Marks & Spencer

Marks & Spencer Mengubah Strategi Bisnisnya di Tiongkok

(Business Lounge – Business Insight) Marks & Spencer Group PLC mengubah strategi bisnisnya di Tiongkok, dengan menutup toko-toko di sekitar Shanghai dan merencanakan untuk mendirikan toko di Beijing dan Guangzhou pada tahun ini. Sebagai akibatnya, sekitar 60 orang diperkirakan akan diberhentikan sebagai bagian dari penutupan toko pengecer pakaian dan makanan Inggris yang berkantor pusat di Shanghai, demikian dilansir oleh WSJ.

Menutup Toko di Shanghai

Perusahaan yang berbasis di London ini telah memiliki 15 toko di Shanghai, tetapi tidak memiliki toko di tempat lain di Tiongkok. Pada Agustus lalu perusahaan yang telah berusia 131 tahun ini juga telah menutup lima toko dan hanya kan menyisakan enam toko di Shanghai dan membangun empat toko di kota-kota sekitarnya.

Perlambatan ekonomi Tiongkok telah menimbulkan tantangan bagi banyak perusahaan multinasional dalam apa yang penting bagi pertumbuhan pasar. Pengecer elektronik Best Buy Co, yang berbasis di Richfield, pada bulan Desember mengatakan bahwa pihaknya menjual divisinya di Tiongkok kepada kelompok real estate Tiongkok dan akan lebih fokus pada AS. (Baca: Best Buy Tinggalkan Tiongkok). Demikian pula, Revlon yang berbasis di New York pada akhir 2013 telah memutuskan keluar dari Tiongkok oleh karena melemahnya permintaan di negara ini.

Tiongkok Menjadi Prioritas Pasar

Tetapi kebalikannya, pada tahun lalu M & S menandai Tiongkok sebagai salah satu dari “prioritas pasar internasional” sehingga perusahaan ini pun berkomitmen penuh untuk bisnisnya di Tiongkok yang telah dirintis sejak 2008. Pada bulan November, Chief Executive Marc Bolland juga mengatakan bahwa penjualan M & S mengalami pertumbuhan di Tiongkok, meskipun ia menolak mengatakan apakah toko-tokonya menguntungkan.

Selain ekspansi ke Beijing dan Guangzhou, M & S mengatakan akan membuka lebih banyak lagi stand-alone food stores di Hong Kong pada tahun ini dan berikutnya. Pertumbuhan M & S pada bisnis makanan telah semakin melampaui bisnis pakaiannya. Pengecer juga mengatakan akan memodernisasi toko di Hong Kong, serta salah satu dari dua toko andalannya di Shanghai, telah memasang layout baru. M & S saat ini memiliki 18 toko di Hong Kong dan satu di Macau.

Perusahaan pada Senin (2/3) mengatakan sedang mengevaluasi potensi mitra lokal di wilayah tersebut. M & S terus akan berupaya membangun brand-nya di seluruh Tiongkok melalui kehadiran Web.

M & S saat ini memiliki 480 toko internasional di seluruh Eropa, Timur Tengah dan Asia. Pada bulan Januari, M & S melaporkan bahwa penjualan internasional turun 5,8% pada kuartal ketiga, di tengah apa yang digambarkan sebagai “mata uang yang memburuk dan isu-isu makroekonomi” di Timur Tengah dan Rusia. M & S memang sedang terus berjuang untuk mendapatkan pasarnya kembali bahkan di negara asalnya. (Baca: Marks & Spencer Berjuang Dapatkan Pasarnya Lagi).

uthe/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana

 

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x