(Business Lounge – Automotive) Rolls-Royce Holdings plc mengawali tahun 2025 dengan kekuatan penuh, mencatatkan kinerja yang meyakinkan di seluruh lini bisnis dan mempertahankan panduan keuangannya. Perusahaan teknik asal Inggris yang identik dengan mesin jet sipil dan militer ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pendapatan, laba, dan arus kas bebas berkat lonjakan permintaan di sektor dirgantara sipil serta meningkatnya pesanan dari divisi pertahanan dan sistem tenaga. Kabar ini dirilis bersamaan dengan pernyataan dari manajemen yang menegaskan bahwa strategi transformasi yang dimulai sejak awal 2023 kini mulai menampakkan hasil yang nyata.
Dalam laporan terbarunya, Rolls-Royce mencatatkan lonjakan pendapatan sebesar 16 persen pada tahun fiskal 2024, menjadi £17,85 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut laporan IG Group, perusahaan juga mencatatkan lonjakan laba operasi sebesar 57 persen menjadi £2,5 miliar, sementara arus kas bebas naik 88 persen menjadi £2,4 miliar. Salah satu pencapaian penting adalah pergeseran posisi keuangan dari utang bersih sebesar £1,45 miliar menjadi kas bersih sebesar £475 juta. Keberhasilan ini membuat perusahaan memperkuat kepercayaan investor dan analis terhadap kelanjutan tren pertumbuhan pada tahun ini.
Pendorong utama kinerja ini datang dari divisi Civil Aerospace, yang selama pandemi menjadi titik terlemah dalam portofolio Rolls-Royce. Kini, divisi tersebut kembali menjadi lokomotif pertumbuhan. Dalam laporan resmi yang diterbitkan melalui situs perusahaan, Rolls-Royce.com, disebutkan bahwa jam terbang mesin meningkat 25 persen selama 2024, yang pada gilirannya mendorong peningkatan pendapatan layanan purna jual sebesar 24 persen. Margin laba operasi di divisi ini juga naik menjadi 16,6 persen, dari sebelumnya hanya 11,6 persen. Salah satu mesin yang paling banyak menyumbang jam terbang adalah Trent XWB yang digunakan oleh Airbus A350, yang mencatatkan tingkat keandalan tinggi dan permintaan layanan intensif.
Bukan hanya sektor sipil yang mengalami lonjakan. Divisi pertahanan mencatatkan pertumbuhan kuat, dengan laba operasi naik menjadi £644 juta, melebihi ekspektasi analis yang dikutip oleh Smartkarma. Divisi ini diuntungkan oleh peningkatan permintaan dari negara-negara NATO dan sekutu Barat, yang tengah meningkatkan anggaran pertahanan mereka di tengah ketegangan geopolitik yang terus berlangsung. Rolls-Royce terus memasok mesin turbin untuk kapal perang, pesawat angkut militer, dan sistem propulsi kapal selam. Di saat bersamaan, divisi Power Systems, yang memproduksi generator dan mesin diesel besar untuk sektor industri dan energi, juga membukukan laba operasi sebesar £560 juta. Divisi ini mendapat lonjakan permintaan dari kawasan Asia dan Eropa Timur, terutama untuk proyek energi berkelanjutan dan pembangkit hybrid.
Di balik pencapaian tersebut, terdapat strategi transformasi mendalam yang dipimpin oleh CEO Tufan Erginbilgic, mantan eksekutif BP yang ditunjuk sebagai CEO Rolls-Royce pada Januari 2023. Dalam berbagai wawancara yang dikutip oleh Luckbox Magazine, Erginbilgic menyebut bahwa Rolls-Royce sebelumnya adalah perusahaan “di bawah potensi” dan perlu reformasi menyeluruh. Ia meluncurkan strategi transformasi tiga pilar: efisiensi biaya, penguatan struktur keuangan, dan penataan ulang portofolio bisnis. Langkah-langkah ini mencakup pengurangan tenaga kerja, divestasi bisnis non-inti seperti Electrical Aircraft Unit dan Small Modular Reactor (SMR) di awal tahun, serta renegosiasi kontrak layanan jangka panjang.
