja penjualan yang solid selama musim belanja akhir tahun memberi visibilitas yang lebih baik terhadap profitabilitas, sekaligus memperkuat keyakinan manajemen terhadap strategi harga dan efisiensi yang dijalankan.
Menurut The Wall Street Journal, pertumbuhan penjualan Tesco didorong oleh volume yang relatif stabil serta keberhasilan perusahaan mempertahankan daya tarik harga di tengah persaingan ketat antarperitel. Konsumen Inggris memang masih sensitif terhadap harga, namun Tesco diuntungkan oleh skala operasinya yang besar, jaringan toko yang luas, dan kemampuan menekan biaya rantai pasok. Hal ini memungkinkan perusahaan menawarkan harga kompetitif tanpa mengorbankan margin secara signifikan.
Periode Natal menjadi ujian penting bagi peritel Inggris, dan Tesco tampaknya mampu melewatinya dengan hasil yang meyakinkan. Bloomberg mencatat bahwa penjualan produk makanan pokok dan merek private label kembali menjadi penopang utama, mencerminkan pola belanja konsumen yang lebih berhati-hati namun tetap konsisten. Di saat yang sama, segmen produk premium Tesco Finest juga menunjukkan ketahanan, menandakan bahwa sebagian konsumen masih bersedia membelanjakan lebih untuk momen tertentu meski anggaran rumah tangga tertekan.
Optimisme Tesco tidak hanya bersumber dari sisi penjualan, tetapi juga dari pengendalian biaya. Setelah periode inflasi tinggi yang menekan margin ritel, perusahaan kini mulai merasakan meredanya tekanan biaya input dan logistik. Financial Times menyoroti bahwa Tesco memanfaatkan kondisi ini untuk menstabilkan harga, bukan sekadar mendongkrak margin, sebuah langkah yang dinilai penting untuk mempertahankan pangsa pasar dalam jangka menengah.
Namun, lingkungan bisnis tetap menantang. Persaingan harga di sektor ritel Inggris semakin intens, dengan peritel diskon terus memperluas pangsa pasar. Tesco harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga margin dengan keharusan mempertahankan citra sebagai peritel dengan nilai terbaik. Reuters mencatat bahwa strategi Tesco sejauh ini relatif efektif, terutama karena perusahaan mampu memadukan promosi yang terarah dengan program loyalitas yang mendorong frekuensi belanja.
Pernyataan manajemen bahwa laba berpotensi berada di ujung atas panduan tahunan memberi sinyal kepercayaan diri terhadap sisa tahun fiskal. Bagi investor, hal ini memperkuat persepsi bahwa Tesco berada dalam posisi yang lebih stabil dibandingkan banyak peritel lain yang masih bergulat dengan volatilitas permintaan dan biaya. Saham Tesco pun dipandang lebih defensif di tengah ketidakpastian ekonomi Inggris.
Kinerja terbaru ini menunjukkan bahwa dalam iklim konsumsi yang rapuh, skala, disiplin biaya, dan pemahaman mendalam terhadap perilaku konsumen menjadi keunggulan kompetitif utama. Tesco tidak kebal terhadap tekanan ekonomi, tetapi hasil kuartal ketiga dan musim Natal memberi indikasi bahwa strategi yang dijalankan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan profitabilitas.

