(Business Lounge – Global News) Langkah mengejutkan datang dari Starboard Value, perusahaan investasi aktivis yang dikenal agresif dalam menekan perubahan di perusahaan terbuka. Kali ini, target mereka adalah Tripadvisor, platform ulasan perjalanan global yang pernah menjadi ikon perjalanan daring tetapi kini tengah bergulat dengan tekanan industri. Starboard mengumumkan telah mengambil alih 9% saham Tripadvisor, menjadikannya salah satu pemegang saham terbesar perusahaan tersebut dan memberi sinyal bahwa tekanan terhadap manajemen akan meningkat dalam waktu dekat.
Sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal, akumulasi saham oleh Starboard dilakukan secara diam-diam dalam beberapa bulan terakhir, saat saham Tripadvisor berada di posisi lemah setelah menolak sejumlah tawaran akuisisi dan gagal menghidupkan kembali momentum pertumbuhan pascapandemi. Langkah Starboard ini menambah tekanan baru terhadap manajemen Tripadvisor, yang sebelumnya telah dikritik karena strategi bisnis yang dianggap stagnan dan tidak cukup responsif terhadap perubahan perilaku konsumen digital.
Tripadvisor selama ini dikenal sebagai sumber utama ulasan wisatawan global, dengan jutaan review hotel, restoran, dan destinasi wisata. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, posisi dominannya terkikis oleh munculnya platform seperti Google Travel, Instagram, TikTok, dan aplikasi pemesanan yang kini mengintegrasikan ulasan langsung. Ditambah lagi, lonjakan penggunaan AI dan chatbot untuk rekomendasi perjalanan mulai mengurangi ketergantungan konsumen terhadap ulasan tradisional berbasis komunitas.
Starboard melihat situasi ini sebagai peluang strategis. Mereka terkenal dengan rekam jejak mendorong perubahan besar di perusahaan seperti Papa John’s, Yahoo, dan Darden Restaurants. Pendekatannya cenderung langsung: masuk sebagai pemegang saham signifikan, kemudian menekan manajemen untuk merombak struktur bisnis, menjual aset, mengganti dewan direksi, atau mempertimbangkan merger. Dalam kasus Tripadvisor, para analis meyakini bahwa Starboard akan mendesak perusahaan untuk meninjau ulang strategi digital, mempertimbangkan penjualan unit tertentu, dan membuka kembali pembicaraan akuisisi yang sebelumnya ditolak.
Saham Tripadvisor sendiri telah turun hampir 50% dari level tertingginya dalam dua tahun terakhir, meskipun sektor perjalanan secara umum telah pulih sejak pelonggaran pembatasan global akibat pandemi. Kinerja saham yang tertinggal ini mencerminkan keraguan pasar atas arah perusahaan. Sementara pendapatan dari layanan pemesanan dan iklan tetap ada, pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi, dan profitabilitas masih tertahan oleh biaya operasional yang tinggi serta persaingan yang makin ketat.
Sebelumnya, Tripadvisor memang sempat menarik minat sejumlah pihak yang ingin mengakuisisi atau bermitra strategis, termasuk perusahaan ekuitas swasta dan pesaing di sektor teknologi perjalanan. Namun, manajemen Tripadvisor menolak tawaran-tawaran tersebut, dengan alasan bahwa nilai jangka panjang perusahaan belum tercermin dalam harga saham saat itu. Penolakan inilah yang tampaknya menjadi pemicu langkah Starboard, yang menilai bahwa manajemen terlalu defensif dan gagal menangkap peluang transformatif.
Dalam pengajuan kepada regulator, Starboard menyatakan bahwa mereka “berniat melakukan dialog konstruktif” dengan dewan direksi Tripadvisor mengenai potensi peningkatan nilai pemegang saham. Namun, bagi mereka yang mengikuti sepak terjang Starboard, istilah “dialog konstruktif” biasanya merupakan awal dari kampanye tekanan yang intens. Perusahaan itu memiliki reputasi sebagai investor aktivis yang tidak segan mengganti pimpinan jika dianggap tidak menciptakan nilai.
Menurut sumber yang dikutip oleh Reuters, beberapa opsi yang mungkin didorong oleh Starboard termasuk pemisahan unit bisnis Viator, layanan pemesanan tur dan aktivitas milik Tripadvisor yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi daripada bisnis intinya. Viator telah menunjukkan pertumbuhan signifikan selama dua tahun terakhir dan bisa menarik minat investor baru jika dipisahkan sebagai entitas mandiri.
Di sisi lain, Tripadvisor berada dalam posisi sulit. Mereka harus menyeimbangkan tekanan dari investor seperti Starboard dengan kenyataan operasional di lapangan. Perubahan drastis tanpa kesiapan bisa mengganggu stabilitas bisnis, terutama ketika perusahaan masih bergantung pada jaringan mitra wisata global dan infrastruktur teknologi yang kompleks.
Sejumlah analis Wall Street menyambut baik langkah Starboard sebagai pemicu perubahan yang dibutuhkan. Mereka menilai bahwa Tripadvisor terlalu lambat beradaptasi dengan ekosistem digital baru yang lebih cepat, lebih visual, dan berbasis algoritma. Di era di mana wisatawan mencari inspirasi perjalanan lewat Reels, Shorts, atau AI-generated itinerary, model lama yang bergantung pada ulasan teks dan forum diskusi tidak lagi cukup relevan.
Namun, ada pula yang memperingatkan risiko dari intervensi yang terlalu agresif. Tripadvisor bukanlah startup ringan, melainkan perusahaan dengan sejarah panjang, komunitas global, dan kepercayaan publik yang terbangun selama dua dekade. Perubahan mendadak, apalagi yang diarahkan dari luar, bisa menimbulkan resistensi internal dan gangguan pada loyalitas pengguna.
Langkah Starboard ini mencerminkan tren yang lebih besar di dunia keuangan, di mana investor aktivis semakin aktif masuk ke perusahaan teknologi atau platform digital yang dinilai undervalued. Mereka tidak hanya menargetkan perusahaan tradisional, tetapi juga platform berbasis komunitas yang dianggap belum optimal memonetisasi basis pengguna mereka.
Dengan masuknya Starboard ke dalam struktur kepemilikan Tripadvisor, publik menanti apakah ini akan menjadi awal kebangkitan baru atau justru membuka babak ketegangan antara investor dan manajemen. Yang pasti, tekanan sudah datang, dan bagi Tripadvisor, ini adalah momen untuk membuktikan apakah mereka masih relevan di dunia perjalanan yang telah berubah drastis sejak era kejayaannya sepuluh tahun lalu.

