Unilever Tunjuk CEO Baru Ben & Jerry’s di Tengah Ketegangan

(Business Lounge – Global News) Unilever, raksasa konsumer global asal Inggris-Belanda, resmi menunjuk Jochanan Senf sebagai CEO baru untuk unit bisnis es krim ikonik Ben & Jerry’s. Keputusan ini bukan sekadar langkah manajerial biasa, melainkan babak terbaru dalam ketegangan yang terus memburuk antara Unilever dan dewan independen Ben & Jerry’s—sebuah badan unik yang secara hukum memiliki hak untuk menjaga nilai-nilai sosial merek tersebut, bahkan melampaui kebijakan induk perusahaan.

Jochanan Senf adalah eksekutif veteran di Unilever yang telah menjabat di berbagai posisi manajerial di Eropa selama lebih dari dua dekade. Ia dikenal sebagai sosok yang fokus pada efisiensi dan profitabilitas, dua aspek yang kerap menjadi sumber konflik dengan dewan independen Ben & Jerry’s, yang selama ini lebih menekankan misi sosial dan keadilan global ketimbang target keuangan jangka pendek. Penunjukan Senf diumumkan pekan ini dan ia dijadwalkan mulai menjabat bulan Juli.

Menurut laporan The Wall Street Journal dan Reuters, penunjukan ini dilakukan secara sepihak oleh Unilever tanpa konsultasi mendalam dengan dewan independen Ben & Jerry’s, yang secara historis memiliki wewenang eksklusif atas isu-isu merek dan misi sosial. Dewan ini dibentuk saat akuisisi Ben & Jerry’s oleh Unilever pada tahun 2000 sebagai bagian dari perjanjian yang menjamin otonomi dalam arah sosial perusahaan. Bentuk pengaturan semacam ini langka dalam struktur korporasi multinasional dan menjadi sumber ketegangan terus-menerus selama lebih dari dua dekade.

Ketegangan mencapai titik kritis pada 2021, ketika Ben & Jerry’s secara publik menolak menjual produk mereka di wilayah pendudukan Israel, sebuah keputusan yang kemudian dibatalkan oleh Unilever setelah menuai tekanan hukum dan politis. Dewan independen menilai tindakan Unilever tersebut melanggar perjanjian otonomi mereka dan mengajukan gugatan di pengadilan federal AS. Meskipun pengadilan akhirnya menolak gugatan itu, konflik struktural antara idealisme sosial Ben & Jerry’s dan pendekatan bisnis Unilever tetap membara.

Dengan menunjuk Senf, Unilever tampaknya mengambil posisi yang lebih keras dalam mengonsolidasikan kontrol atas unit bisnis es krim tersebut, sebuah langkah yang oleh sebagian pengamat dilihat sebagai “penghancuran bertahap” dari otonomi sosial Ben & Jerry’s. “Ini bukan hanya tentang siapa yang memimpin Ben & Jerry’s. Ini tentang siapa yang menentukan apa yang merek itu perjuangkan,” ujar mantan penasihat hukum perusahaan yang dikutip oleh Bloomberg.

Di sisi lain, Unilever menghadapi tekanan besar dari investor untuk meningkatkan margin dan menyederhanakan portofolio bisnisnya. Dalam beberapa tahun terakhir, performa keuangan Unilever di bawah ekspektasi analis, dan produk-produk seperti es krim mengalami penurunan margin karena tekanan biaya bahan baku dan logistik. Dalam konteks ini, Ben & Jerry’s yang dikenal dengan biaya produksi tinggi dan pendekatan pemasaran berbasis aktivisme sosial menjadi target konsolidasi strategis.

Dewan independen Ben & Jerry’s, yang dipimpin oleh Anuradha Mittal, belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penunjukan Jochanan Senf. Namun sumber internal menyebutkan bahwa ketegangan antara dua kubu telah meningkat sejak awal tahun, dengan beberapa anggota dewan merasa bahwa peran mereka semakin dikesampingkan dalam pengambilan keputusan besar.

Langkah ini terjadi di tengah perubahan lebih luas di dalam tubuh Unilever sendiri. CEO global Unilever, Hein Schumacher, yang baru menjabat sejak pertengahan 2023, telah meluncurkan strategi “simplicity and focus” untuk memprioritaskan efisiensi, inovasi, dan konsolidasi merek yang paling menguntungkan. Dalam presentasi kepada investor awal tahun ini, ia secara eksplisit menyebutkan bahwa Unilever akan mengurangi kerumitan organisasi dan memperkuat kontrol manajerial terhadap seluruh unit bisnis.

Bagi Ben & Jerry’s, keputusan ini bisa menjadi titik balik. Dalam dua dekade terakhir, merek ini bukan hanya menjual es krim, tetapi juga menyuarakan isu-isu seperti keadilan rasial, perubahan iklim, hak pengungsi, hingga kebijakan luar negeri AS. Keterlibatan merek dalam advokasi sosial membuatnya unik dalam dunia korporasi global, tetapi juga membuatnya rentan terhadap tekanan politik dan hukum—seperti yang terjadi dalam kasus Israel-Palestina.

Para pengamat menyebutkan bahwa jika penunjukan Senf menandai awal dari sentralisasi total manajemen di tangan Unilever, maka Ben & Jerry’s akan kehilangan banyak identitas sosialnya yang selama ini membuat merek tersebut menonjol. “Ada risiko nyata bahwa es krim ini akan menjadi sekadar komoditas, bukan simbol gerakan,” kata Naomi Klein, pengamat korporasi dan aktivisme merek.

Bagi konsumen, dampak perubahan ini belum tentu langsung terasa. Namun dalam jangka panjang, perubahan arah manajemen bisa memengaruhi kampanye sosial Ben & Jerry’s yang selama ini menjadi nilai jual tersendiri. Beberapa pengamat bahkan memperkirakan bahwa konsumen setia yang mendukung misi sosial merek ini bisa mulai memboikot jika melihat adanya kemunduran dalam aktivisme yang selama ini dikedepankan.

Kisah Ben & Jerry’s kini menjadi studi kasus penting tentang batas antara idealisme dan realitas bisnis. Di satu sisi, merek ini telah membuktikan bahwa perusahaan bisa sukses secara komersial tanpa meninggalkan nilai-nilai progresif. Di sisi lain, tekanan keuangan dan ekspektasi pasar tetap menjadi kenyataan keras yang tak bisa dihindari oleh perusahaan induk.

Dengan masuknya Jochanan Senf, Ben & Jerry’s memasuki era baru yang penuh ketidakpastian. Apakah ia mampu menjaga keseimbangan antara visi sosial dan target bisnis? Atau justru menjadi eksekutor konsolidasi penuh ala Unilever? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan masa depan salah satu merek paling unik di dunia korporasi global.