(Business Lounge Journal – Tech)
Masih ingat saat belanja berarti harus datang ke mal, menyusuri rak demi rak, memilih ukuran yang tersedia, dan kemudian bergelut di ruang ganti yang diterangi cahaya neon? Masa-masa itu tengah bergeser. Dalam era teknologi yang tengah melaju pesat, ritel bukan lagi sebuah tempat fisik, tapi sebuah ruang digital — sebuah basis data yang dapat dicari, sebuah moodboard kreatif, dan sebuah asisten pintar yang memahami selera, ukuran, dan kebutuhan Anda lebih dari diri Anda sendiri.
Transformasi ritel ini bukan terjadi secara tiba-tiba, tapi merupakan proses matang yang tengah didorong teknologi kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin (machine learning), dan pendekatan berdasarkan data (data-centric).
Dua perusahaan rintisan, Phia dan New Gen, tengah menulis ulang cara kita belanja, sesuai kebutuhan generasi yang lebih sering mencari apa saja — mulai dari resep makanan hingga gaya berpakaian — melalui search bar. Hal ini terjadi seiring pergeseran dari ritel tradisional menuju ritel pintar, di mana teknologi bukan lagi pelengkap, tapi jantung operasional. Perusahaan rintisan Phia dan New Gen tengah menjadi pelopor transformasi ini. Keduanya lahir dari visi yang serupa — yaitu mencari cara yang lebih pintar, lebih relevan, dan lebih manusiawi demi memenuhi kebutuhan belanja Generasi Z dan millennial — namun pendekatan yang diambil masing-masing unik dan kreatif.
Berasal dari Amerika Serikat, Phia didirikan oleh sekelompok ahli teknologi dan fashionista yang gelisah melihat proses mencari dan membeli pakaian masih bergantung pada cara-cara tradisional. Dengan visi “mengoptimalkan teknologi demi kepuasan dan penghematan konsumen”, Phia diciptakan sebagai sebuah ekstensi peramban (browser) yang dapat mencari dan menemukan penawaran terbaik, barang bekas yang masih layak, dan diskon tersembunyi di lebih dari 40.000 situs.
Phia bukan hanya alat perbandingan, tapi juga pemandu belanja pintar. Dengan belajar dari preferensi, ukuran, dan sejarah pembelian masing-masing pengguna, Phia mampu menyaring dan menyarankan produk yang paling sesuai — ukuran tepat, model yang disukai, dan kisaran harga yang diharapkan. Hal ini terjadi secara instan, tanpa perlu berganti tab, mencari manual, dan kehilangan momentum saat menemukan barang yang dicari.
Sementara Phia unggul pada aspek perbandingan dan penghematan, New Gen — sebuah rintisan dari Inggris — memilih pendekatan yang lebih radikal. Dalam visi pendirinya, ritel bukan lagi tempat mencari, tapi tempat diberi instruksi. Dalam ekosistem New Gen, calon pembeli cukup menyebut kebutuhan, ukuran, dan anggaran — misalnya: “Celana pendek sepeda ukuran M di bawah $100”— dan teknologi kecerdasan buatan segera menyaring, menemukan, dan menyarankan produk yang paling sesuai.
Ini dimungkinkan karena teknologi yang digunakan New Gen belajar dari pola belanja, ukuran, dan selera masing-masing pengguna. Dalam prosesnya, storefront bukan lagi sebuah etalase statis, tapi sebuah ruang yang dinamis, dapat berubah sesuai instruksi dan preferensi pengguna. Dengan pendekatan yang bergantung pada data dan teknologi, proses menemukan produk yang tepat menjadi lebih cepat, lebih relevan, dan lebih manusiawi.
Mengapa Generasi Z Menginginkan Pengalaman Ini?
Transformasi ritel terjadi bukan karena teknologi tersedia, tapi karena perbedaan kebutuhan dan perilaku konsumen, terutama Generasi Z.
Bagi Generasi Z, kecepatan, personalisasi, dan keberlanjutan bukan lagi sebuah kemewahan, tapi sebuah kebutuhan.
Mereka terbiasa mencari informasi secara instan, menggunakan teknologi demi memenuhi kebutuhan, dan mengharapkan pelayanan yang sesuai selera.
Selain itu, aspek keberlanjutan dan etika juga penting. Generasi Z lebih peduli pada sumber barang, proses pembuatan, dan dampak pembeliannya. Phia dan New Gen turut memenuhi kebutuhan ini, misalnya, Phia menemukan barang bekas yang masih layak, dan New Gen dapat menyaring berdasarkan merk yang ramah terhadap lingkungan.
Singkatnya, teknologi ritel tengah bergeser dari pendekatan “menjual” menjadi “memahami”—memahami apa yang dibutuhkan, diinginkan, dan dianggap penting oleh konsumen.
Masa Depan Ritel dan Pengaruhnya pada Pasar
Transformasi yang tengah terjadi bukan hanya sebatas teknologi, tapi juga sebuah pergeseran paradigma. Dalam model ritel tradisional, penjual yang menentukan apa yang tersedia di etalase. Dalam paradigma yang tengah bergeser, pembelilah yang menjadi pusat, dan teknologi bertanggung jawab menemukan apa yang diinginkan pembeli, bukan sebaliknya.
Bagi peritel, pergeseran ini memang menjadi tantangan. Model bisnis yang bergantung pada stok fisik dan etalase luas tengah dipertanyakan. Tapi di saat yang sama, teknologi juga membuka peluang: peritel dapat menggunakan data dan kecerdasan buatan untuk memahami pola belanja, menjaga stok sesuai permintaan, dan memberikan pelayanan yang lebih relevan.
Ini bukan teknologi demi teknologi, tapi sebuah langkah penting demi memenuhi kebutuhan Generasi Z. Kecepatan, personalisasi, keberlanjutan, dan nuansa (vibe) menjadi ukuran. Generasi Z tak lagi mencari, tapi memberikan instruksi; dan teknologi lah yang menyesuaikan. Dengan pergeseran ini, belanja bukan lagi proses mencari, tapi sebuah antarmuka yang pintar.
Singkatnya, ritel tengah bergeser dari aktivitas mencari (slow scroll) menjadi proses dibantu (smart assist).
Transformasi ritel yang tengah terjadi bukan sebatas masalah teknologi, tapi juga pergeseran mendalam pada cara manusia memenuhi kebutuhan, mencari, dan menemukan produk yang diinginkan.
Phia dan New Gen menjadi dua contoh penting bagaimana teknologi dapat diberdayakan demi kepuasan dan kebutuhan manusia — bukan demi teknologi itu sendiri.
Ini merupakan babak baru ritel, di mana algoritma, data, dan kecerdasan buatan bergandengan erat demi terciptanya sebuah perjalanan belanja yang lebih manusiawi, relevan, dan sesuai kebutuhan masing-masing orang.

