rhabdomyolysis

Rhabdomyolysis dan Bahaya Latihan Fisik yang Terlalu Intens

(Business Lounge – Health) Dalam era kebugaran modern, semakin banyak orang terpacu untuk berolahraga dengan intensitas tinggi, mengejar target pribadi, atau mengikuti tren latihan yang menjanjikan hasil cepat. Namun, di balik semangat untuk mencapai tubuh ideal dan stamina prima, ada risiko yang sering terabaikan, kerusakan otot ekstrem yang dikenal sebagai rhabdomyolysis, atau sering disebut “rhabdo”. Kondisi ini terjadi ketika jaringan otot rusak begitu parah sehingga melepaskan protein beracun ke dalam aliran darah, yang dapat membebani ginjal hingga memicu kerusakan permanen, bahkan kematian.

Menurut laporan yang dibahas oleh The Wall Street Journal, rhabdo bukan hanya risiko bagi atlet profesional, tetapi juga bagi siapa saja yang mendadak melakukan latihan berat tanpa persiapan memadai. Gejalanya bisa terlihat jelas atau malah samar, mulai dari nyeri otot hebat, kelemahan ekstrem, pembengkakan, hingga warna urin yang menjadi gelap seperti teh. Inilah yang membuat rhabdo berbahaya—banyak orang menganggapnya sekadar pegal otot biasa pasca-latihan.

Para dokter olahraga yang dikutip Mayo Clinic menjelaskan bahwa penyebab utama rhabdo sering kali adalah latihan berlebihan yang memaksa otot bekerja di luar kapasitas adaptasinya. Aktivitas seperti angkat beban dengan volume sangat tinggi, lari maraton tanpa persiapan, atau kelas high-intensity interval training (HIIT) yang terlalu agresif dapat memicu kerusakan mikroskopis pada otot. Jika kerusakan ini terlalu luas, protein myoglobin yang dilepaskan akan mengalir ke ginjal, dan di situlah masalah serius dimulai.

Kasus rhabdo pernah mencuat di dunia kebugaran internasional ketika sejumlah peserta kelas spin cycling intens mengalami gejala hanya beberapa jam setelah sesi pertama mereka. New York Times menyoroti bahwa fenomena ini kerap terjadi pada individu yang merasa sehat dan bugar, tetapi tidak memperhitungkan adaptasi tubuh terhadap beban latihan baru. Hal ini menjadi peringatan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk membangun kekuatan dan ketahanan, dan bahwa kemauan saja tidak cukup untuk mencegah cedera.

Dokter darurat yang diwawancarai Cleveland Clinic menekankan bahwa penanganan rhabdo memerlukan intervensi cepat, biasanya dengan pemberian cairan intravena dalam jumlah besar untuk membantu membuang racun dari ginjal. Dalam kasus berat, pasien memerlukan perawatan intensif atau dialisis. Kunci utama untuk menghindari komplikasi adalah mengenali gejalanya sejak awal dan segera mencari pertolongan medis.

Pencegahan rhabdo, seperti yang disarankan oleh para pakar, dimulai dari kesadaran diri. American College of Sports Medicine menyarankan peningkatan intensitas latihan secara bertahap, menjaga hidrasi sebelum, selama, dan setelah olahraga, serta menghindari latihan ekstrem saat cuaca panas atau kondisi tubuh sedang kurang fit. Mereka juga mengingatkan bahwa tidak ada satu pun program latihan yang cocok untuk semua orang—pendekatan personal jauh lebih aman dibanding mengikuti pola latihan orang lain yang mungkin memiliki tingkat kebugaran berbeda.

Selain faktor fisik, ada pula faktor psikologis yang sering mendorong seseorang terlalu memaksakan diri. Psychology Today mencatat bahwa budaya “no pain, no gain” dan dorongan media sosial yang memuja hasil instan dapat membuat orang mengabaikan sinyal bahaya dari tubuhnya. Dalam jangka panjang, bukan hanya risiko rhabdo yang meningkat, tetapi juga kemungkinan cedera lain seperti robekan ligamen atau kerusakan sendi.

Rhabdo juga menjadi perhatian di kalangan militer, di mana latihan fisik yang sangat berat merupakan bagian dari rutinitas. Laporan U.S. Army Public Health Center menunjukkan bahwa meskipun prajurit umumnya terlatih, kondisi ekstrem seperti panas berlebihan atau latihan tanpa istirahat memadai dapat memicu kasus rhabdo dalam jumlah signifikan. Pengalaman ini memberi pelajaran penting bahwa bahkan tubuh yang terlatih pun memiliki batasnya.

Bagi dunia kebugaran komersial, meningkatnya kesadaran tentang rhabdo menjadi peluang untuk mengedepankan prinsip latihan yang aman. Banyak pelatih kini mengintegrasikan penilaian kondisi fisik klien sebelum memulai program, serta memberikan edukasi tentang pentingnya pemulihan. Studi yang dipublikasikan di Journal of Strength and Conditioning Research menegaskan bahwa periode istirahat, nutrisi memadai, dan manajemen stres merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi pencegahan cedera otot.

Namun, di sisi lain, fenomena ini juga memicu perdebatan tentang bagaimana mengatur industri kebugaran agar lebih bertanggung jawab. Beberapa pakar berpendapat bahwa sertifikasi pelatih harus mencakup pengetahuan mendalam tentang risiko medis seperti rhabdo, sehingga mereka dapat mengenali tanda-tanda awal pada klien dan mengambil langkah cepat.

Kisah pribadi para penyintas rhabdo kerap menjadi pengingat paling kuat. Salah satu cerita yang dilaporkan Men’s Health menggambarkan seorang wanita berusia 28 tahun yang jatuh sakit parah setelah mengikuti kelas bootcamp pertama dalam hidupnya. Dia awalnya mengira hanya mengalami pegal otot biasa, tetapi dua hari kemudian mengalami pembengkakan parah di kaki dan nyeri luar biasa. Di rumah sakit, ia didiagnosis dengan rhabdo tingkat berat dan harus dirawat selama lebih dari seminggu.

Melihat tren kebugaran yang terus berkembang, pesan yang muncul jelas: kesehatan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai target fisik, tetapi dari kemampuan menjaga tubuh agar tetap aman dalam prosesnya. Intensitas memang penting untuk memicu adaptasi dan kemajuan, tetapi harus diseimbangkan dengan prinsip kehati-hatian.

Dengan meningkatnya jumlah orang yang berolahraga, kesadaran tentang rhabdo harus menjadi bagian dari percakapan publik. Pengetahuan tentang gejala, penyebab, dan pencegahan tidak hanya membantu individu melindungi dirinya, tetapi juga dapat menyelamatkan nyawa. Pada akhirnya, olahraga adalah tentang memperkuat tubuh, bukan menghancurkannya.

Mungkin saatnya mengingat pepatah yang telah teruji waktu lebih baik bergerak konsisten setiap hari daripada memaksakan satu sesi ekstrem yang berujung di ruang gawat darurat. Karena kesehatan sejati bukanlah hasil dari satu latihan berat, melainkan akumulasi pilihan bijak yang dilakukan berulang kali.