(Business Lounge Journal – Medicine)
Belakangan ini semakin banyak orang yang hidup dengan penyakit autoimun. Kondisinya pun sangat beragam, mulai dari rheumatoid arthritis, lupus, multiple sclerosis, psoriasis, penyakit tiroid autoimun, hingga penyakit Crohn. Fenomena ini bukan sekadar karena semakin banyak orang membicarakan autoimun. Sejumlah kajian ilmiah memang menunjukkan adanya peningkatan prevalensi penyakit autoimun dalam beberapa dekade terakhir. Studi besar berbasis 22 juta orang di Inggris dari NIH tahun 2023 menemukan bahwa 19 penyakit autoimun secara keseluruhan memengaruhi 10,2% populasi selama periode penelitian
Namun, para ilmuwan belum memiliki satu jawaban tunggal mengenai penyebabnya. Autoimun merupakan hasil interaksi rumit antara faktor genetik, sistem kekebalan tubuh, infeksi, mikrobioma, gaya hidup, serta lingkungan.
Sistem imun sebenarnya dirancang untuk melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan berbagai ancaman lainnya. Pada penyakit autoimun, sistem pertahanan ini kehilangan sebagian kemampuannya untuk membedakan antara “musuh” dan jaringan tubuh sendiri. Akibatnya, sel imun dapat menyerang organ atau jaringan yang sebenarnya sehat. Mengapa hal tersebut terjadi pada seseorang tetapi tidak pada orang lain? Faktor genetik memang berperan, tetapi penelitian semakin menunjukkan bahwa lingkungan dapat menjadi pemicu penting pada orang yang memang memiliki kerentanan tertentu.
Bukan hanya faktor keturunan
Salah satu perkembangan penting dalam penelitian autoimun adalah semakin kuatnya perhatian terhadap paparan lingkungan. Kajian terbaru mengenai faktor risiko lingkungan menyebutkan bahwa peningkatan penyakit autoimun kemungkinan berkaitan dengan perubahan besar dalam paparan manusia terhadap berbagai agen lingkungan, perubahan gaya hidup, infeksi, stres, serta perubahan mikrobioma. Paparan tersebut dapat bekerja secara kumulatif selama bertahun-tahun, bahkan sejak masa perkembangan.
Artinya, seseorang tidak harus mengalami satu paparan ekstrem untuk kemudian terkena autoimun. Paparan dalam jumlah kecil tetapi terus-menerus terhadap berbagai zat dapat menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar, terutama ketika bertemu dengan faktor genetik dan kondisi tubuh tertentu.
Berikut tujuh kelompok paparan lingkungan yang perlu diperhatikan. Penting untuk dicatat, istilah “langsung meningkatkan risiko” perlu dipahami secara hati-hati. Bukti ilmiah paling kuat hanya tersedia untuk beberapa paparan dan penyakit autoimun tertentu, sementara hubungan dengan sebagian zat lainnya masih terus diteliti.
1. Asap rokok
Merokok merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling konsisten dikaitkan dengan autoimunitas. Bukti paling kuat terlihat pada rheumatoid arthritis, khususnya jenis yang menghasilkan antibodi tertentu. Asap rokok dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan dan mengubah protein sehingga sistem imun lebih mudah mengenalinya sebagai target. Merokok juga dikaitkan dengan sejumlah penyakit autoimun lain, meskipun kekuatan buktinya berbeda-beda.
Karena itu, berhenti merokok bukan hanya penting untuk paru-paru dan jantung, tetapi juga merupakan salah satu langkah masuk akal untuk mengurangi faktor risiko autoimunitas.
2. Debu silika
Paparan debu silika kristalin menjadi perhatian besar terutama bagi pekerja konstruksi, pertambangan, pemotongan batu, serta pekerjaan yang melibatkan material berkadar silika tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa paparan silika berhubungan dengan peningkatan risiko beberapa penyakit autoimun, termasuk rheumatoid arthritis, systemic sclerosis, lupus, dan vaskulitis tertentu.
Risikonya menjadi semakin relevan karena material batu rekayasa yang digunakan dalam pekerjaan konstruksi dan renovasi dapat menghasilkan debu silika dalam jumlah tinggi ketika dipotong atau digerinda.
3. Pelarut kimia industri
Pelarut organik yang digunakan dalam industri, pengecatan, pembersihan, manufaktur, dan sejumlah pekerjaan lainnya juga menjadi perhatian. Paparan terhadap pelarut telah dikaitkan dengan systemic sclerosis dan, dengan bukti yang lebih terbatas, beberapa penyakit autoimun lainnya.
Masalahnya, paparan semacam ini sering terjadi perlahan dan berulang. Ventilasi yang buruk, tidak menggunakan alat pelindung diri, atau kontak langsung dengan bahan kimia dapat meningkatkan paparan.
4. Pestisida
Pestisida termasuk kelompok bahan kimia yang hubungannya dengan penyakit autoimun terus diteliti. Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara paparan pestisida dan beberapa penyakit autoimun, tetapi kekuatan buktinya belum sama untuk semua jenis pestisida maupun semua penyakit. Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa semua pestisida pasti menyebabkan autoimun.
Meski demikian, prinsip kehati-hatian tetap penting. Penggunaan pestisida sebaiknya mengikuti petunjuk, menggunakan perlindungan yang sesuai, dan menghindari paparan yang tidak diperlukan.
5. Logam berat
Merkuri, timbal, kadmium, dan arsenik termasuk kelompok logam yang banyak dipelajari dalam kaitannya dengan gangguan sistem imun. Kajian terbaru menyebutkan bahwa logam-logam tersebut dapat memengaruhi keseimbangan imun melalui stres oksidatif, perubahan regulasi gen, dan mekanisme lain yang berpotensi mengganggu toleransi imun.
