(Business Lounge Journal – General Management)
Dalam dunia bisnis yang bergerak cepat, satu pertanyaan strategis selalu muncul: kapan waktu yang tepat untuk merombak model bisnis? Melakukan perubahan terlalu cepat—atau terlalu lambat—dapat menghancurkan nilai perusahaan. Sejarah bisnis dipenuhi contoh perusahaan besar yang terlambat beradaptasi: Blockbuster, Kmart, dan BlackBerry adalah sebagian dari nama besar yang kalah oleh kompetitor yang lebih lincah.
Namun, ada pula perusahaan yang justru bergerak terlalu dini. Iridium, misalnya, menghabiskan US$5 miliar untuk membangun layanan komunikasi satelit pada akhir 1990-an—bertahun-tahun sebelum pasar siap. Teknologinya terlalu mahal dan tidak praktis untuk masyarakat umum. Perusahaan itu bangkrut pada 1999, meskipun di masa kini model bisnis satelit justru menjadi sangat menguntungkan.
Riset PwC menunjukkan bahwa hanya 58% perusahaan yang merasa telah mengubah model bisnis pada waktu yang tepat. Sisanya mengakui bahwa mereka melakukannya terlalu awal atau terlalu lambat. Kabar baiknya: kesalahan timing tidak menghapus peluang. Pasar selalu bergerak. Perusahaan yang tersandung hari ini bisa bangkit, sebagaimana Walmart dan Iridium yang kembali relevan setelah masa kelam mereka.
Karena itulah, kelincahan strategi menjadi kompetensi yang sangat penting. Tantangannya adalah bagaimana perusahaan dapat membaca tekanan atau sinyal yang menunjukkan bahwa waktunya untuk bertransformasi sudah dekat.
Memperkenalkan BMR Pressure Index
PwC mengembangkan BMR Pressure Index—seperangkat enam indikator yang dapat menjadi alarm dini bagi perusahaan untuk mulai memikirkan reinventing business model.
Indikator ini mencakup:
- Kinerja industri
Penurunan pengembalian modal mendorong perusahaan mencari cara bertahan. Ketika industri menunjukkan tren menurun, tekanan untuk bertransformasi meningkat. - Attractiveness / Daya tarik industri
Jumlah pemain baru yang masuk ke industri menandakan adanya peluang baru—dan tekanan bagi pemain lama untuk merespons. - Inovasi
Tingginya aliran investasi venture capital ke suatu industri menandakan munculnya teknologi baru yang berpotensi menggeser pemain lama. - Guncangan eksternal
Resesi sektor, krisis global, atau kejadian besar lain memaksa perusahaan meninjau ulang model bisnis. - Regulasi
Perubahan kebijakan dapat mengubah peta nilai. Industri yang sering mengalami perubahan regulasi biasanya lebih cepat terdorong untuk beradaptasi. - Intensitas perubahan model bisnis
Perubahan signifikan dalam pergeseran pangsa pasar antar pemain menunjukkan bahwa sebuah sektor sedang mengalami reinventing business model secara masif.
Ketika keenam indikator ini bergerak naik bersamaan, itu menjadi tanda kuat bahwa sebuah industri sedang mendekati masa transformasi besar.
Belajar dari Retail AS: Dari Sears ke Amazon
Sejarah retail AS memberi gambaran nyata tentang pentingnya timing. Sejak 1990-an, ada tiga era besar reinventing business model:
- Big-Box Era
Walmart memimpin era ini dengan model toko besar, efisiensi rantai pasok, dan adopsi teknologi scanning. Kmart dan Sears gagal mengikuti dan kehilangan pangsa pasar. - Dot-com Era
Amazon muncul sebagai pemain digital yang agresif. Retailer tradisional terlambat memahami potensi e-commerce. Walmart masih mampu mengejar; Sears dan Kmart tenggelam. - Omnichannel & Online-First Era
Di era omnichannel hingga pandemi, Amazon makin dominan dengan inovasi layanan dan ekosistem digital. Walmart mengejar, tetapi nilainya tumbuh lebih lambat karena masuk terlalu lambat.
Dari kasus ini, satu pelajaran besar muncul: ketepatan timing sama pentingnya dengan strategi itu sendiri.
Ketika Inovasi Berhasil: Kisah Dua Perusahaan Asuransi
Sektor asuransi AS memberi contoh lain tentang bagaimana timing menentukan pemenang.
-
Perusahaan A terlalu lama bertahan dengan model lama dan justru terdistraksi oleh diversifikasi yang salah arah menjelang krisis 2008. Akibatnya, perusahaan ini kehilangan 80% dari nilai pasarnya.
-
Perusahaan B mulai berinvestasi dalam digitalisasi sejak akhir 1990-an. Mereka mengadopsi machine learning, analitik risiko, dan layanan online sejak awal. Hasilnya, nilai pasarnya melonjak 14 kali lipat.
Keduanya berada di industri yang sama, menghadapi risiko dan peluang yang sama, namun mencatat nasib berbeda karena perbedaan timing.
Bagaimana Perusahaan Bisa Mengambil Timing yang Tepat?
- Monitor tren dan sinyal pasar
Perubahan preferensi pelanggan, teknologi baru, dinamika kompetitor, hingga megatrends global harus dipantau secara sistematis. - Lakukan eksperimen terukur
Strategi modern tidak lagi bersifat linear. Perusahaan perlu mencoba pendekatan small bets—eksperimen kecil berbasis data sebelum melakukan transformasi besar. - Tentukan “arena” pertumbuhan baru
Alih-alih terpaku pada batasan industri lama, perusahaan perlu melihat peluang lintas-sektor berdasarkan kebutuhan pelanggan yang sedang berkembang. - Perkuat kepemimpinan dan budaya perubahan
Transformasi tidak mungkin berhasil tanpa leadership yang mampu melihat tren, bertindak cepat, dan menggerakkan organisasi. - Siapkan organisasi untuk reinventing business model
Beberapa langkah tanpa penyesalan (no-regret moves):
- Mengurangi aktivitas yang tidak produktif (“organizational sludge”).
- Menurunkan technical debt dengan memperbarui sistem lama.
- Meningkatkan kualitas pengambilan keputusan berbasis data.
Waktu adalah Elemen Kritis
Seperti yang dikatakan George C. Scott dalam Patton: All glory is fleeting. Model bisnis pun demikian. Perusahaan besar bisa runtuh jika gagal membaca perubahan, sementara yang lincah dapat melompat jauh lebih cepat.
Reinventing business model bukan hanya soal memilih strategi terbaik—tetapi juga melakukannya pada waktu yang tepat. Perusahaan yang mampu membaca sinyal, bergerak tepat waktu, dan mengeksekusi transformasi dengan disiplin akan menjadi pemenang era berikutnya.

