Nvidia

Nvidia Tancap Gas Meski Terhambat China

(Business Lounge – Technology) Nvidia, raksasa semikonduktor yang selama ini dikenal sebagai otak di balik revolusi kecerdasan buatan (AI), kembali memukau pasar dengan laporan pendapatan kuartal terbarunya. Di tengah berbagai pembatasan ekspor ke China yang berpotensi memangkas miliaran dolar dari pendapatannya, perusahaan asal Santa Clara, California, justru mencatatkan rekor baru. Nilai pendapatan yang diraih mencapai $44,06 miliar dalam satu kuartal saja, menjadikannya salah satu pencapaian paling spektakuler dalam sejarah korporasi teknologi global.

Menurut laporan dari The Wall Street Journal, Nvidia mencatat lonjakan pendapatan sebesar 69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar pertumbuhan luar biasa ini disumbangkan oleh bisnis pusat data, yang naik hingga 73 persen dan menyumbang $39,1 miliar dari total pendapatan kuartalan. Kinerja ini jauh melampaui ekspektasi analis Wall Street yang sebelumnya memproyeksikan pendapatan di kisaran $38,9 miliar.

Para investor langsung merespons laporan ini dengan antusiasme tinggi. Saham Nvidia melonjak lebih dari 5 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, mendorong kapitalisasi pasar perusahaan ke level yang sangat jarang dicapai oleh perusahaan publik mana pun. Berdasarkan data Bloomberg, Nvidia kini berada di peringkat kedua perusahaan paling bernilai di dunia, hanya di bawah Microsoft, dengan valuasi pasar mencapai $3,3 triliun.

Namun di balik gemerlap angka tersebut, Nvidia menghadapi tantangan besar di pasar yang selama ini menjadi salah satu mesin pertumbuhannya: China. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan serangkaian pembatasan ekspor yang ketat terhadap chip AI canggih buatan Nvidia, termasuk seri A100, H100, dan H20. Langkah ini dilakukan demi alasan keamanan nasional, karena kekhawatiran bahwa teknologi mutakhir ini dapat digunakan oleh militer China atau pihak-pihak yang mengancam kepentingan strategis AS.

Dalam wawancara yang dikutip oleh The Times, CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan keprihatinannya terhadap larangan ekspor tersebut. Ia menilai bahwa kebijakan ini justru dapat merugikan posisi dominan Amerika Serikat dalam industri AI global. “China adalah pasar AI terbesar kedua di dunia. Jika kita menutup akses ke pasar ini sepenuhnya, bukan tidak mungkin mereka akan menciptakan ekosistem teknologi tandingan yang justru memperlemah posisi kita,” ujarnya.

Kekhawatiran Huang bukan tanpa dasar. Dalam laporan terpisah yang dirilis oleh Reuters, disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan China, termasuk Huawei, kini mulai memperkuat posisi mereka dengan mengembangkan chip AI lokal. Huawei bahkan dikabarkan sudah memiliki pengganti chip Nvidia untuk sektor komputasi AI dalam negeri. Hal ini membuat Nvidia kehilangan peluang pasar yang besar dan mendorong terjadinya stagnasi sementara di lini produk khusus China seperti chip H20.

Nvidia sendiri mengakui bahwa mereka terpaksa menanggung kerugian persediaan hingga $4,5 miliar akibat tumpukan chip H20 yang tak bisa dikirimkan ke China sesuai jadwal. Bahkan, potensi kerugian dari sisi pendapatan bisa mencapai $8 miliar pada kuartal-kuartal mendatang, jika tidak ada solusi ekspor yang memungkinkan penjualan ke negara tersebut.

Namun begitu, Nvidia tidak tinggal diam. Dalam laporan earnings call yang dipublikasikan oleh Business Insider, perusahaan mengungkapkan strategi barunya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar China. Jensen Huang menyampaikan bahwa Nvidia kini memperkuat kemitraan global di luar China, termasuk dengan mitra-mitra utama di India, kawasan Timur Tengah, dan Eropa Timur. “Kita sedang berada di era pembangunan ‘AI factories’ di seluruh dunia. Permintaan untuk GPU kami sangat tinggi dan tidak hanya datang dari Silicon Valley, tetapi juga dari Riyadh, Bengaluru, hingga Berlin,” ungkap Huang.

