Spotify

Spotify Tambah Pelanggan Tapi Masih Rugi

(Business Lounge – Global News) Spotify Technology SA kembali membuktikan daya tarik globalnya dengan menambah jutaan pelanggan baru dalam kuartal kedua tahun ini, melampaui ekspektasi pasar dan proyeksi internal perusahaan. Namun, di balik pencapaian jumlah pengguna, perusahaan streaming audio terbesar di dunia ini masih belum mampu membukukan keuntungan bersih. Menurut laporan resmi yang dikutip oleh The Wall Street Journal, Spotify mencatat rugi bersih sebesar €302 juta, meski total pelanggan premium tumbuh signifikan menjadi 256 juta pengguna berbayar.

Kabar ini memberikan gambaran kontras antara pertumbuhan operasional dan kesehatan finansial Spotify. Di satu sisi, pertumbuhan jumlah pengguna—baik premium maupun pengguna versi gratis yang didukung iklan—menandakan bahwa Spotify masih sangat relevan di pasar global. Total pengguna aktif bulanan (MAU) kini mencapai 626 juta, naik sekitar 6% dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini adalah salah satu pertumbuhan kuartalan terbaik Spotify sejak pandemi, dan lebih tinggi dari estimasi yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan.

Namun, seperti dicatat oleh Bloomberg, kinerja keuangan Spotify kembali dibayangi oleh biaya operasional yang tinggi, terutama untuk lisensi konten, investasi teknologi, dan strategi ekspansi internasional. Pendapatan kuartal kedua tercatat sebesar €3,8 miliar, naik dari tahun sebelumnya, tetapi tidak cukup untuk menutupi pengeluaran yang semakin meningkat. Selain itu, fluktuasi nilai tukar mata uang asing juga memberikan tekanan terhadap margin laba perusahaan yang berbasis di Swedia ini.

CEO Spotify, Daniel Ek, menyatakan dalam pernyataannya bahwa perusahaan kini fokus pada efisiensi dan profitabilitas jangka panjang. Ia menekankan bahwa penguatan basis pelanggan tetap menjadi prioritas utama, terutama dalam iklim persaingan yang semakin sengit di industri streaming. Ek juga menyebutkan bahwa penyesuaian harga berlangganan di beberapa pasar besar—termasuk Amerika Serikat dan Eropa—telah mulai memberikan dampak positif terhadap pendapatan per pengguna (ARPU), meski belum cukup untuk mengubah status keuangan Spotify menjadi untung.

Salah satu sumber tekanan utama bagi Spotify adalah struktur biaya yang masih bergantung pada pembayaran royalti kepada label musik besar dan pemilik konten lainnya. Berdasarkan perjanjian industri, sebagian besar pendapatan dari pelanggan langsung dialokasikan untuk biaya lisensi, menyisakan margin yang tipis. Selain itu, upaya ekspansi Spotify ke segmen podcast dan buku audio juga belum memberikan hasil finansial yang signifikan, meskipun meningkatkan waktu keterlibatan pengguna secara keseluruhan.

Menurut analis yang dikutip Reuters, tantangan terbesar Spotify saat ini bukan pada pertumbuhan pengguna, tetapi bagaimana mengubah basis pengguna yang besar itu menjadi mesin profitabilitas yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, Spotify telah banyak menggelontorkan dana untuk akuisisi konten dan kontrak eksklusif—mulai dari Joe Rogan hingga podcast Meghan Markle—namun beberapa proyek besar tersebut justru menimbulkan biaya tinggi tanpa kontribusi signifikan terhadap pendapatan iklan atau retensi pengguna.

Strategi perusahaan kini tampaknya mulai berputar arah. Alih-alih terus mengejar ekspansi konten eksklusif dengan biaya tinggi, Spotify kini lebih berhati-hati dalam pengeluaran. Dalam presentasi kepada investor, CFO Spotify menyebut bahwa efisiensi akan menjadi tema utama tahun ini. Langkah-langkah tersebut termasuk pemangkasan tenaga kerja dalam beberapa divisi, optimalisasi algoritma rekomendasi konten, dan peningkatan sistem monetisasi iklan di luar langganan premium.

Pasar menyambut laporan ini dengan respons beragam. Saham Spotify sempat naik tipis setelah laporan pelanggan diumumkan, namun kemudian kembali turun karena kerugian bersih yang dilaporkan lebih besar dari perkiraan analis. Seperti dilaporkan oleh CNBC, beberapa investor jangka panjang tetap optimistis terhadap prospek Spotify, mengingat perusahaan masih mendominasi pasar global dan menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah kompetisi dari Apple Music, Amazon Music, dan TikTok Music yang baru memasuki pasar.

Di tengah semua dinamika ini, pertanyaan besar tetap menggantung: kapan Spotify bisa membuktikan bahwa skala besar dapat diterjemahkan menjadi profitabilitas berkelanjutan? Dengan lebih dari 600 juta pengguna aktif dan penetrasi global yang belum tertandingi, banyak pihak percaya bahwa titik impas hanya tinggal menunggu waktu. Namun, selama biaya lisensi tetap tinggi dan monetisasi konten belum optimal, Spotify harus terus menyeimbangkan pertumbuhan dengan efisiensi agar tidak terjebak dalam siklus ekspansi yang tidak menguntungkan.