AI Akibatkan Trafik Website Anjlok: Era Baru “AIpocalypse” Sudah Tiba

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Dunia digital tengah menghadapi perubahan besar yang tidak semua pelaku bisnis siap menyambutnya. Sejak diluncurkannya fitur AI Overviews oleh Google pada Mei 2024, lanskap mesin pencari berubah drastis. Di satu sisi, teknologi ini memudahkan pengguna untuk menemukan jawaban secara instan. Di sisi lain, ia mulai “menggerogoti” sumber informasi yang menjadi fondasi internet: situs web.

Selama ini, situs-situs web dari berbagai sektor—media, pariwisata, e-commerce, hingga keuangan—mengandalkan lalu lintas dari pencarian organik sebagai sumber utama kunjungan. Namun kini, fitur AI yang menampilkan ringkasan jawaban langsung di halaman hasil pencarian, membuat pengguna tak perlu lagi mengklik tautan menuju situs asal. Akibatnya, trafik ke website anjlok.

Dan ironisnya, platform-platform AI ini justru dilatih dari konten yang awalnya berasal dari situs-situs tersebut.

Klik Turun, Impresi Naik—Siapa yang Diuntungkan?

Menurut laporan dari perusahaan analitik BrightEdge, setahun setelah Google meluncurkan AI Overviews:

  • Impresi pencarian naik 49% (jumlah tampilan hasil pencarian).
  • Namun, tingkat klik turun 30%.

Ini berarti, pengguna makin sering mencari informasi lewat Google, tetapi semakin jarang mengunjungi situs-situs yang menyediakan konten aslinya.

“AI Overviews membuat orang puas di halaman Google saja,” tulis analis SEO Kevin Indig. Dari studi kecil yang ia lakukan, tingkat klik dari pengguna desktop mencapai rata-rata 28% saat fitur AI tidak aktif, dan naik menjadi 38% di perangkat mobile. Artinya, kehadiran AI justru menurunkan interaksi langsung antara pengguna dan situs.

Data dari Ahrefs mengonfirmasi hal ini, menyebut bahwa AI Overviews bisa mengurangi klik hingga 35%.

Dampaknya Bukan Hanya ke Media

Laporan dari SimilarWeb yang dikutip oleh Barron’s menunjukkan penurunan trafik dari pencarian di berbagai sektor di AS dalam periode setahun terakhir:

  • Pariwisata & perjalanan: -20%
  • Media & berita: -17%
  • E-commerce: -9%
  • Keuangan: -7%
  • Makanan/minuman: -7%
  • Gaya hidup & fashion: -5%

Sementara itu, trafik dari mesin pencari berbasis AI baru menggantikan sekitar 10% dari trafik tradisional—angka yang jauh dari cukup untuk menutup kerugian.

Model Bisnis Terancam: Publisher Mulai Melawan

Melemahnya trafik situs berarti pendapatan iklan dan langganan ikut menurun, padahal biaya produksi konten tetap tinggi. Beberapa media besar kini mulai mengambil langkah hukum terhadap perusahaan AI, menuduh mereka mengambil tanpa memberi kembali.

CEO Cloudflare, Matthew Prince, mengungkapkan tren mencolok:

“Sepuluh tahun lalu, rasio antara halaman yang dirayapi Google dengan jumlah pengunjung yang mereka kirim ke situs adalah 2:1. Enam bulan lalu, sudah 6:1. Hari ini? 18:1.”

Lebih ekstrem lagi:

  • Rasio OpenAI: dari 250:1 menjadi 1.500:1
  • Rasio Anthropic: dari 6.000:1 menjadi 60.000:1

Artinya, untuk setiap satu pengunjung yang dikirim ke situs, mesin AI mengambil ratusan hingga puluhan ribu halaman sebagai “bahan pelatihan”—tanpa imbal balik setimpal.

Siapa yang Diuntungkan?

Jawabannya jelas: Google.
Meski banyak pihak menilai era AI akan memunculkan penantang baru bagi dominasi raksasa pencarian ini, kenyataannya Google masih menguasai 90% pasar pencarian, menurut BrightEdge.

Namun kini, ia justru “memakan tangan yang selama ini memberinya makan”. Konten yang membuat Google berguna—artikel, ulasan, tutorial—dihisap dan diringkas, lalu disajikan kembali tanpa harus mengarahkan pengguna ke sumber aslinya.

Apa Dampaknya bagi Pebisnis dan Publisher Indonesia?

Bagi pemilik bisnis yang mengandalkan SEO sebagai sumber utama akuisisi pelanggan, tren ini menjadi peringatan keras. Bila konten Anda hanya berfungsi sebagai bahan bakar AI tanpa mendatangkan trafik, maka strategi digital Anda perlu dievaluasi ulang.

Beberapa strategi mitigasi yang dapat dipertimbangkan:

  • Fokus pada konten eksklusif yang tidak mudah diringkas AI.
  • Bangun komunitas dan relasi langsung dengan pelanggan lewat email dan media sosial.
  • Diversifikasi kanal trafik—jangan hanya bergantung pada pencarian Google.
  • Gunakan AI detector tools untuk memahami bagaimana konten Anda digunakan pihak ketiga.

“AIpocalypse” atau Evolusi Internet?

Apa yang sedang terjadi bukan sekadar disrupsi—melainkan evolusi mendasar dari bagaimana informasi dikonsumsi dan disampaikan. Publisher dan pemilik bisnis digital perlu berpikir ulang: bagaimana agar konten tidak hanya ditemukan, tetapi juga dikunjungi dan dihargai?

Era AI bukan akhir segalanya. Tapi untuk bisa bertahan, kita perlu memahami ekosistem baru ini dan mengambil posisi yang strategis di dalamnya.

Anda membangun situs, menulis konten, dan mengoptimalkan SEO selama bertahun-tahun. Sekarang, saatnya memastikan kerja keras itu tidak hanya jadi “makanan mesin”.