(Business Lounge Journal – Human Resources)
Pernahkah Anda meninggalkan pekerjaan dengan baik-baik, lalu kemudian Anda dipanggil kembali oleh mantan atasan Anda? Biasanya, tawaran itu datang dengan janji posisi yang lebih baik, gaji lebih tinggi, atau fleksibilitas yang lebih besar. Namun, belakangan ini, tren baru yang mengkhawatirkan muncul di berbagai industri. Banyak perusahaan, mulai dari teknologi hingga pendidikan, kini menawarkan kembali pekerjaan kepada mantan staf mereka, tetapi dengan gaji yang dipotong, tunjangan yang dihapus, dan jabatan yang diturunkan. Fenomena ini dijuluki ‘tawaran bumerang’ (boomerang offers) dengan syarat yang lebih buruk.
Ada beberapa faktor utama yang mendorong tren ini:
- Pemotongan Anggaran
- Bagi banyak perusahaan, memanggil kembali mantan karyawan adalah cara cepat dan murah untuk mengisi kekosongan posisi.
- Chris Mitchell, pendiri Intelus, menyebut tawaran bumerang yang rendah sering kali adalah “cerita anggaran, bukan cerita bakat.”
- Tekanan untuk menunjukkan penghematan membuat perusahaan lebih memilih membuka kembali posisi yang sudah dikenal dengan biaya lebih rendah.
- Dampak AI Generatif
- Amanda Augustine, pelatih karier di TopResume, menyoroti bahwa perusahaan kini semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk menangani tugas rutin.
- Dengan begitu, mereka hanya membutuhkan mantan karyawan untuk mengerjakan bagian yang benar-benar kreatif — seringkali dengan kompensasi lebih rendah dibanding sebelumnya.
- “Resesi Kerah Putih”
- Augustine juga menghubungkan tren ini dengan fenomena white-collar recession, yaitu tekanan finansial yang dialami para profesional di bidang penulisan, desain, hingga pemasaran.
- Dalam kondisi pasar kerja yang ketat, banyak pekerja mungkin merasa terdesak sehingga lebih bersedia menerima tawaran yang kurang ideal.
- Keterbatasan Pasar Tenaga Kerja
- Dengan persaingan yang tinggi untuk talenta spesialis, perusahaan membutuhkan kandidat yang cepat beradaptasi.
- Mantan karyawan sudah memahami budaya, sistem, dan proses perusahaan, sehingga masa onboarding lebih singkat.
- Pengalaman dan Nilai Tambah dari Luar (Elevatus.io)
- Karyawan yang kembali biasanya membawa keahlian, wawasan, dan perspektif baru dari pengalaman di perusahaan lain.
- Hal ini membuat mereka lebih matang dan mampu mengisi celah yang sebelumnya belum ada.
- Stabilitas & Penghindaran Risiko
- Bagi karyawan, kembali ke tempat yang familiar memberi rasa aman di tengah ketidakpastian.
- Bagi perusahaan, boomerang offers bisa mengurangi risiko sekaligus menekan biaya rekrutmen dibanding mencari orang baru.
- Hubungan & Budaya Kerja
- Jika mantan karyawan meninggalkan perusahaan dengan hubungan baik, peluang untuk kembali terbuka lebih lebar.
- Perusahaan yang menjaga door open policy dan membangun jaringan alumni biasanya lebih berhasil menarik kembali talenta lama.
Tren Boomerang di Indonesia
Fenomena boomerang employees ternyata bukan hanya tren global, tetapi juga mulai terlihat di Indonesia. Survei Robert Walters pada 2023 menunjukkan bahwa sekitar 73% pekerja Indonesia terbuka untuk kembali ke perusahaan lama bila ada kesempatan. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa 70% perusahaan yang tengah melakukan rekrutmen siap mempertimbangkan mantan karyawan untuk dipekerjakan kembali.
Alasan pekerja keluar dari perusahaan sebelumnya umumnya berkaitan dengan gaji dan tunjangan, kesempatan pengembangan karir, budaya perusahaan, hingga fleksibilitas kerja. Jika faktor-faktor ini membaik, peluang mereka untuk kembali akan jauh lebih besar.
Salah satu contoh nyata datang dari PT Delta Djakarta, yang menerapkan model boomerang employees sebagai bagian dari strategi sumber daya manusia. Penelitian yang dipublikasikan di Journal Nusantara menemukan bahwa perusahaan ini melihat perekrutan mantan karyawan sebagai solusi efektif untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja. Mantan karyawan dianggap lebih cepat beradaptasi karena sudah memahami kultur dan proses internal perusahaan.
Meski begitu, ada beberapa catatan penting. Walaupun banyak pekerja tidak menutup pintu untuk kembali, kesempatan tersebut tidak selalu tersedia secara luas. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja jarang secara proaktif menghubungi perusahaan lama mereka untuk mencari peluang kembali. Dari sisi perusahaan, keberhasilan strategi boomerang offers juga sangat bergantung pada adanya perubahan nyata: entah dalam bentuk posisi yang lebih relevan, gaji dan benefit yang lebih kompetitif, fleksibilitas kerja, maupun struktur kepemimpinan yang lebih sehat.
