(Business Lounge – Global News) AT&T memutuskan memindahkan kantor pusatnya dari pusat kota Dallas ke kawasan pinggiran, menandai babak baru dalam eksodus perusahaan besar dari salah satu central business district yang paling terpukul di Amerika Serikat. Keputusan perusahaan telekomunikasi raksasa itu bukan sekadar relokasi administratif, melainkan sinyal perubahan struktural dalam cara korporasi memandang fungsi pusat kota pascapandemi.
Langkah AT&T memberikan pukulan tambahan bagi downtown Dallas, yang selama beberapa tahun terakhir berjuang memulihkan tingkat hunian perkantoran. Seperti banyak pusat kota besar lain di AS, kawasan ini terdampak oleh pergeseran kerja jarak jauh dan hibrida, yang secara permanen mengurangi kebutuhan ruang kantor konvensional. Kehadiran AT&T selama puluhan tahun menjadi jangkar penting bagi aktivitas ekonomi kawasan, mulai dari bisnis pendukung hingga arus pekerja harian.
Perusahaan menyatakan bahwa perpindahan ke pinggiran kota bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan karyawan dan strategi bisnis jangka panjang. Kampus baru tersebut disebut menawarkan fasilitas modern, fleksibilitas ruang, serta akses yang lebih mudah bagi tenaga kerja yang kini tersebar di wilayah metropolitan Dallas-Fort Worth. Bagi AT&T, keputusan ini mencerminkan realitas baru dunia kerja, di mana lokasi pusat kota tidak lagi menjadi keharusan simbolik bagi perusahaan besar.
Menurut pengamatan The Wall Street Journal, Dallas termasuk salah satu pusat bisnis perkotaan dengan penurunan hunian kantor terdalam di AS. Tekanan tersebut diperparah oleh tingginya tingkat utang properti komersial dan berkurangnya minat investor terhadap gedung perkantoran lama. Kepergian perusahaan besar seperti AT&T memperbesar tantangan bagi pemilik gedung dan pemerintah kota yang bergantung pada pajak properti dan aktivitas ekonomi pusat kota.
Bloomberg mencatat bahwa tren ini tidak unik bagi Dallas. Sejumlah perusahaan besar di AS memilih memindahkan kantor pusat atau operasi utama ke pinggiran kota, di mana biaya lebih rendah, lahan lebih luas, dan desain kantor dapat disesuaikan dengan model kerja fleksibel. Namun, bagi kota-kota yang selama puluhan tahun membangun identitas dan pendapatan dari distrik bisnis pusat, pergeseran ini terasa jauh lebih menyakitkan.
Bagi pemerintah kota Dallas, keputusan AT&T mempertegas urgensi untuk memikirkan ulang masa depan downtown. Sejumlah kota di AS mulai mendorong konversi gedung kantor menjadi hunian, hotel, atau fungsi campuran untuk menghidupkan kembali pusat kota. Namun proses ini mahal, kompleks, dan tidak selalu ekonomis, terutama untuk gedung tua yang tidak dirancang sebagai tempat tinggal.
Reuters melaporkan bahwa para analis properti melihat eksodus korporasi sebagai bagian dari penyesuaian jangka panjang, bukan siklus sementara. Selama perusahaan dapat mempertahankan produktivitas dengan model kerja hibrida, insentif untuk kembali ke pusat kota dalam skala besar dinilai kecil. Dalam konteks ini, kehadiran simbolik kantor pusat tidak lagi sejalan dengan efisiensi operasional.
Bagi AT&T sendiri, perpindahan ini mencerminkan transformasi internal yang lebih luas. Perusahaan tengah menata ulang struktur bisnisnya, memfokuskan investasi pada jaringan dan layanan inti, serta menyesuaikan budaya kerja dengan ekspektasi tenaga kerja modern. Lokasi kantor pusat menjadi bagian dari strategi tersebut, bukan tujuan pada dirinya sendiri.
Kepergian AT&T dari pusat kota Dallas pada akhirnya menjadi cermin perubahan lanskap korporasi Amerika. Pusat bisnis yang dulu menjadi jantung ekonomi kini dipaksa beradaptasi dengan realitas baru. Sementara perusahaan bergerak mencari efisiensi dan fleksibilitas, kota-kota harus menemukan cara baru untuk menjaga pusatnya tetap relevan di era kerja yang tidak lagi terikat pada satu alamat.

