(Business Lounge – Global News) Industri media Amerika kembali diguncang oleh perubahan kepemimpinan besar, kali ini dari jantung pemberitaan nasional, CBS News. Wendy McMahon, pemimpin tertinggi CBS News dan figur berpengaruh dalam transformasi digital jaringan tersebut, dikabarkan akan meninggalkan jabatannya di tengah ketegangan internal yang terus meningkat di induk perusahaannya, Paramount Global. Seperti dilaporkan The New York Times, kepergian McMahon menjadi yang kedua dalam rentang waktu singkat setelah sebelumnya pemimpin bisnis Paramount Studios juga mundur, memicu kekhawatiran soal arah masa depan perusahaan yang dulunya menjadi raksasa hiburan global.
McMahon telah menjadi tokoh sentral dalam upaya CBS News untuk menyesuaikan diri dengan lanskap media yang berubah cepat. Ia dikenal sebagai pemimpin progresif yang mendorong integrasi newsroom dengan platform digital, memperkuat CBS News Streaming, dan memperluas jangkauan melalui kemitraan regional. Di bawah kepemimpinannya, CBS mencoba mempertahankan identitas jurnalistik klasik sambil mencoba terhubung dengan audiens muda. Namun, menurut laporan dari Bloomberg, di balik layar terjadi gesekan antara newsroom dan manajemen puncak Paramount yang semakin politis, terutama sejak isu keberpihakan perusahaan terhadap calon presiden dari Partai Republik kembali mencuat.
Sumber yang dikutip oleh Wall Street Journal mengungkapkan bahwa ketegangan yang memuncak sejak awal 2024 terkait dengan strategi editorial CBS terhadap liputan kampanye Donald Trump. Sementara newsroom CBS tetap berkomitmen pada peliputan yang faktual dan non-partisan, tekanan dari jajaran eksekutif Paramount yang memiliki kepentingan bisnis lebih luas mulai menciptakan friksi. Paramount disebut menghadapi dilema besar: di satu sisi ingin menjaga posisi editorial CBS sebagai institusi jurnalistik yang kredibel, tetapi di sisi lain tergoda untuk mengakomodasi tekanan politik dan komersial yang datang dari kelompok pro-Trump, termasuk beberapa investor besar yang memiliki saham signifikan di perusahaan tersebut.
Wendy McMahon, menurut banyak kalangan, berada di posisi sulit. Sebagai jurnalis dan eksekutif, ia dituntut menjaga integritas redaksi, namun juga harus merespons arahan korporasi yang makin bersinggungan dengan dinamika politik nasional. Dalam laporan mendalam The New York Times, sejumlah karyawan CBS menyatakan bahwa McMahon telah berulang kali mencoba menengahi perbedaan antara nilai editorial dan arah bisnis, namun tekanan terus meningkat. Ketika keputusan penting harus diambil terkait liputan investigasi terhadap kampanye politik menjelang pemilu 2024, McMahon merasa ruang geraknya semakin terbatas.
Kabar pengunduran diri McMahon menciptakan keprihatinan luas di kalangan jurnalis. CBS News merupakan salah satu dari tiga jaringan berita tradisional AS, bersama NBC dan ABC, yang selama dekade terakhir berjuang mempertahankan relevansi di tengah naiknya pengaruh media partisan dan platform sosial. Di tengah ketidakpastian media saat ini, stabilitas kepemimpinan dan independensi redaksi dipandang sebagai nilai langka. Axios melaporkan bahwa sejumlah staf CBS khawatir kepergian McMahon akan diikuti oleh eksodus figur-figur kunci di ruang redaksi, khususnya mereka yang memiliki komitmen kuat pada jurnalisme berbasis fakta.
Ketegangan ini terjadi pada saat Paramount sendiri berada dalam masa transisi. Perusahaan induk CBS itu telah lama mencoba menyatukan unit-unit bisnisnya—film, televisi, streaming, dan berita—dalam satu strategi terpadu, tetapi hasilnya masih jauh dari harapan. Platform streaming mereka, Paramount+, masih kalah bersaing dari Disney+, Netflix, dan HBO Max. Sementara itu, unit film dan TV tradisional mengalami penurunan pendapatan. Menurut laporan keuangan yang dirilis awal tahun ini, Paramount mencatatkan penurunan laba sebesar 15 persen dibanding tahun lalu.
