YouTube Kalahkan Netflix, Spotify, dan Semua Kompetitor: Era Baru Televisi Sudah Tiba

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Di tengah pertarungan panjang yang dikenal sebagai streaming wars, pemenangnya ternyata bukan Netflix, Disney+, atau raksasa hiburan lain yang menghabiskan miliaran dolar untuk memproduksi konten eksklusif. Pemenangnya adalah YouTube—dan menariknya, platform ini seolah tidak pernah benar-benar ikut bertarung.

Menurut data Nielsen, YouTube kini meraih 12,5% dari seluruh waktu menonton televisi di Amerika Serikat, melampaui gabungan Netflix dan Disney+. Untuk pertama kalinya, streaming resmi mengungguli televisi kabel dan siaran. Sementara para pesaing sibuk membangun kerajaan dengan strategi mahal, YouTube secara senyap menciptakan imperium hiburan berbasis video buatan pengguna, podcast, hingga konten ringan yang mengubah definisi televisi itu sendiri.

Dari Hollywood ke Ruang Tamu: Perubahan Lanskap Hiburan

Dominasi YouTube kian nyata ketika Hollywood mulai mengakuinya. Serikat penulis ternama Amerika, Writers Guild of America (WGA), kini melirik kreator YouTube dan produsen video vertikal sebagai target organisasi baru. Fenomena ini mencerminkan kenyataan bahwa dunia kerja hiburan bergerak menjauh dari studio tradisional menuju ekosistem kreator independen.

Data menunjukkan, 49% video YouTube berdurasi 11 menit atau lebih, dengan 60% sesi menonton di TV berlangsung setidaknya 30 menit. Bahkan penonton berusia 55 tahun ke atas mendominasi tiga perempat konsumsi YouTube di televisi. Tidak berhenti di video, 31% pendengar podcast lebih memilih YouTube dibanding Spotify (27%) dan Apple Podcast (15%). Tak heran, format podcast kini bergeser ke video agar bisa bersaing di ekosistem ini.

Strategi Tanpa Strategi: Kekuatan Crowdsourcing

Keunggulan YouTube semakin menonjol ketika dibandingkan dengan pengeluaran besar-besaran Netflix dan Disney. Netflix, misalnya, diproyeksikan membakar USD 18 miliar untuk konten di 2025, sementara Disney bahkan merombak struktur bisnisnya demi streaming. Sebaliknya, YouTube “hanya” mengandalkan konten buatan 65,3 juta kreator global, dengan 500 jam video baru diunggah setiap menitnya. Jika dikalkulasi, setara dengan lebih dari 100 tahun konten baru setiap hari.

Model ini tidak hanya menghasilkan skala, tapi juga pendapatan. Pada 2024, YouTube meraup lebih dari USD 36 miliar dari iklan, ditambah 100 juta pelanggan YouTube Music dan Premium. Pendapatan berlapis ini memberi kestabilan yang sulit ditandingi media tradisional.

Dari Studio Mahal ke Kreator Mandiri

Meskipun YouTube pernah mencoba peruntungan lewat program orisinal seperti Cobra Kai (yang akhirnya pindah ke Netflix), strategi tersebut dihentikan pada 2022. Alih-alih bersaing dengan Hollywood, YouTube menggandakan fokus pada pemberdayaan kreator. Hasilnya, lahirlah produksi “studio mandiri” dengan biaya rendah namun jangkauan masif.

Contohnya, acara Alan’s Universe mampu menarik puluhan juta penonton per episode dengan biaya sekitar USD 120 ribu—jumlah yang sangat kecil dibandingkan produksi serial streaming pada umumnya. Kualitasnya mungkin belum setara pemenang Emmy, tetapi jelas merebut audiens yang semakin meninggalkan TV tradisional.

Revolusi Televisi yang Tak Terhindarkan

Lebih dari sekadar dominasi pasar, YouTube telah menciptakan ekonomi kreator yang melahirkan industri turunan: jaringan podcast, bisnis merchandise, hingga kolaborasi lintas platform. Semua berbasis pada hubungan langsung antara kreator dan audiens, tanpa perantara studio besar.

Perang streaming awalnya dijanjikan sebagai upaya memberi lebih banyak pilihan kepada penonton. Namun realitasnya, yang keluar sebagai pemenang justru platform yang memberikan pilihan tak terbatas dengan algoritma yang membantu navigasi. Dan pada akhirnya, ketika semua orang bisa menjadi penyiar, pemenang sejati adalah platform yang membuat proses itu paling mudah.