Namun, sekali lagi, hubungan antara paparan logam tertentu dan penyakit autoimun klinis tidak selalu sama kuatnya. Sebagian bukti masih berasal dari penelitian mekanistik atau observasional, sehingga tidak berarti setiap orang dengan paparan logam berat otomatis akan mengalami autoimun.
6. Polutan udara dan bahan kimia persisten
Polusi udara, bahan kimia industri, serta kelompok zat yang bertahan lama di lingkungan semakin mendapat perhatian. Termasuk di dalamnya PFAS, yang dikenal sebagai “forever chemicals”, serta berbagai bahan kimia pengganggu sistem hormon dan sistem imun. Penelitian mengenai hubungan zat-zat ini dengan autoimun masih berkembang, tetapi mekanisme seperti stres oksidatif, perubahan respons imun, dan gangguan regulasi biologis menjadi area penelitian yang penting.
Penelitian tentang multiple sclerosis juga mulai menunjukkan hubungan antara paparan beberapa bahan kimia persisten dan risiko penyakit tersebut. Temuan seperti ini menarik, tetapi belum berarti bahwa satu jenis bahan kimia dapat dipastikan sebagai penyebab tunggal MS atau penyakit autoimun lainnya.
7. Produk kimia sehari-hari dan plastik tertentu
Paparan terhadap bahan kimia yang terdapat dalam plastik, kosmetik, produk perawatan pribadi, dan berbagai produk rumah tangga juga sedang diteliti. Bisphenol A (BPA) dan phthalates, misalnya, termasuk dalam kelompok bahan yang dapat memiliki efek terhadap sistem hormon dan sistem imun. Para peneliti menduga paparan berulang terhadap berbagai bahan tersebut dapat menjadi bagian dari kombinasi faktor lingkungan yang memengaruhi keseimbangan sistem imun.
Ini bukan berarti seseorang harus hidup tanpa plastik atau kosmetik sama sekali. Yang lebih realistis adalah mengurangi paparan yang tidak perlu, terutama bila seseorang memiliki paparan pekerjaan yang tinggi.
Lalu, bagaimana dengan vitamin D dan sinar matahari?
Vitamin D menarik karena perannya tidak hanya berkaitan dengan tulang. Vitamin ini juga berfungsi sebagai salah satu pengatur sistem kekebalan tubuh. Sejumlah penelitian menemukan bahwa kadar vitamin D yang rendah sering ditemukan pada berbagai penyakit autoimun. Vitamin D berperan dalam mengatur respons imun sehingga tidak berlebihan dan membantu menjaga toleransi imun.
Sinar ultraviolet dari matahari juga memiliki efek terhadap sistem imun yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan hanya melalui vitamin D. Penelitian menunjukkan bahwa paparan UV dapat memodulasi respons imun, dan terdapat hubungan antara paparan UV dengan risiko beberapa penyakit yang dimediasi oleh sistem imun.
Namun, ini bukan alasan untuk berjemur berlebihan. Paparan UV yang berlebihan tetap meningkatkan risiko kerusakan kulit dan kanker kulit. Jadi, pendekatannya bukan “semakin banyak matahari semakin baik”, melainkan memperoleh paparan matahari secara wajar dan aman sesuai kondisi kulit serta lingkungan.
Yang juga penting, vitamin D bukan obat tunggal untuk menyembuhkan autoimun. Meta-analisis uji klinis terbaru menunjukkan vitamin D3 dapat memengaruhi beberapa parameter inflamasi pada pasien penyakit autoimun, tetapi manfaat klinisnya tidak seragam dan masih menjadi bidang penelitian.
Bukan “detoks”, tetapi mengurangi beban paparan
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap autoimun, muncul pula berbagai program “detoks” yang menjanjikan dapat membersihkan racun dan “mereset” sistem imun. Klaim semacam itu perlu disikapi secara kritis. Tubuh sudah memiliki sistem detoksifikasi alami melalui hati, ginjal, paru-paru, kulit, dan saluran pencernaan. Tidak ada bukti kuat bahwa seseorang perlu melakukan program pembersihan khusus untuk “mengeluarkan semua racun” agar autoimunnya sembuh.
Pendekatan yang lebih masuk akal adalah mengurangi sumber paparan yang memang dapat dikendalikan: tidak merokok, menggunakan alat pelindung saat bekerja dengan debu atau bahan kimia, memperhatikan kualitas udara, mengurangi penggunaan produk yang tidak diperlukan, menjaga pola makan bergizi, cukup tidur, aktif bergerak, dan memastikan kecukupan vitamin serta mineral.
Bagi orang yang sudah memiliki penyakit autoimun, perubahan gaya hidup sebaiknya menjadi pendamping, bukan pengganti pengobatan dokter. Penyakit autoimun memiliki banyak bentuk dan tingkat keparahan, sehingga terapi harus disesuaikan dengan penyakit masing-masing.
Pada akhirnya, meningkatnya penyakit autoimun mengingatkan kita bahwa kesehatan sistem imun bukan hanya persoalan “imun kuat”. Sistem imun yang sehat adalah sistem yang seimbang: cukup kuat menghadapi ancaman, tetapi juga mampu menahan diri agar tidak menyerang tubuh sendiri. Lingkungan tempat kita hidup, zat yang kita hirup atau sentuh, makanan, aktivitas fisik, tidur, mikrobioma, dan status vitamin D semuanya dapat menjadi bagian dari puzzle tersebut. Para ilmuwan masih terus mencari kepingan-kepingan lainnya. Yang dapat kita lakukan sekarang adalah mengurangi paparan berisiko yang jelas, menjaga kesehatan secara menyeluruh, dan tidak mudah tergoda oleh klaim penyembuhan instan.

