Benarkah Earphone Bluetooth Berisiko bagi Otak? Ini yang Perlu Dipahami

Earphone Bluetooth kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dipakai untuk rapat daring, mendengarkan musik, hingga menemani perjalanan harian. Namun, di balik kenyamanan tersebut, sejumlah ahli mulai mengingatkan potensi risiko kesehatan yang jarang dibicarakan: paparan gelombang radiofrekuensi (RF) yang terjadi secara terus-menerus dan sangat dekat dengan jaringan otak.

Kekhawatiran utama para ilmuwan sebenarnya bukan terletak pada besarnya daya radiasi dari earphone Bluetooth. Secara umum, perangkat ini masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan regulator. Masalahnya adalah durasi dan kedekatan paparan. Earphone nirkabel modern dirancang untuk masuk cukup dalam ke liang telinga, yang berarti sumber radiasi RF hanya berjarak beberapa milimeter dari jaringan sensitif di sekitar tengkorak.

Dalam penggunaan sehari-hari, banyak orang mengenakan earphone Bluetooth selama berjam-jam tanpa jeda—saat bekerja, berolahraga, hingga bersantai. Paparan rendah yang terjadi sekali mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun paparan kronis dan berulang selama bertahun-tahun inilah yang mulai menimbulkan pertanyaan di kalangan peneliti saraf.

Sejumlah penelitian awal menunjukkan bahwa gelombang RF berpotensi meningkatkan stres seluler dan memicu peradangan tingkat rendah pada jaringan otak. Efek ini tidak bersifat akut atau langsung terasa, tetapi bersifat perlahan dan kumulatif. Para ilmuwan menekankan bahwa kondisi seperti ini sulit terdeteksi dalam jangka pendek, namun bisa berkontribusi terhadap gangguan neurologis jika berlangsung lama.

Karena bukti ilmiah jangka panjang masih berkembang, banyak ahli neurologi menganjurkan pendekatan yang dikenal sebagai precautionary principle—bersikap waspada meski risikonya belum sepenuhnya terbukti. Prinsip ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan menggunakan teknologi dengan cara yang lebih bijak.

Beberapa langkah sederhana yang sering direkomendasikan antara lain: menggunakan speaker eksternal atau earphone kabel jika memungkinkan, memberi jeda istirahat pada telinga setelah beberapa waktu mendengarkan, serta menghindari kebiasaan memakai earphone Bluetooth sepanjang hari tanpa henti. Intinya, mengurangi total durasi paparan harian.

Para ahli juga menegaskan bahwa penggunaan sesekali tidak perlu ditakuti. Risiko potensial justru muncul ketika earphone Bluetooth menjadi “perpanjangan tubuh” yang terus menempel di telinga dari pagi hingga malam. Dalam konteks kesehatan otak, jarak dan waktu tetap menjadi faktor penting.

Di era teknologi yang semakin personal dan melekat pada tubuh, kesadaran pengguna menjadi kunci. Hingga riset jangka panjang memberikan jawaban yang lebih pasti, sikap moderat dan bijak mungkin menjadi perlindungan terbaik bagi kesehatan otak kita di masa depan.