(Business Lounge – News) Amerika Serikat dan Indonesia memperkuat kerja sama untuk melestarikan bangkai kapal USS Houston (CA-30), kapal perang Amerika Serikat yang tenggelam dalam Perang Dunia II dan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 650 pelaut serta personel Korps Marinir AS.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti peringatan oleh Kuasa Usaha ad interim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Joy Sakurai, bersama Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Madya Edwin, pada Kamis (15/10). Prasasti itu nantinya akan dipasang di dasar laut di dekat bangkai kapal dalam sebuah upacara penghormatan yang dijadwalkan berlangsung pada awal November.
Kegiatan tersebut akan melibatkan operasi penyelaman gabungan Angkatan Laut Amerika Serikat dan TNI Angkatan Laut. Selain peletakan karangan bunga dan pemasangan prasasti, para penyelam akan melakukan penilaian bawah air untuk mendokumentasikan kondisi terkini bangkai eks-USS Houston, dengan dukungan Naval History and Heritage Command, lembaga Angkatan Laut AS yang bertanggung jawab atas pelestarian sejarah dan warisan maritim.
Mengenang Korban Perang Sekaligus Melindungi Warisan Sejarah
Bangkai USS Houston memiliki arti penting bagi sejarah militer Amerika Serikat dan Indonesia. Kapal tersebut tenggelam dalam Pertempuran Selat Sunda pada 1 Maret 1942, dalam rangkaian pertempuran di kawasan Hindia Belanda pada masa Perang Dunia II.
Lebih dari 650 pelaut dan personel Korps Marinir Amerika Serikat gugur dalam tragedi tersebut. Karena itu, bangkai kapal USS Houston tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga dipandang sebagai situs makam perang bawah laut yang harus dihormati dan dilindungi.
Joy Sakurai mengatakan, upaya mengenang para personel yang gugur perlu disertai tindakan nyata untuk menjaga situs bersejarah tersebut.“Hari ini, kita mengenang para pelaut dan personel Korps Marinir USS Houston yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda dengan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kapal militer Amerika Serikat yang tenggelam ini,” ujar Sakurai.Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia dan TNI Angkatan Laut atas dukungan mereka dalam melindungi tempat peristirahatan terakhir lebih dari 650 personel militer tersebut.
Penilaian kondisi bawah air yang direncanakan pada awal November akan menjadi bagian penting dari upaya memahami keadaan bangkai kapal. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat membantu kedua negara menentukan langkah pelestarian yang sesuai, sekaligus memperkuat pengelolaan situs bawah laut yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Memperluas Kerja Sama Bilateral
Inisiatif pelestarian USS Houston merupakan kelanjutan dari kerja sama Amerika Serikat dan Indonesia dalam perlindungan serta identifikasi personel militer yang hilang atau belum ditemukan sejak konflik masa lalu.Upaya ini berkaitan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman yang memperluas kerangka kerja sama kedua negara dengan Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang menangani pencarian, identifikasi, dan pemulangan personel militer AS yang hilang dalam tugas.
Selain itu, Kedutaan Besar AS di Jakarta akan mendukung inisiatif pelestarian bangkai kapal USS Houston melalui Ambassador Fund for Cultural Preservation (AFCP), program yang mendukung perlindungan warisan budaya di berbagai negara.Proyek tersebut akan berfokus pada perlindungan dan pelestarian bangkai USS Houston sebagai bagian dari warisan sejarah bersama Amerika Serikat dan Indonesia selama Perang Dunia II.
Kerja sama ini juga menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menjaga situs maritim bersejarah. Penilaian kondisi kapal, dokumentasi bawah air, dan koordinasi antarlembaga diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan mengenai perlindungan bangkai kapal untuk jangka panjang.
Menjaga Warisan Maritim bagi Generasi Mendatang
Kerja sama pelestarian USS Houston mencerminkan upaya kedua negara untuk menghubungkan penghormatan terhadap korban perang dengan tanggung jawab menjaga warisan sejarah. Situs tersebut menyimpan jejak pertempuran yang membentuk sejarah kawasan sekaligus menjadi pengingat atas pengorbanan para personel militer yang gugur di laut.
Melalui operasi penyelaman gabungan, dokumentasi ilmiah, dan dukungan program pelestarian, Amerika Serikat dan Indonesia berupaya memastikan bahwa bangkai kapal tersebut tetap terlindungi dan dikelola secara bertanggung jawab.Inisiatif ini diharapkan tidak hanya mempertahankan nilai sejarah USS Houston, tetapi juga memperkuat kemitraan bilateral dalam pelestarian warisan maritim. Dengan demikian, pengorbanan para awak kapal dapat terus dikenang, sementara situs makam perang bawah laut tersebut tetap dihormati dan dijaga bagi generasi mendatang.

