(Business Lounge – Operation Management) Salah satu tantangan terbesar dalam manajemen persediaan modern adalah menghadapi keragaman permintaan pelanggan tanpa membiarkan gudang dipenuhi barang yang tidak terjual. Pelanggan menginginkan pilihan yang luas, variasi produk yang beragam, dan respons yang cepat. Di sisi lain, perusahaan ingin menekan biaya, mengurangi risiko penumpukan stok, dan menjaga arus kas tetap sehat. Di titik inilah strategi commonality dan postponement menjadi alat penting dalam manajemen operasi.
Pada pandangan pertama, menyediakan banyak variasi produk seolah mengharuskan perusahaan menyimpan banyak jenis persediaan. Setiap warna, ukuran, atau fitur tambahan tampak membutuhkan stok tersendiri. Namun pendekatan ini cepat menjadi mahal dan berisiko. Semakin banyak variasi, semakin besar kemungkinan sebagian stok tidak bergerak. Strategi commonality hadir untuk mematahkan asumsi tersebut dengan cara menyatukan komponen atau proses sejauh mungkin sebelum produk benar-benar dibedakan.
Commonality pada dasarnya berarti menggunakan komponen, bahan, atau subproses yang sama untuk berbagai produk. Alih-alih merancang setiap produk sebagai entitas yang sepenuhnya berbeda, perusahaan mencari bagian-bagian yang bisa diseragamkan. Dengan begitu, satu jenis komponen dapat melayani banyak variasi produk. Strategi ini memungkinkan perusahaan mengurangi jumlah item persediaan tanpa mengorbankan keragaman yang ditawarkan ke pelanggan.
Contoh sederhana dapat ditemukan dalam industri elektronik. Banyak produsen menggunakan motherboard atau rangka dasar yang sama untuk berbagai model produk, lalu membedakannya pada tahap akhir melalui memori, warna casing, atau perangkat lunak. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak perlu menyimpan stok terpisah untuk setiap model sejak awal. Mereka cukup menyimpan komponen umum dalam jumlah besar dan mengonfigurasi produk sesuai permintaan.
Manfaat utama commonality adalah pengurangan risiko. Ketika permintaan suatu varian produk lebih rendah dari perkiraan, komponen umum masih bisa digunakan untuk varian lain. Persediaan tidak terkunci pada satu produk tertentu. Ini memberikan fleksibilitas besar dalam menghadapi ketidakpastian pasar. Selain itu, pembelian komponen dalam jumlah besar biasanya menurunkan biaya per unit, sehingga efisiensi biaya ikut meningkat.
Namun commonality bukan hanya soal desain produk. Ia juga menyentuh proses dan organisasi. Perusahaan perlu berpikir lintas fungsi, melibatkan tim desain, produksi, pembelian, dan pemasaran. Keputusan untuk menyeragamkan komponen sering kali menuntut kompromi. Desainer mungkin harus mengurangi keunikan visual, sementara pemasaran harus memastikan bahwa pelanggan tetap merasakan perbedaan yang bermakna. Keberhasilan commonality terletak pada kemampuan perusahaan menyeimbangkan efisiensi internal dengan nilai yang dirasakan pelanggan.
Jika commonality berbicara tentang kesamaan, maka postponement berbicara tentang waktu. Strategi postponement menunda diferensiasi produk hingga sedekat mungkin dengan momen permintaan pelanggan. Alih-alih menyelesaikan produk sepenuhnya sejak awal, perusahaan menahan beberapa langkah akhir hingga pesanan benar-benar diterima. Dengan cara ini, perusahaan menghindari memproduksi variasi yang belum tentu diminta pasar.
Postponement sangat efektif dalam lingkungan dengan permintaan yang sulit diprediksi. Produk diproduksi dalam bentuk standar terlebih dahulu, lalu disesuaikan di tahap akhir. Contohnya dapat dilihat pada industri pakaian, di mana kain diproduksi dan dipotong terlebih dahulu, tetapi pewarnaan atau detail akhir dilakukan setelah tren pasar lebih jelas. Dalam industri komputer, perangkat keras diproduksi dalam konfigurasi dasar, sementara perangkat lunak atau bahasa sistem dipasang sesuai pesanan pelanggan.
