(Business Lounge – Global News) Gap Inc., perusahaan ritel fesyen yang berbasis di San Francisco, memperingatkan bahwa mereka akan menghadapi tantangan yang lebih besar dari kebijakan tarif pada tahun fiskal ini. Manajemen Gap menegaskan bahwa perubahan kebijakan perdagangan terbaru berpotensi menambah beban biaya yang signifikan, terutama karena sebagian besar produk perusahaan masih diproduksi di luar negeri. Namun, mereka juga menyampaikan keyakinan bahwa strategi jangka menengah dan panjang akan mampu meredam dampak tersebut, meskipun dalam jangka pendek tekanan biaya tidak dapat dihindari.
Bagi industri fesyen global, tarif impor selalu menjadi momok yang dapat mengguncang rantai pasok. Perusahaan seperti Gap, yang masih mengandalkan produksi di negara-negara Asia termasuk Vietnam, Bangladesh, dan Tiongkok, sangat rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan. Setiap kenaikan tarif berarti kenaikan biaya yang bisa menekan margin keuntungan, dan bila tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut bisa berimbas langsung pada harga jual di pasar. Dengan kompetisi ketat dari merek fesyen cepat seperti H&M dan Zara, pilihan untuk menaikkan harga sering kali berisiko karena konsumen bisa dengan cepat beralih ke alternatif lain.
Gap menyadari posisi ini dan menekankan bahwa mereka akan berusaha menjaga harga tetap kompetitif. Salah satu cara yang tengah digali adalah diversifikasi rantai pasok. Perusahaan dapat memperluas basis produksinya ke negara-negara dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah atau dengan akses perdagangan yang lebih menguntungkan, seperti India, Indonesia, atau beberapa negara Afrika yang mulai berkembang sebagai basis manufaktur tekstil. Dengan memecah ketergantungan pada satu atau dua negara besar, Gap berharap bisa menurunkan risiko konsentrasi biaya dan sekaligus memperkuat fleksibilitas logistiknya.
Selain itu, Gap menekankan pentingnya efisiensi dalam distribusi dan logistik. Dengan mengoptimalkan jalur distribusi serta memanfaatkan teknologi untuk pelacakan dan manajemen inventaris, perusahaan berharap dapat menekan biaya operasional yang semakin tinggi. Langkah-langkah ini sudah menjadi tren di banyak perusahaan ritel global. Sebagai contoh, H&M dalam beberapa tahun terakhir gencar mengadopsi sistem digital untuk mempercepat distribusi, sementara Uniqlo menanamkan investasi besar dalam robotika gudang untuk menekan biaya jangka panjang.
Meski tantangan biaya terasa nyata, Gap tetap melihat peluang dalam tren konsumen yang tengah berubah. Perusahaan menyoroti meningkatnya permintaan pada lini produk kasual yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat pasca-pandemi. Banyak konsumen kini lebih mengutamakan pakaian yang fungsional, nyaman, dan bisa dipakai untuk berbagai aktivitas. Hal ini memberikan momentum bagi Gap, yang selama ini dikenal dengan koleksi basic wear dan gaya kasualnya. Jika tren ini terus berlanjut, Gap memiliki peluang untuk memulihkan pertumbuhan penjualan meski dihantam tekanan tarif.
Strategi digital juga menjadi salah satu kunci mitigasi. Gap sudah meningkatkan investasi dalam kanal e-commerce, termasuk memperkuat integrasi antara toko fisik dan platform daring. Dengan model belanja yang semakin omnichannel, konsumen bisa bertransaksi lebih fleksibel, sementara Gap mendapatkan keuntungan berupa data konsumen yang lebih lengkap. Data ini bisa digunakan untuk menganalisis preferensi pembelian dan merumuskan strategi harga yang lebih adaptif. Dalam situasi di mana biaya naik karena tarif, kemampuan menyesuaikan harga tanpa mengorbankan loyalitas konsumen bisa menjadi faktor penentu.
Namun, tekanan dari kebijakan perdagangan tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika tarif terus meningkat, Gap mungkin harus mengambil keputusan sulit, seperti mengorbankan margin keuntungan untuk menjaga harga tetap stabil atau menyesuaikan harga dengan risiko kehilangan konsumen. Keputusan ini akan sangat menentukan daya saing Gap di pasar Amerika Utara, yang saat ini sudah penuh sesak dengan merek lokal maupun internasional.
Perbandingan dengan pemain lain juga memperlihatkan bagaimana tekanan tarif bisa menjadi faktor pendorong transformasi. H&M, misalnya, sudah lebih dulu memindahkan sebagian besar produksinya ke luar Tiongkok untuk mengurangi risiko tarif. Uniqlo, dengan dukungan induknya Fast Retailing, melakukan strategi serupa sambil memperkuat basis produksi di Asia Tenggara. Jika Gap ingin tetap relevan, langkah diversifikasi rantai pasok dan inovasi produk harus dipercepat agar perusahaan tidak tertinggal.
Meski demikian, tantangan ini juga bisa menjadi momentum bagi Gap untuk membuktikan ketahanannya. Dengan sejarah panjang sebagai salah satu merek fesyen ikonik Amerika, Gap memiliki modal brand equity yang kuat. Jika strategi mitigasi risiko dijalankan konsisten, perusahaan berpeluang menjaga stabilitas kinerja keuangan meskipun diterpa gejolak eksternal. Intinya, daya saing jangka panjang Gap tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar mereka mampu menahan tekanan tarif, tetapi juga oleh seberapa cepat mereka beradaptasi dengan perubahan lanskap global dan kebutuhan konsumen yang terus berkembang.
Dengan memadukan strategi diversifikasi pasok, penguatan kanal digital, inovasi produk, serta pengelolaan biaya yang ketat, Gap tampaknya sedang menyiapkan diri menghadapi tahun fiskal yang penuh tantangan. Walaupun tarif perdagangan memberi tekanan nyata, kemampuan bertransformasi dan berinovasi bisa menjadi kunci agar perusahaan tetap bertahan, bahkan mungkin tumbuh lebih kuat di masa depan.