Target Corp.

Target Cari Pemimpin Baru di Tengah Penjualan Lesu dan Moril Pegawai yang Menurun

(Business Lounge – Global News) Raksasa ritel Amerika Serikat, Target Corp., kini berada di tengah pergulatan internal yang cukup kompleks, memadukan tantangan bisnis dengan masalah budaya kerja. Menurut laporan The Wall Street Journal, dewan direksi perusahaan sedang mempercepat proses pencarian CEO baru untuk menggantikan Brian Cornell yang telah memimpin sejak 2014. Pencarian ini terjadi di saat perusahaan menghadapi penurunan penjualan yang berkelanjutan, meningkatnya persaingan, serta suasana kerja yang dinilai kian frustratif oleh sebagian karyawan.

Target, yang dulu dikenal sebagai salah satu pengecer paling inovatif dan konsisten di AS, kini harus berjuang mempertahankan daya tariknya di pasar yang berubah cepat. Penjualan kuartalan terakhir menunjukkan perlambatan signifikan, terutama pada segmen pakaian dan barang rumah tangga, dua kategori yang sebelumnya menjadi tulang punggung pertumbuhan. Beberapa analis yang dikutip Bloomberg menyebutkan bahwa konsumen kini semakin selektif dalam berbelanja, memilih merek atau pengecer yang menawarkan kombinasi harga kompetitif dan kenyamanan belanja, baik secara daring maupun di toko fisik.

Sejumlah sumber internal mengungkapkan bahwa atmosfer di dalam perusahaan saat ini penuh tekanan. Banyak karyawan, terutama di tingkat manajerial dan toko, merasa bahwa komunikasi dari pimpinan kurang transparan. Beberapa bahkan menilai keputusan strategis di tingkat eksekutif tidak sepenuhnya mempertimbangkan realitas operasional di lapangan. Reuters melaporkan bahwa keluhan pegawai tidak hanya terkait beban kerja yang meningkat, tetapi juga ketidakpastian arah perusahaan menjelang transisi kepemimpinan.

Brian Cornell, yang selama hampir satu dekade membawa Target melewati masa-masa penuh tantangan termasuk pandemi, dikenal dengan strategi fokus pada pembaruan toko, penguatan kanal e-commerce, dan kolaborasi eksklusif dengan merek-merek populer. Namun, sejumlah kebijakan belakangan ini, seperti pengurangan inventaris yang terlalu agresif dan kampanye pemasaran yang kurang efektif, memicu kritik dari investor dan analis. Cornell sendiri belum mengumumkan rencana spesifiknya setelah masa jabatannya berakhir, tetapi sumber CNBC menyebutkan bahwa ia akan tetap berperan memberi masukan strategis hingga transisi selesai.

Proses pencarian CEO baru dikabarkan melibatkan firma rekrutmen eksekutif ternama yang telah menjaring kandidat dari berbagai sektor, termasuk teknologi dan barang konsumsi cepat saji. Menurut laporan Financial Times, dewan Target menginginkan sosok yang tidak hanya mampu memulihkan kinerja penjualan, tetapi juga mengembalikan motivasi dan kepercayaan karyawan. Tantangan ini diperberat oleh fakta bahwa industri ritel sedang berada di bawah tekanan besar akibat inflasi, perubahan perilaku belanja konsumen, serta meningkatnya biaya operasional, terutama terkait tenaga kerja dan logistik.

Persaingan dari ritel daring seperti Amazon dan platform media sosial yang kini menjadi kanal penjualan besar juga menggerus pangsa pasar Target. Dalam wawancara dengan MarketWatch, seorang mantan eksekutif Target menyebut bahwa strategi pemasaran dan inovasi produk perusahaan dalam dua tahun terakhir kurang agresif dibandingkan kompetitornya. “Target perlu pemimpin yang mampu menggabungkan kecepatan inovasi dengan pemahaman mendalam tentang tren konsumen. Tanpa itu, perusahaan akan terus tertinggal,” ujarnya.

Di sisi internal, isu budaya kerja menjadi sorotan utama. Banyak karyawan mengeluhkan tekanan tinggi untuk memenuhi target penjualan di tengah penurunan jumlah pembeli. Beberapa pegawai toko mengatakan kepada Business Insider bahwa mereka kerap diminta lembur dengan sedikit fleksibilitas jadwal, sementara dukungan dari manajemen dianggap minim. Masalah ini, jika tidak ditangani, dapat memperburuk tingkat pergantian karyawan yang sudah tinggi di sektor ritel.

Pengamat industri berpendapat bahwa transisi kepemimpinan ini merupakan kesempatan emas bagi Target untuk merumuskan ulang strateginya. Harvard Business Review mencatat bahwa pergantian CEO di saat krisis dapat menjadi momentum perubahan jika disertai visi jangka panjang yang jelas. Untuk Target, ini bisa berarti memperkuat kembali identitas merek, mengoptimalkan integrasi antara kanal online dan offline, serta memanfaatkan data pelanggan untuk personalisasi pengalaman belanja.

Target juga menghadapi tekanan dari investor yang menginginkan efisiensi biaya lebih agresif. Namun, langkah pemangkasan biaya perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak semakin menggerus moral karyawan. Pengalaman perusahaan ritel lain menunjukkan bahwa penghematan yang berlebihan di area sumber daya manusia justru berisiko menurunkan kualitas layanan pelanggan, yang pada akhirnya memengaruhi penjualan.

Meskipun tantangannya besar, potensi kebangkitan Target tetap terbuka. Perusahaan masih memiliki basis pelanggan setia, portofolio produk yang luas, dan jaringan distribusi yang kuat di seluruh AS. Jika pemimpin baru mampu mengembalikan kepercayaan karyawan sekaligus mengadaptasi strategi bisnis terhadap realitas pasar saat ini, Target berpeluang kembali menjadi pemain dominan.

Proses pencarian CEO ini diperkirakan akan selesai dalam beberapa bulan ke depan. Hingga saat itu, semua mata akan tertuju pada bagaimana dewan dan manajemen puncak menavigasi masa transisi ini sambil berusaha mengembalikan semangat tim dan menjaga kinerja bisnis tetap stabil. Seperti diungkapkan seorang analis ritel kepada Bloomberg, “Target sedang berada di momen yang menentukan. Keputusan kepemimpinan yang diambil sekarang akan membentuk masa depan perusahaan selama satu dekade ke depan.”