(Business Lounge Journal – News & Insight) Selama Perang Dunia II, militer AS merekrut penduduk asli Amerika berbahasa Navajo dan bersama-sama mereka mengembangkan sandi untuk mengirimkan informasi melewati pemecah sandi Jepang dan Jerman. PemecahSandi Jepang memangterkenal sangat mahir. Bahkan mereka telah dididik tinggal di AS untuk mempelajari bahasa AS sehari-hari dan berbagai slang-nya. Akibatnya, banyak dari rahasia tentara AS yang diketahui dan bahkan sangat merugikan tentara AS. Hingga suatu ketika seorang mantan prajurit PD I yang hidup di Navajo Indian Reservation dan fasih berbahasa Navajo, merasa berbeban untuk membantu merumuskan kata sandi dari bahasa Navajo, maka usulnya pun diterima militer AS saat itu dan direkrutlah sampai 200 orang asli Navajo untuk membantu. Sandi dari bahasa Navajo ini termasuk berperan untuk menjatuhkan Jepang pada saat bom atom diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki. Hingga Jepang menyerah kalah kata sandi tersebut tidak berhasil dipecahkan lawan.
Selain itu suku Navajo yang ikut pelatihan militer sangat terbukti kekuatan fisiknya. Bahkan ketika para marinir pingsan karena cuaca panas, mereka tetap berjaya sebab mereka sudah terbiasa hidup dalam cuaca demikian. Begitu juga kecerdikan mereka dalam melacak, memandu, gaya hidup semuanya sangat membantu para militer.
Kode itu Tidak Pernah Terpecahkan
Richard Epstein, seorang ahli bahasa dan profesor di Rutgers University di Camden, New Jersey, mengakui bahwa struktur bahasa Navajo yang kompleks telah menjadi sandi yang sukses.
Bahkan untuk dapat memecahkan sandi ini, Hitler pernah mengirimkan orang-orangnya ke AS untuk mempelajari bahasa Navajo, namun tidak berhasil.
“Itu begitu luar biasa rumit yang musuh tidak tahu bagaimana cara kerjanya,” katanya. “Namun demikian, kami mengambil anak-anak mereka keluar dan melatih mereka untuk berbicara bahasa Inggris saja, dengan alasan bahwa bahasa mereka adalah rendah.”
Meremehkan Bahasa Asli
Lebih dari 100 tahun yang lalu, pemerintah AS mulai mengirim anak-anak penduduk asli Amerika ke asrama yang semua instruksi diberikan dalam bahasa Inggris. Budaya dan bahasa asli anak-anak itu pun sangatterhambat. Mereka harus berbicara dalam bahasa inggris sehingga mereka kehilangan bahasa Navajo mereka.
Namun, dalam 20 sampai 30 tahun terakhir, pemerintah suku sudah mulai mempromosikan pengajaran bahasa asli Amerika di sekolah. Departemen Pendidikan AS sekarang juga mendukung program bahasa asli Amerika dengan mengajarkannya di sekolah-sekolah mulai sekolah dasar hingga sekolah lanjutan. Hal ini sangat memainkan peranan penting untuk melestarikan bahasa asli Amerika ini.
Navajo Nation
Kota Holbrook adalah satu jam dengan mobil dari Navajo Nation. Wilayah 69.000 kilometer persegi ini adalah yang terbesar dari 326 reservasi Indian di Amerika Serikat, atau sebsar Irlandia. The Navajo Nation meliputi bagian dari empat negara di barat daya Amerika.
Selama tahun 1800-an, peningkatan jumlah pemukim Eropa di Amerika pindah ke barat. Pada tahun 1864, pemerintah federal mulai kampanye untuk mendeportasi Navajo dari tanah mereka. Penduduk asli dipindahkan ke barat laut dalam serangkaian iring-iringan yang disebut “Long Walk.” Iring-iringan berjalan sangat mencekam di bawah ancaman kematian.
Pemimpin Navajo dan pemerintah AS mencapai perjanjian perdamaian pada tahun 1868 sehingga didirikanlah Navajo Indian Reservation.
Hari ini, lebih dari 250.000 orang tinggal di Navajo Nation. Mereka memiliki undang-undang sendiri, mengibarkan bendera mereka sendiri, dan memilih presiden mereka sendiri. Sensus yang diadakan pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sekitar 170.000 orang Navajo berbicara dalam bahasa Navajo di rumah. Ini adalah salah satu bahasa asli Amerika yang paling kuat hari ini.
Berbicara dalam Bahasa Navajo Menajdi Sebuah Hak
Tapi ada kekhawatiran yang berkembang bahwa bahasa Navajo dapat menghilang. Tujuh puluh tahun yang lalu, hampir semua orang Navajo akan berbicara Navajo sebagai bahasa pertama mereka. Begitu juga hari ini, beberapa Navajo muda dapat berbicara bahasa kakek-nenek mereka.
Sebuah studi pada tahun 1998 menemukan bahwa hanya 30 persen dari Navajo masuk sekolah berbicara Navajo sebagai bahasa ibu mereka. Hanya 30 tahun sebelumnya, 90 persen dari tahun pertama adalah siswa Navajo.
Linguis Epstein mengatakan kelangsungan hidup sebuah bahasa tergantung bagaimana meneruskan bahasa tersebut dari satu generasi kepada generasi berikutnya. “Semua orang harus memiliki hak untuk berbicara bahasa mereka sendiri, seperti halnya mereka harus memiliki hak untuk mempraktikkan agama mereka,” katanya. “Karena bahasa mereka adalah sama baiknya dengan bahasa orang lain. Jadi jika Anda mengambilnya, Anda telah mengambil sumber daya besar untuk mengetahui sesuatu tentang bagian dari kehidupan manusia. Semua orang harus memiliki hak untuk berbicara bahasa mereka dan untuk meneruskan bahasa mereka kepada anak-anak mereka dan untuk menjaga budaya hidup mereka.”
citra/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image : wikipedia

