(Business Lounge – Global News) Bank Dunia mengatakan akan menghabiskan US $ 5 miliar atau sekitar 65 triliun hingga tahun 2020 dalam upayanya untuk menjangkau lebih dari 120 juta anak-anak yang putus sekolah dan sejumlah lebih dari 250 juta yang tidak dapat membaca atau menulis meskipun bersekolah.
Demikianlah Bank Dunia mengumumkan rencananya pada Senin (18/5) untuk menggandakan investasi dalam pendidikan publik selama lima tahun ke depan dengan fokus utama pada peningkatan kualitas pendidikan daripada berkonsentrasi pada peningkatan angka pendaftaran. Sebab angka yang diumumkannya adalah dua kali lipat dari pengeluaran lima tahun sebelumnya
Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan bahwa bank mengadopsi sistem pembiayaan berbasis hasil dengan kondisi negara hanya mendapatkan uang jika mereka memenuhi target kinerja yang disepakati.
Pengumuman ini diberikan sehubungan dengan lebih dari 160 negara berkumpul di Korea Selatan pada Selasa (19/5) untuk memulai World Education Forum untuk menetapkan tujuan pendidikan baru untuk 15 tahun ke depan, terutama pada negara-negara berkembang. Mereka akan menjadi bagian dari Sustainable Development Goals yang akan diadopsi oleh PBB pada bulan September yang akan menggantikan Millennium Development Goals dan menandai era baru dalam memerangi kemiskinan secara global.
“Yang benar adalah bahwa sebagian besar sistem pendidikan tidak melayani anak-anak miskin dengan baik,” demikian dikatakan Kim dalam sebuah pernyataan. “Dengan hampir satu miliar orang sisanya terjebak dalam kemiskinan yang ekstrim saat ini, didukung dengan upaya untuk meningkatkan pembelajaran bagi anak-anak maka akan membuka sejumlah besar potensi manusia selama bertahun-tahun yang akan datang.”
Bank Dunia, yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan secara ekstrim pada tahun 2030, telah menghabiskan US $ 40 miliar atau setara dengan 520 triliun rupiah untuk pendidikan sejak tahun 2000 dan menggambarkan dirinya sebagai penyandang dana pendidikan internasional terbesar di dunia. Sebelumnya Bank Dunia telah berpengalaman dalam pembiayaan berbasis pendidikan namun kemudian terjadi pergeseran fokus setelah target pendidikan yangdicanangkan pada Millennium Development Goals mendapatkan kritik karena terlalu banyak fokus pada pendaftaran tanpa meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kim menunjuk sebuah program di Pakistan ketika Bank Dunia menawarkan US $ 350 juta atau setara dengan 4,5 triliun rupiah dari pinjaman atau kredit, dengan program untuk mencapai peningkatan pendaftaran bagi anak-anak dari keluarga miskin, guru dengan kualitas yang baik, buku pelajaran yang dapat diperoleh para siswa tepat pada waktunya.
“Adanya perbedaan dalam hasil setelah kami beralih pada hasil yang berbasis pembiayaan sangatlah mencolok,” demikian dikatakan Kim seperti dilansir oleh Reuters.
Para ahli dari Bank Dunia melihat investasi di bidang pendidikan sebagai faktor kunci dalam pemberantasan kemiskinan secara global. Mereka mengatakan kualitas pendidikan adalah prediktor kuat dari tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang dapat membantu orang keluar dari kemiskinan dengan meningkatkan pendapatan sebesar 10 persen untuk setiap tahun pendidikan. Juga ketika negara meningkatkan pendidikan bagi anak perempuan, maka peningkatan pendapatan per kapita dapat berpengaruh secara keseluruhan.
“Tujuan untuk tahun 2030 tidak hanya untuk menjangkau semua anak-anak yang tersisa di sekolah, tetapi juga untuk memastikan bahwa mereka melakukan proses belajar,” demikian dikatakan Kim.
uthe/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana
Image: World Bank

