(Business Lounge – Global News) Timothy Leiweke, CEO Oak View Group dan salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia pembangunan stadion olahraga dan hiburan, resmi didakwa oleh dewan juri federal atas tuduhan pengaturan tender (bid-rigging) dalam proyek arena baru di Texas. Dakwaan ini menuduh Leiweke secara sengaja meyakinkan salah satu pesaing perusahaan untuk tidak ikut serta dalam proses penawaran publik guna membangun arena tersebut—sebuah pelanggaran serius terhadap hukum antimonopoli AS.
Menurut dokumen yang dilaporkan oleh The Wall Street Journal dan Reuters, dakwaan ini muncul dari penyelidikan Departemen Kehakiman AS yang telah berlangsung selama beberapa bulan terkait praktik persaingan tidak sehat dalam sektor konstruksi olahraga bernilai miliaran dolar. Jaksa menuduh bahwa Leiweke mendekati salah satu perusahaan pesaing yang berniat ikut tender proyek arena di Irving, Texas, dan memintanya mundur dari persaingan agar Oak View Group dapat memenangkan kontrak tanpa kompetisi langsung.
Praktik bid-rigging seperti ini dianggap sebagai bentuk pelanggaran hukum federal yang sangat serius. Berdasarkan Undang-Undang Sherman Antitrust Act, upaya apa pun untuk membatasi persaingan atau mengatur hasil tender tanpa keterbukaan adalah tindakan kriminal. Jika terbukti bersalah, Leiweke bisa menghadapi hukuman penjara maksimal hingga 10 tahun dan denda jutaan dolar.
Oak View Group merupakan pengembang terkenal yang telah terlibat dalam pembangunan beberapa venue terkemuka di AS, termasuk UBS Arena di New York dan Climate Pledge Arena di Seattle. Leiweke, yang sebelumnya juga menjabat sebagai eksekutif di AEG dan Maple Leaf Sports & Entertainment, dikenal luas sebagai tokoh kunci dalam ekspansi modernisasi stadion dan arena dalam dua dekade terakhir.
Melalui pernyataan resmi, Oak View Group membantah keras tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa perusahaan akan membela CEO mereka secara penuh. “Tim Leiweke adalah pemimpin yang sangat dihormati dan kami percaya sepenuhnya pada integritasnya,” kata juru bicara perusahaan. Mereka menambahkan bahwa pihak perusahaan belum menerima permintaan apapun dari pengadilan untuk menghentikan kegiatan proyek atau operasional lain.
Namun, dampaknya sudah terasa. Sejumlah kota yang tengah mempertimbangkan kerjasama pembangunan stadion dengan Oak View Group dikabarkan mulai meninjau kembali kemitraan mereka. Investor dan mitra potensial juga disebut meminta klarifikasi dari pihak perusahaan mengenai langkah hukum yang akan diambil.
Menurut laporan Reuters, kasus ini menjadi ujian besar bagi industri pembangunan stadion yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami ledakan aktivitas, terutama seiring dengan pertumbuhan industri olahraga dan hiburan langsung pasca-pandemi. Banyak pemerintah kota menggandeng pengembang swasta untuk membangun arena modern yang dapat menarik konser, pertandingan olahraga profesional, serta acara skala besar lainnya. Dalam konteks itu, kepercayaan publik terhadap integritas proses tender menjadi sangat krusial.
Departemen Kehakiman AS menekankan bahwa kasus ini bukan yang pertama, dan tidak akan menjadi yang terakhir. “Kami akan terus menindak pihak-pihak yang berupaya mencurangi proses tender publik,” ujar Jaksa Antimonopoli Richard Powers. Ia menambahkan bahwa penegakan hukum akan diperluas ke sektor-sektor lain yang juga rentan terhadap praktik anti-persaingan.
Kasus ini juga menyentuh isu konflik kepentingan dan pengaruh politik. Dalam dokumen dakwaan disebutkan bahwa Leiweke memiliki hubungan dekat dengan sejumlah pejabat lokal di Texas, meskipun tidak ada dakwaan tambahan terkait kolusi dengan otoritas publik. Namun, fakta bahwa proyek ini bersumber dari dana publik dan berada di bawah yurisdiksi pemerintah lokal menimbulkan kekhawatiran lebih luas mengenai transparansi dan tata kelola proyek infrastruktur hiburan.
Para pengamat industri menilai bahwa dakwaan terhadap Leiweke bisa menjadi “momen pengubah permainan” dalam bisnis pengembangan stadion. Banyak perusahaan di sektor ini beroperasi dalam jaringan yang erat, di mana kontrak sering kali ditentukan oleh hubungan informal, bukan hanya kompetensi teknis atau penawaran harga. Dakwaan ini membuka diskusi apakah praktik-praktik semacam itu telah menjadi sistemik, dan apakah pengawasan harus diperketat.
Belum diketahui secara pasti kapan persidangan akan dimulai, namun sejumlah pakar hukum menduga proses hukum bisa berlangsung cukup panjang, mengingat posisi Leiweke yang sangat sentral di industri ini. Bila terbukti bersalah, konsekuensinya bukan hanya akan menimpa dirinya, tetapi juga bisa mengguncang reputasi Oak View Group serta memengaruhi proyek-proyek besar yang sedang berjalan di berbagai negara bagian.
Sejauh ini, belum ada tanggapan langsung dari pihak pesaing yang disebut dalam dakwaan sebagai pihak yang diyakinkan untuk mundur. Identitas perusahaan tersebut dirahasiakan oleh otoritas federal, namun beberapa media AS menduga bahwa ini adalah salah satu pengembang stadion swasta terbesar yang juga berbasis di wilayah barat daya AS.
Terlepas dari bagaimana hasil akhirnya nanti, kasus ini memperjelas bahwa bahkan sektor yang biasanya dianggap “glamor” dan sarat branding seperti pengembangan stadion tidak kebal terhadap penyelidikan hukum. Integritas proses, keterbukaan, dan persaingan sehat tetap menjadi fondasi dalam proyek-proyek publik bernilai tinggi.
Bagi masyarakat umum dan pembayar pajak yang dananya digunakan untuk mendanai arena-arena megah itu, kabar ini adalah pengingat penting bahwa transparansi dalam setiap tahap pembangunan harus diawasi secara ketat. Tidak cukup hanya membangun gedung megah—keadilan dan hukum harus dijunjung tinggi dalam setiap prosesnya.

