(Business Lounge Journal – Global News)
Apple Worldwide Developers Conference (WWDC) yang dimulai hari Senin ini (9/6) menghadirkan tantangan yang semakin akrab bagi raksasa teknologi asal Cupertino: perusahaan yang dulunya menjadi pelopor teknologi konsumen kini tampak tertinggal dalam perlombaan paling menentukan di industri — kecerdasan buatan (AI).
Meski Apple diperkirakan akan memperkenalkan pembaruan visual besar-besaran di seluruh sistem operasinya — termasuk antarmuka baru yang disebut “digital glass” yang terinspirasi dari headset Vision Pro — pengumuman terkait AI justru diperkirakan kurang menggigit, terutama jika dibandingkan dengan gebrakan yang telah dilakukan oleh para pesaingnya dalam beberapa bulan terakhir.
Kontras dengan Google I/O tiga minggu lalu sangat mencolok. Konferensi pengembang Google tersebut menampilkan kekuatan AI secara impresif: model baru yang bisa menciptakan musik secara real-time, menghasilkan video realistis dari instruksi sederhana, asisten pemrograman yang dapat menyelesaikan backlog proyek, serta teknologi text-to-speech dengan suara dan aksen yang bisa disesuaikan. Google bahkan memamerkan alat yang dapat menjelajah web dan menjalankan software berdasarkan arahan pengguna — langkah awal menuju agen AI otonom yang dianggap sebagai masa depan industri.
Sementara itu, pengumuman AI terbesar dari Apple diperkirakan hanya berupa pembukaan akses ke model foundation mereka bagi pengembang pihak ketiga. Namun, model ini hanya memiliki 3 miliar parameter — jauh lebih kecil dibanding model dari OpenAI, Google, atau bahkan model internal Apple sendiri yang dikabarkan mencapai triliunan parameter.
Menurut laporan Bloomberg, Apple akan meluncurkan lebih dari selusin pembaruan kecil lainnya, termasuk mengganti label fitur lama di Safari dan Foto menjadi “didukung AI,” serta menghadirkan terjemahan langsung untuk panggilan telepon dan AirPods — fitur yang sudah tersedia di Android selama bertahun-tahun. Mode optimalisasi baterai berbasis AI juga disebut sedang dikembangkan dan kemungkinan diluncurkan bersamaan dengan iPhone 17 yang lebih ramping pada musim gugur mendatang.
Yang paling mencolok justru apa yang tidak diumumkan. Pembaruan besar Siri yang dijanjikan tahun lalu kini ditunda tanpa batas waktu. Versi “Siri LLM” yang diharapkan bisa membuat asisten Apple selevel ChatGPT dikabarkan masih jauh dari rampung. Layanan AI untuk kesehatan dan aplikasi Health yang diperbarui juga ditunda hingga akhir 2026.
Sebagai gantinya, Apple akan kembali mengandalkan kekuatan utamanya: desain. Antarmuka baru bernama “Solarium” akan menghadirkan efek transparansi dan pencahayaan di iOS 26, iPadOS 26, macOS 26, dan sistem lainnya. Apple juga akan mengubah skema penamaan perangkat lunaknya menjadi berbasis tahun, dengan penamaan “26” menandai peluncuran untuk akhir 2025 — langkah branding yang ingin memberi kesan pembaruan besar.
Aplikasi Telepon (Phone) akan mendapatkan pembaruan desain besar pertama sejak 2007, dengan tampilan baru yang menggabungkan kontak, riwayat panggilan, dan pesan suara dalam satu jendela gulir. Aplikasi Pesan akan menambahkan fitur polling dan gambar latar untuk menyaingi WhatsApp. Sebuah aplikasi Game terpusat baru juga akan diperkenalkan untuk menegaskan posisi Apple di dunia game — meskipun masih jauh dari mengancam dominasi Nintendo atau Sony.
Namun, persoalan hardware Apple tampak lebih mengkhawatirkan dibanding keterlambatan AI-nya. Apple dulunya tak tertandingi di segmen perangkat premium, tetapi kini kompetitor mulai merebut pangsa pasar. Meta telah menjual lebih dari 2 juta kacamata pintar Ray-Ban sejak 2023 dan menargetkan produksi 10 juta unit per tahun pada 2026. Sementara itu, OpenAI bekerja sama dengan Jony Ive — mantan kepala desain Apple yang merancang iPhone dan iPad — untuk memproduksi 100 juta perangkat “AI companion” pada akhir tahun depan. Ini bukan sekadar persaingan perangkat lunak; ini ancaman langsung terhadap dominasi hardware Apple.
Semua pengumuman ini datang di tengah tahun yang sangat berat bagi Apple. Sepanjang 2025, harga saham Apple merosot 20%, menjadikannya performa terburuk di antara kelompok “Magnificent Seven” perusahaan teknologi, dan memunculkan pertanyaan apakah Apple masih pantas berada di kelompok elit itu.
Kekalahan hukum yang signifikan dalam kasus Epic Games juga mengguncang model bisnis App Store-nya, setelah hakim federal menyatakan Apple melanggar perintah pengadilan secara sengaja. Biaya tambahan dari tarif perdagangan juga diperkirakan mencapai $900 juta hanya pada kuartal ini, memaksa Apple untuk menata ulang rantai pasokannya yang selama ini bergantung pada China.
Yang paling meresahkan, pengiriman iPhone di Tiongkok — pasar smartphone terbesar di dunia — anjlok lebih dari 20% pada akhir 2024 menurut Counterpoint Research, menjatuhkan Apple ke posisi kelima di sana. Bahkan keunggulan AI pun tak bisa digunakan sebagai pembeda di pasar ini, karena integrasi ChatGPT terpaksa dihapus dari iPhone di Tiongkok demi mematuhi regulasi lokal.
Apple mungkin benar dalam mempertaruhkan pendekatan “berhati-hati” terhadap AI — dengan menekankan privasi dan pemrosesan di perangkat, bukan sekadar kekuatan komputasi. Namun, siklus teknologi bergerak sangat cepat. Tanpa terobosan berarti dalam waktu dekat, Apple berisiko kehilangan pijakan dalam perlombaan yang semakin ditentukan oleh AI, bukan desain semata.