Persoalan semakin rumit ketika muncul spekulasi bahwa beberapa pemegang saham utama, termasuk mereka yang berafiliasi dengan kelompok konservatif, mencoba mendorong perubahan arah kebijakan editorial CBS. Politico bahkan mengutip sumber internal yang menyebut adanya “intervensi halus” dalam pemilihan narasi berita tertentu. Walaupun pihak Paramount membantah tuduhan ini, pengunduran diri McMahon semakin memperkuat kesan bahwa garis antara bisnis dan redaksi mulai kabur.
Kepergian McMahon menambah daftar panjang ketidakpastian yang membayangi industri media mainstream AS. Beberapa analis menyebut situasi ini mencerminkan krisis identitas yang lebih dalam, di mana perusahaan media besar harus memilih antara dua jalur: mempertahankan kredibilitas jurnalistik yang netral, atau menyerah pada realitas bisnis dan politik yang makin terpolarisasi. Dalam editorialnya, The Washington Post menyebut bahwa kepergian figur seperti McMahon adalah “sinyal bahaya” tentang bagaimana ruang independensi dalam media berita kini menyempit secara drastis.
CBS News bukan satu-satunya yang menghadapi tekanan semacam ini. NBC News, CNN, bahkan The New York Times juga mengalami perubahan arah editorial dalam beberapa tahun terakhir, seringkali diiringi dengan perombakan besar-besaran di tingkat eksekutif. Fenomena ini terjadi seiring meningkatnya intervensi pemilik dan investor terhadap konten, terutama menjelang tahun-tahun politik panas. Dengan media yang kini tidak lagi hanya menyajikan berita, tetapi juga membentuk opini publik secara langsung, tekanan untuk berpihak makin tak terhindarkan.
Dari sisi karyawan, suasana hati sedang tidak baik. Seorang produser senior CBS yang tidak disebutkan namanya oleh Variety mengatakan bahwa “keputusan editorial kini harus melewati lebih banyak lapisan tinjauan, bukan untuk akurasi, tapi untuk kepentingan reputasi korporasi.” Ia juga menyebutkan bahwa tim redaksi merasa frustrasi karena kerja jurnalistik mereka kadang dianggap sebagai “risiko reputasi” bagi induk perusahaan.
Wendy McMahon sendiri belum memberikan pernyataan publik resmi, namun dalam memo internal yang dibagikan kepada staf dan dikutip oleh CNN, ia menyampaikan terima kasih atas kerja keras seluruh tim dan menyebut bahwa “jurnalisme yang tangguh tetap menjadi landasan demokrasi yang sehat.” Kalimat ini dianggap sebagai pesan tersirat mengenai pertentangannya dengan arah perusahaan, dan memperkuat anggapan bahwa pengunduran dirinya adalah bentuk protes halus terhadap tekanan internal yang dirasakannya.
Apa arti semua ini bagi CBS ke depan masih belum jelas. Paramount belum mengumumkan siapa yang akan menggantikan posisi McMahon, dan apakah akan mempertahankan struktur kepemimpinan yang sama. Sejumlah nama seperti Neeraj Khemlani dan Susan Zirinsky sempat disebut sebagai kandidat potensial, namun belum ada kepastian. Yang jelas, masa depan CBS kini berada di persimpangan penting: apakah akan memilih untuk mempertahankan integritas jurnalistiknya, atau bertransformasi mengikuti logika pasar dan tekanan politik.
Reaksi publik pun beragam. Kalangan jurnalis veteran menyayangkan kepergian McMahon, sementara kelompok konservatif tertentu justru menyambutnya sebagai “peluang” bagi CBS untuk lebih sejalan dengan “suara mayoritas Amerika.” Hal ini memperlihatkan betapa dalamnya jurang polarisasi media di Amerika Serikat saat ini.
Situasi ini juga menjadi cerminan dari krisis kepercayaan terhadap media secara umum. Survei terbaru dari Gallup menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap media berita arus utama di AS berada pada titik terendah dalam dua dekade terakhir. Hanya sekitar 32 persen responden yang menyatakan masih percaya bahwa media menyampaikan informasi secara objektif. Dalam konteks seperti inilah, pemimpin seperti Wendy McMahon menjadi sangat penting—bukan hanya sebagai manajer, tetapi sebagai penjaga nilai.
Perjalanan karier McMahon, dari produser lokal hingga memimpin salah satu jaringan berita paling berpengaruh di dunia, kini berakhir di tengah turbulensi politik dan korporat yang makin sulit dibedakan. Namun jejak yang ia tinggalkan akan terus menjadi bahan evaluasi: apakah masih mungkin ada ruang untuk jurnalisme yang berintegritas dalam perusahaan media publik yang terikat kepentingan politik dan pasar?