Dengan kata lain, boomerang offers di Indonesia sudah mulai menjadi bagian dari strategi rekrutmen modern, namun efektivitasnya sangat ditentukan oleh kesesuaian kebutuhan, perubahan kondisi, dan kualitas hubungan antara perusahaan dengan mantan karyawannya.
Namun bagaimana bila Anda menerima tawaran bumerang namun dengan tawaran gaji yang lebih rendah?
- Evaluasi Tawaran dengan Objektif: Jangan langsung menerima tawaran karena nostalgia atau perasaan terikat pada perusahaan lama. Pertimbangkan tawaran itu berdasarkan manfaatnya sendiri.
- Lakukan Riset Gaji: Cari tahu berapa gaji terkini untuk posisi yang ditawarkan. Jangan hanya mengandalkan angka gaji lama Anda. Pasar dan standar industri bisa saja telah berubah.
- Pertimbangkan Peran Kontrak: Jika tawaran itu adalah peran kontrak, pikirkan apakah itu bisa menjadi “jembatan” atau batu loncatan menuju pekerjaan jangka panjang, baik di perusahaan lama maupun di tempat lain.
- Negosiasi dengan Spesifik: Jika Anda memutuskan untuk bernegosiasi, pastikan untuk mendetailkan ruang lingkup pekerjaan, jumlah revisi, format, dan persyaratan lainnya. Jangan hanya bernegosiasi berdasarkan gaji, tetapi juga “berdasarkan cakupan pekerjaan, bukan nostalgia,” seperti yang disarankan Mitchell.
Namun dapat dikatakan bahwa banyak pekerja hanya mau kembali kalau ada kenaikan gaji/benefit. Artinya, perusahaan yang sekadar menawarkan gaji lebih rendah mungkin sulit berhasil kecuali kondisi pasar tenaga kerja sangat ketat. Beberapa alasan mengapa perusahaan menawarkan gaji lebih besar: Karyawan tersebut memiliki keahlian spesialis, Value baru dari pengalaman luar – mantan karyawan yang kembali dengan keterampilan baru, sertifikasi, atau pengalaman berbeda kadang bisa menegosiasikan posisi lebih senior. Seperti telah dibahas di atas menurut survei Robert Walters (2023), 73% pekerja Indonesia bersedia kembali, tapi faktor utama yang membuat mereka mau adalah gaji & benefit yang lebih baik. Jadi, perusahaan yang ingin menarik talenta lama biasanya harus meningkatkan paket kompensasi agar lebih kompetitif.
Bagaimana Perusahaan & Karyawan Bisa Memanfaatkan dengan Baik
Untuk Perusahaan:
- Jaga hubungan baik dengan mantan karyawan (maintain alumni network).
- Pastikan exit interview dilakukan secara tulus dan terbuka — yang bisa mengidentifikasi alasan keluar dan potensi apakah mereka ingin kembali.
- Saat menawarkan kembali, jelaskan perubahan yang terjadi selama mereka keluar, manfaat apa yang mereka bawa, dan kejelasan mengenai posisi & kompensasi.
- Pastikan integrasi kembali lancar: briefing terhadap perubahan struktur kerja, pembaharuan sistem, dan adaptasi ke tim yang mungkin berubah.
Untuk Karyawan:
- Bila mempertimbangkan kembali, evaluasi tawaran secara objektif: apa yang sudah berubah di perusahaan, apakah ekspektasi dan kondisi sekarang sesuai keinginan & kebutuhanmu.
- Tunjukkan nilai baru yang kamu bawa setelah keluar (skill baru, pengalaman, jaringan, perspektif berbeda).
- Negosiasikan posisi & kompensasi jika perlu — jangan langsung terima karena nostalgia atau kenyamanan.
Fenomena boomerang offers menghadirkan peluang sekaligus dilema, baik bagi perusahaan maupun bagi pekerja. Di satu sisi, perusahaan dapat menghemat biaya rekrutmen dan memperoleh talenta yang sudah memahami budaya organisasi. Di sisi lain, pekerja bisa kembali ke lingkungan yang familiar dengan peluang karier baru. Namun, jika tawaran datang dengan syarat yang lebih buruk, risikonya justru lebih besar: menurunkan motivasi, memicu ketidakpuasan, dan bahkan merusak reputasi perusahaan.
Pada akhirnya, kunci keberhasilan strategi boomerang offers terletak pada kejujuran dan nilai tambah yang nyata. Perusahaan perlu memastikan bahwa tawaran yang diberikan relevan dan kompetitif, sementara karyawan harus berani mengevaluasi secara objektif sebelum mengambil keputusan. Jika kedua belah pihak mampu menjaga keseimbangan ini, boomerang offers bisa menjadi strategi win–win, bukan sekadar jalan pintas yang merugikan salah satu pihak.