Strategi ini memberikan dua keuntungan sekaligus. Pertama, perusahaan mengurangi jumlah barang jadi yang harus disimpan. Kedua, akurasi pemenuhan permintaan meningkat karena keputusan diferensiasi dibuat berdasarkan informasi yang lebih aktual. Postponement memungkinkan perusahaan memanfaatkan keunggulan forecast jangka pendek yang biasanya lebih akurat daripada prediksi jangka panjang.
Namun postponement tidak gratis. Menunda diferensiasi membutuhkan proses yang fleksibel, tenaga kerja terampil, dan sistem logistik yang responsif. Jika tahap akhir produksi terlalu lambat, pelanggan harus menunggu lebih lama. Karena itu, perusahaan harus merancang proses sedemikian rupa agar penyesuaian akhir dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Postponement yang baik selalu disertai dengan investasi pada kecepatan dan koordinasi.
Kekuatan terbesar muncul ketika commonality dan postponement digunakan bersama. Commonality mengurangi jumlah komponen yang harus disimpan, sementara postponement mengurangi jumlah produk jadi yang harus diprediksi. Kombinasi ini menciptakan sistem persediaan yang ramping tetapi fleksibel. Perusahaan menyimpan persediaan dalam bentuk yang paling serbaguna dan baru mengikatnya pada permintaan spesifik ketika informasi sudah lebih jelas.
Pendekatan ini juga berdampak positif pada rantai pasok. Dengan komponen yang lebih seragam, pemasok dapat memproduksi dalam volume lebih besar dan stabil. Variabilitas permintaan berpindah dari tahap awal rantai pasok ke tahap akhir, di mana perusahaan memiliki kontrol lebih besar. Ini membantu mengurangi efek bullwhip, yaitu pembesaran fluktuasi permintaan sepanjang rantai pasok.
Dari sudut pandang pelanggan, strategi ini sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya terasa. Produk lebih tersedia, variasi tetap luas, dan risiko kehabisan stok menurun. Dalam banyak kasus, pelanggan bahkan menikmati produk yang lebih sesuai dengan preferensi mereka karena penyesuaian dilakukan lebih dekat ke waktu pembelian.
Namun penting untuk disadari bahwa tidak semua produk cocok untuk commonality dan postponement. Produk dengan proses produksi yang sangat kaku atau dengan biaya penyesuaian tinggi mungkin sulit ditunda diferensiasinya. Demikian pula, produk yang nilai utamanya terletak pada keunikan desain ekstrem mungkin memiliki ruang terbatas untuk commonality. Karena itu, perusahaan harus mengevaluasi karakter produknya sebelum menerapkan strategi ini secara luas.
Implementasi strategi ini juga menuntut perubahan cara berpikir. Perusahaan harus berhenti melihat persediaan sebagai kumpulan produk jadi, dan mulai melihatnya sebagai potensi nilai yang bisa dibentuk sesuai kebutuhan pelanggan. Ini adalah pergeseran dari pola pikir produksi massal menuju sistem yang lebih adaptif dan berbasis informasi.
Dalam praktiknya, banyak organisasi memulai dengan langkah kecil. Mereka mengidentifikasi beberapa komponen yang paling banyak digunakan dan mencoba menyeragamkannya. Atau mereka menunda satu langkah diferensiasi yang sebelumnya dilakukan terlalu awal. Dari sana, manfaat mulai terlihat: persediaan menurun, fleksibilitas meningkat, dan risiko berkurang. Keberhasilan awal ini sering mendorong perusahaan untuk memperluas penerapan strategi ke area lain.
Commonality dan postponement bukan sekadar teknik pengelolaan persediaan. Keduanya adalah filosofi operasi yang mengakui ketidakpastian sebagai kenyataan bisnis. Alih-alih melawan ketidakpastian dengan menumpuk stok, perusahaan menghadapinya dengan fleksibilitas dan kecerdasan desain. Mereka memilih untuk menunda komitmen hingga informasi lebih jelas, dan menyatukan apa yang bisa disatukan untuk mengurangi risiko.
Tujuan organisasi adalah menciptakan sistem yang mampu memenuhi permintaan pelanggan secara konsisten sambil menggunakan sumber daya seefisien mungkin. Dengan strategi commonality dan postponement, perusahaan mendekati tujuan itu bukan dengan menambah persediaan, melainkan dengan mengelolanya secara lebih cerdas. Inilah inti dari manajemen operasi modern: bukan sekadar bekerja lebih keras, tetapi bekerja dengan cara yang lebih bijak.

