(Business Lounge – Global News) Shell memperingatkan bahwa kinerja bisnis perdagangan minyaknya pada kuartal keempat akan jauh lebih lemah dibandingkan kuartal sebelumnya, mencerminkan perubahan kondisi pasar energi global yang semakin menantang. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembaruan perdagangan perusahaan, menandai meredanya momentum yang sebelumnya mendongkrak laba dari aktivitas trading minyak mentah dan produk olahan.
Menurut The Wall Street Journal, unit perdagangan minyak Shell—yang selama ini menjadi salah satu sumber keuntungan penting—menghadapi lingkungan pasar dengan volatilitas yang menurun. Pada kuartal ketiga, pergerakan harga yang tajam dan dislokasi pasokan global memberi peluang bagi perusahaan-perusahaan energi besar untuk memanfaatkan perbedaan harga antarwilayah. Memasuki kuartal keempat, dinamika tersebut melemah seiring harga minyak bergerak dalam kisaran yang lebih sempit.
Kondisi pasar yang lebih tenang ini mengurangi peluang arbitrase yang biasanya menjadi tulang punggung profit trading. Bloomberg mencatat bahwa stabilisasi pasokan global, termasuk penyesuaian produksi oleh negara-negara OPEC+, serta permintaan yang relatif seimbang di sejumlah kawasan, menekan potensi keuntungan dari aktivitas jual beli jangka pendek. Bagi Shell, yang memiliki jaringan perdagangan dan logistik minyak berskala global, perubahan ini berdampak langsung pada kinerja segmen tersebut.
Peringatan Shell juga mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi para raksasa energi yang selama beberapa tahun terakhir menikmati lonjakan laba dari volatilitas pasar. Ketika harga minyak bergejolak akibat pandemi, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok, perusahaan dengan kapabilitas trading kuat mampu mengonversi ketidakpastian menjadi keuntungan. Financial Times menilai bahwa fase pasar yang lebih stabil, meski menguntungkan bagi konsumen dan perencana ekonomi, justru menekan margin trading bagi perusahaan energi terintegrasi.
Meski bisnis perdagangan minyak melemah, Shell menegaskan bahwa portofolio usahanya yang terdiversifikasi tetap menjadi penyangga kinerja keseluruhan. Perusahaan memiliki eksposur besar di gas alam cair, energi terbarukan, dan bahan bakar rendah karbon, yang diharapkan membantu menyeimbangkan fluktuasi di segmen minyak. Reuters mencatat bahwa Shell dalam beberapa tahun terakhir semakin menekankan disiplin modal dan pengembalian kepada pemegang saham, mengurangi ketergantungan pada satu sumber laba.
Bagi investor, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kinerja kuartalan Shell dapat berfluktuasi tajam seiring perubahan kondisi pasar energi. Namun sinyal pelemahan trading minyak tidak serta-merta mengubah pandangan jangka panjang terhadap perusahaan, terutama mengingat neraca yang kuat dan strategi diversifikasi yang sedang dijalankan. Shell menilai bahwa fokus pada efisiensi dan fleksibilitas operasional akan tetap menjadi kunci untuk menghadapi siklus pasar energi yang terus berubah.