Strategi ini tidak hanya berhasil menyehatkan struktur biaya, tetapi juga memulihkan kepercayaan investor. Saham Rolls-Royce naik lebih dari 30 persen sejak awal tahun 2025 dan mencetak kenaikan tiga kali lipat dibandingkan posisi dua tahun lalu. Seperti diberitakan oleh Bloomberg, para analis pasar menyebut Rolls-Royce sebagai salah satu “kebangkitan paling impresif” di sektor industri Eropa. Bahkan lembaga pemeringkat Moody’s menaikkan peringkat utang Rolls-Royce ke investment grade untuk pertama kalinya sejak 2020.
Namun, tidak semua pihak menyambut langkah transformasi ini tanpa kekhawatiran. Serikat pekerja di Inggris menyuarakan keprihatinan atas rencana efisiensi yang berpotensi mengurangi lapangan kerja di fasilitas produksi utama seperti Derby dan Bristol. Beberapa pengamat juga memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada sektor dirgantara sipil bisa menimbulkan risiko jangka panjang apabila terjadi perlambatan di sektor penerbangan global. Dalam tanggapannya, Erginbilgic menyatakan bahwa diversifikasi pendapatan tetap menjadi prioritas dan perusahaan akan terus memperkuat divisi Power Systems serta mengeksplorasi peluang baru dalam sektor pertahanan dan energi.
Dari sisi eksternal, Rolls-Royce tidak kebal terhadap tekanan global. Kenaikan tarif ekspor, gangguan logistik, dan risiko geopolitik tetap membayangi rantai pasok komponen vital, terutama dari Asia dan Amerika Utara. Meski demikian, seperti dikutip oleh Nasdaq, Rolls-Royce tetap mempertahankan panduan laba operasi dasar antara £2,7 miliar hingga £2,9 miliar untuk tahun 2025, dengan arus kas bebas diperkirakan mencapai £2,8 miliar. Manajemen juga memperkirakan bahwa peningkatan efisiensi akan terus mendongkrak margin operasi hingga mencapai 15 persen secara konsolidasi.
Para investor menyambut baik proyeksi tersebut, terutama karena perusahaan menunjukkan kemampuan untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan disiplin biaya. Rolls-Royce telah menandatangani beberapa kontrak strategis baru, termasuk dengan Emirates dan Singapore Airlines untuk layanan jangka panjang mesin Trent, serta kontrak militer baru dengan Departemen Pertahanan AS untuk mesin turboprop. Perusahaan juga menargetkan pasar energi bersih dengan mengembangkan turbin gas hidrogen dan sistem propulsi hibrida untuk penggunaan industri.
Di tengah lanskap industri global yang penuh ketidakpastian, kebangkitan Rolls-Royce menjadi kisah sukses yang menarik perhatian banyak pihak. Dari posisi defensif di masa pandemi, perusahaan kini menunjukkan posisi ofensif dengan manuver strategis yang agresif namun disiplin. Para analis menyebut bahwa keberhasilan Rolls-Royce bukan semata-mata karena pemulihan ekonomi global, tetapi lebih kepada kemampuan manajemen untuk mengeksekusi strategi dengan cepat dan konsisten.
Dalam dunia industri di mana perubahan cepat adalah norma baru, transformasi Rolls-Royce bisa menjadi studi kasus penting mengenai bagaimana perusahaan tradisional bisa beradaptasi dan bahkan memimpin dalam era baru industri berkelanjutan dan efisiensi digital. Jika laju pertumbuhan dan reformasi ini dapat dipertahankan, maka bukan tidak mungkin Rolls-Royce akan kembali menjadi salah satu pemimpin teknologi industri global yang paling dihormati, tidak hanya dalam kinerja finansial tetapi juga dalam inovasi berkelanjutan.