Selain itu, Nvidia mempercepat produksi dan pengiriman arsitektur chip AI terbaru mereka yang disebut Blackwell. Chip ini dirancang untuk memberikan efisiensi lebih tinggi dan performa komputasi yang jauh melebihi generasi sebelumnya. Menurut Huang, permintaan untuk chip Blackwell sudah melebihi kapasitas produksi tahun ini, yang menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam jalur pertumbuhan jangka panjang meskipun akses ke China ditutup sebagian.

Langkah diversifikasi pasar ini mendapat sambutan positif dari analis. Dalam laporan riset yang dikutip oleh CNBC, analis dari Morgan Stanley menyebut Nvidia sebagai “mesin pertumbuhan global AI yang tidak tergantikan dalam jangka menengah.” Mereka menilai bahwa fundamental bisnis Nvidia sangat kuat, terutama karena dominasi mereka dalam penyediaan GPU untuk training model AI besar seperti GPT, Claude, dan Gemini. “Nvidia tidak hanya menjual chip, mereka menjual infrastruktur masa depan,” tulis laporan tersebut.

Kinerja impresif ini juga terlihat dari berbagai metrik keuangan lain. Laba bersih perusahaan melonjak hingga $22,8 miliar, hampir dua kali lipat dari periode sebelumnya. Margin kotor juga meningkat menjadi 78 persen, salah satu yang tertinggi dalam industri teknologi global. Ini menandakan bahwa skala ekonomi dan efisiensi produksi Nvidia semakin optimal, seiring dengan bertumbuhnya permintaan.

Namun demikian, tantangan eksternal tetap ada. Di sisi regulasi, AS sedang mempertimbangkan pelarangan lebih luas terhadap ekspor chip dan teknologi AI yang sensitif, termasuk terhadap negara-negara seperti Vietnam dan Uni Emirat Arab. Hal ini bisa menghambat ekspansi Nvidia ke pasar-pasar alternatif. Selain itu, dalam laporan Financial Times, beberapa pesaing Nvidia seperti AMD dan Intel mulai memperkenalkan produk-produk baru dengan harga yang lebih kompetitif, meskipun belum mampu menyaingi performa GPU kelas atas Nvidia.

Meskipun persaingan mulai mengemuka, posisi Nvidia dalam ekosistem AI global masih sangat dominan. Mereka tidak hanya menjual hardware, tetapi juga menawarkan platform software seperti CUDA, yang menjadi standar industri untuk pengembangan model AI. Hal ini menciptakan “lock-in effect” yang membuat pelanggan cenderung tetap menggunakan produk Nvidia karena kompatibilitas dan ekosistem pendukungnya.

Dalam kesempatan yang sama, Huang juga menyampaikan visinya untuk masa depan Nvidia sebagai pendorong utama transformasi industri global. “Dunia akan membutuhkan lebih banyak pusat data AI dalam lima tahun ke depan dibandingkan yang dibangun dalam dua dekade terakhir,” katanya, mengutip potensi besar dari otomatisasi, robotika, hingga ilmu hayati berbasis AI. “Nvidia akan berada di jantung dari revolusi itu,” tambahnya.

Pasar pun tampaknya sepakat dengan keyakinan tersebut. Volume perdagangan saham Nvidia mencapai lebih dari 300 juta lembar pada hari laporan keuangan dirilis, menunjukkan minat investor yang luar biasa tinggi. Bahkan, dalam beberapa jam setelah rilis laporan, valuasi Nvidia bertambah sekitar $150 miliar—lebih besar dari kapitalisasi pasar total banyak perusahaan Fortune 500.

Melihat ke depan, Nvidia memproyeksikan pendapatan kuartal berikutnya akan mencapai $45 miliar, sedikit lebih tinggi dari kuartal ini. Meskipun perusahaan mengakui bahwa pertumbuhan mungkin akan melambat seiring dengan peningkatan kapasitas kompetitor dan tekanan geopolitik, manajemen tetap optimis. Mereka percaya bahwa keunggulan teknologi, ekosistem global, dan permintaan yang meluas untuk komputasi AI akan menjadi pendorong utama pertumbuhan jangka panjang.

Di tengah semua ketidakpastian—mulai dari larangan ekspor hingga tantangan geopolitik—Nvidia tampaknya telah menemukan resep untuk bertahan dan bahkan berkembang. Mereka bukan hanya bertahan di tengah badai, tetapi justru menavigasinya dengan percaya diri dan kecepatan tinggi. Dalam dunia di mana teknologi berkembang lebih cepat dari regulasi, Nvidia tampaknya telah memahami bahwa kelincahan, diversifikasi, dan keunggulan teknologilah yang menjadi kunci bertahan dalam persaingan global.