How To Measure Your Employee’s Loyalty and Contribution ?

(Businesslounge – HR) – Banyak perusahaan ingin memastikan apakah karyawannya setia dan terus memberikan kontribusi yang baik demi kemajuan perusahaan. Berbagai ilmu menyediakan solusi dan cara untuk mengukurnya tinggal kita memilih mana yang paling cocok untuk digunakan oleh perusahaan kita karena secanggih apapun cara tersebut jika tidak dapat kita jalankan sama saja sia-sia.

Salah satu contoh apa yang pernah terjadi di perusahaan tempat saya pernah bekerja, seorang karyawan di tingkat manager ketika dinilai hasil kerja berdasarkan target yang harus dicapai, dia selalu tidak mencapai targetnya. Di satu sisi hampir setiap hari ia bekerja sampai malam dan terlihat begitu bersemangat dan pantang menyerah, namun tetap saja pada akhir bulan targetnya tidak tercapai. Coaching dan conselling juga sudah dilakukan secara berkala dan konsisten hasilnya tetap tidak ada perubahan dan berdasarkan hasil pendekatan tidak didapati kesalahan yangbermakna. Apakah sebenarnya yang salah? Apa akar masalahnya?

Perusahaan sebenarnya tidak mau kehilangan manager ini karena sikap kerjanya baik, semangat , pendidikan sangat bagus (S2), sesuai bidangnya dan dari universitas ternama juga tidak mudah mendapatkan penggantinya, namun atasannya kuatir bahwa kinerja divisinya akan hancur jika terus menerus tidak dapat memenuhi target. Hal ini menjadi pemikiran yang sangat dominan bagi perusahaan bukan hanya atasannya langsung. Sampai tibalah pada pemikiran atasannya untuk turun langsung ke lapangan bukan hanya untuk memonitor kinerja manager ini tetapi juga ikut ambil bagian melakukan tugas si manager secara intensif. Hasilnya? Benar saja didapati beberapa kelemahan manager ini dan hal itu justru merupakan kunci strategic yang tidak dikuasainya.

Jika saja kinerja karyawan diukur hanya berdasarkan poin-poin (contohnya KPI) yang ada dalam sistem penilaian maka sangat besar kemungkinan hasilnya luarbiasa baik atau sebaliknya menjadi buruk karena subyektifitas pemimpin namun hal ini belum tentu dapat mengukur secara tepat dan benar dalam kaitannya menemukan ketepatan masalah dan solusinya. Cara lain yang dapat ditambahkan adalah setiap atasan turun langsung secara berkala mengikuti proses yang ada sembari melakukan monitoring dan penilaian terhadap kinerja karyawan. Dengan demikian dapat disimpulkan dasar-dasar pengukuran loyalitas dan kontribusi karyawan adalah:

1.Bukan berdasarkan lamanya karyawan telah bekerja melainkan melalui sikap kerja (attitude) dan kontribusi kerjanya.

2.Bukan hanya karena apa yang kelihatan didepan mata atasan namun juga dari penilaian bawahan dan rekan sekitarnya.

3.Pengetahuan dan ketepatan tindakan yang dilakukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

4.Keterbukaan karyawan terhadap kinerja dirinya sendiri kepada atasannya (komunikasi 2 arah harus berjalan dengan baik).

5.Pencapaian target nyata dari setiap tugas dan tanggung jawabnya

Seluruh dasar-dasar tersebut benar-benar harus menjadi bagian penilaian akhir. Sangat disayangkan jika pimpinan menghapus semua nilai baik karyawannya hanya karena pertentangan pendapat di akhir penilaian misalnya (kecuali bila menyangkut masalah attitude). Masing-masing baik penilai dan yang dinilai harus mengawali penilaian dengan objektif yang sama yaitu hanya demi kemajuan perusahaan dan pengembangan kedepan bagi keduanya. Jika hal ini sudah benar dipahami kita dapat mengurangi kemungkinan apapun yang tidak ada kaitannya dengan kemurnian penilaian kerja karyawan.

Salam sukses!

(es/ic/bl)