(Business Lounge – Global News) Perusahaan fintech asal Inggris, Wise, resmi memenangkan suara pemegang saham untuk memindahkan pencatatan utamanya ke New York dan memperpanjang struktur saham dua kelas yang memberi kekuatan suara luar biasa kepada sang CEO sekaligus pendiri, Kristo Käärmann. Langkah ini menandai tonggak penting bagi Wise sekaligus mencerminkan pergeseran minat perusahaan teknologi Inggris terhadap pasar modal Amerika Serikat.
Dalam pemungutan suara penting yang diselenggarakan minggu ini, mayoritas pemegang saham menyetujui dua keputusan strategis: memindahkan pencatatan utama saham Wise dari London ke New York Stock Exchange (NYSE), serta memperpanjang masa berlaku struktur saham dual-class hingga 2034. Keputusan ini menandai kemenangan telak bagi Käärmann yang telah lama mendorong dua agenda tersebut demi mendukung pertumbuhan jangka panjang dan stabilitas manajemen perusahaan.
Sebagaimana dilaporkan oleh Financial Times dan Bloomberg, hasil voting ini juga menandai kekalahan bagi co-founder Wise, Taavet Hinrikus, yang sebelumnya menyuarakan penolakan terhadap perpanjangan kekuasaan voting bagi Käärmann. Hinrikus, yang pernah menjabat CEO sebelum Käärmann dan kini telah keluar dari manajemen, menyatakan keprihatinannya bahwa kepemilikan voting jangka panjang oleh satu orang akan melemahkan tata kelola perusahaan dan hak suara pemegang saham publik.
Wise—yang dikenal sebagai pionir dalam layanan transfer uang lintas negara dengan biaya rendah—telah menjadi kisah sukses teknologi langka dari Inggris. Saat IPO pada 2021 di London Stock Exchange, perusahaan tersebut memilih metode pencatatan langsung (direct listing), sebuah pendekatan yang saat itu dianggap inovatif. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Wise mengalami tekanan valuasi yang mencerminkan melemahnya daya tarik pasar modal London bagi perusahaan teknologi global.
Langkah untuk beralih ke New York dipandang sebagai upaya untuk menarik basis investor yang lebih besar, terutama investor institusional AS yang lebih akrab dengan model bisnis teknologi dan struktur saham dual-class. Di AS, banyak perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Meta, dan Airbnb menggunakan struktur saham dua kelas yang memungkinkan para pendiri mempertahankan kontrol meski kepemilikan sahamnya mengecil.
Struktur dual-class memungkinkan Käärmann memiliki 50 kali kekuatan voting dibanding pemegang saham biasa untuk saham tertentu yang ia miliki. Dengan perpanjangan ini, ia dapat mempertahankan kendali strategis selama satu dekade ke depan. Dalam pernyataan resminya, Käärmann menyebut bahwa “stabilitas kepemimpinan sangat penting untuk misi jangka panjang Wise dalam membangun sistem keuangan global yang transparan dan efisien.”
Para investor besar tampaknya setuju. Dalam pemungutan suara, lebih dari dua pertiga suara mendukung perpanjangan dual-class dan perpindahan listing ke NYSE. Di sisi lain, kritik tetap muncul. Beberapa analis yang dikutip oleh Reuters menyebut bahwa keputusan ini mencerminkan lemahnya daya tawar London dalam mempertahankan perusahaan teknologi unggulan. Mereka juga mengingatkan bahwa struktur dual-class bisa menjadi bumerang bila tidak dibarengi dengan transparansi dan akuntabilitas tinggi.
Dari sudut pandang pasar modal, ini adalah pukulan simbolis bagi London Stock Exchange (LSE). Inggris telah berjuang keras untuk mempertahankan daya saingnya sebagai tempat listing utama setelah Brexit. Sejumlah IPO besar seperti Arm Holdings memilih mencatatkan sahamnya di AS, meski Arm berasal dari Inggris. Kini, Wise pun menyusul tren yang sama, memperkuat persepsi bahwa bursa AS menawarkan valuasi lebih tinggi, likuiditas lebih besar, dan regulasi yang lebih ramah bagi perusahaan teknologi.
Para eksekutif Wise menyatakan bahwa perpindahan ini bukan sekadar strategi keuangan, tetapi juga refleksi dari basis pelanggan dan investor perusahaan yang semakin global. Meski kantor pusat tetap di London, sebagian besar pertumbuhan pengguna Wise terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Pada kuartal terakhir, Wise mencatatkan pertumbuhan transaksi lintas negara sebesar 20% secara tahunan, didorong oleh peningkatan adopsi dari pelaku bisnis kecil dan ekspatriat.
Keputusan mempertahankan struktur dual-class juga mencerminkan tren di dunia teknologi yang semakin menekankan stabilitas jangka panjang di tengah gejolak pasar. Di tengah volatilitas saham teknologi dalam dua tahun terakhir, banyak pendiri perusahaan ingin memastikan bahwa misi jangka panjang mereka tidak terganggu oleh tekanan pasar jangka pendek atau tuntutan investor aktivis. Model voting ganda memungkinkan mereka menghindari pengambilalihan, mengarahkan strategi tanpa harus mendapat restu dari mayoritas investor publik, dan menghindari intervensi dari pihak luar.
Namun, bagi para pendukung tata kelola korporat yang kuat, langkah ini menimbulkan kekhawatiran. Mereka mengingatkan bahwa konsentrasi kekuasaan yang berlebihan di tangan satu individu bisa menciptakan risiko besar, terutama bila terjadi perbedaan pendapat strategis atau krisis reputasi. Beberapa investor institusional bahkan mulai menyuarakan keberatan terhadap dual-class shares, seperti terlihat dalam kampanye-kampanye sebelumnya terhadap perusahaan seperti Meta dan Snap.
Pertarungan antara Käärmann dan Hinrikus juga memperlihatkan bagaimana visi dua pendiri bisa berbeda drastis seiring waktu. Hinrikus, yang kini menjadi investor dan pemikir publik di bidang teknologi, lebih condong pada model tata kelola yang terbuka dan partisipatif. Ia menganggap bahwa perpanjangan kekuasaan voting Käärmann selama satu dekade ke depan berpotensi merugikan nilai jangka panjang pemegang saham umum.
Meski begitu, pasar merespons keputusan ini dengan tenang. Saham Wise naik tipis dalam perdagangan setelah pengumuman hasil voting, mencerminkan kepercayaan investor terhadap strategi jangka panjang perusahaan. Dengan perpindahan listing utama ke New York, Wise diperkirakan akan mulai masuk radar analis Wall Street dan mendapatkan paparan yang lebih luas terhadap dana-dana teknologi global.
Di sisi lain, regulator Inggris dan pelaku pasar LSE kini dihadapkan pada pertanyaan mendasar: bagaimana membuat London kembali menarik bagi perusahaan teknologi? Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Inggris telah menyusun berbagai insentif dan reformasi untuk mengurangi birokrasi dan meningkatkan fleksibilitas aturan pencatatan saham. Namun keluarnya perusahaan seperti Wise bisa menjadi sinyal bahwa reformasi ini belum cukup atau datang terlalu lambat.

