(Business Lounge Journal – Travel)
Kota Paris bukan hanya dianggap sebagai pusat kuliner, tetapi juga ibu kota gastronomi dunia, tempat seni kuliner beradu dalam rasa, teknik, dan estetika.
Bagi para chef kenamaan, Paris merupakan tempat belajar, di mana metode teknik memasak Prancis telah menjadi dasar fondasi dapur di seluruh dunia. Salah satu metode dasar Prancis yang menjadi akar bagi banyak tradisi kuliner dunia adalah pembuatan saus dan teknik memanggang.
Restoran di Paris sering dianggap sebagai tolok ukur dalam cita rasa, presentasi, dan pelayanan. Bahkan, mendapatkan pengakuan di kota Paris bagi seorang chef dianggap sebagai pencapaian besar. Berbagai standar dan penghargaan seperti Michelin Guide semakin memperkuat citra autentik cita rasa Prancis.
Istimewanya, kuliner di Paris bukan berarti semua makanan Prancis harus mahal, mewah, dan bergengsi. Pada hakikatnya, ketika menikmati kuliner di Paris, kita akan menemukan bagaimana kota ini mampu menyeimbangkan antara kemewahan dan kesederhanaan. Restoran mewah dengan hidangan lengkap dan artistik dapat ditemukan dengan mudah. Namun yang lebih istimewa adalah kafe-kafe sederhana yang tetap berkualitas tinggi juga mudah ditemui di sana.
Biasanya, para pegawai berdiri di depan kafe sambil menyapa tamu ketika suasana tidak terlalu sibuk. Banyak pengunjung berasal dari luar negeri. Mereka akan melihat daftar menu beserta harga yang tersedia. Jika merasa cocok, pegawai kedai akan menunjukkan meja yang dapat dipilih.
Banyak pengunjung memilih duduk di teras kafe karena salah satu gaya hidup masyarakat Paris adalah duduk berlama-lama di depan kafe sambil menikmati secangkir kopi dan croissant, sembari memandang suasana kota Paris yang terasa berjalan lamban dengan para pejalan kaki yang hilir mudik. Orang Paris memang senang menikmati kuliner tanpa terburu-buru. Bagi mereka, menikmati makanan adalah pengalaman yang melibatkan rasa, suasana, dan cara menikmati hidup.
Pilihan secangkir kopi dan croissant memang menjadi menu klasik di pagi hari. Bagaimana rasa croissant di Paris? Teksturnya renyah pada lapisan luar yang berlapis-lapis dan lembut di bagian dalam pastry. Rasa butter yang lembut berpadu dengan sedikit rasa legit dalam kelembutan adonannya. Inilah karakter cita rasa Prancis yang autentik: perpaduan antara kelembutan, keseimbangan, dan kedalaman rasa. Berbeda dengan cita rasa masakan Asia yang cenderung didominasi rasa kuat dan terkadang menghadirkan sensasi “ledakan” rasa.
Untuk makan siang, pilihannya lebih bervariasi. Roti khas Prancis yang panjang, akrab disebut baguette, biasanya diisi dengan keju, daging, serta sayuran segar. Sekilas hidangan ini tampak seperti sandwich khas Barat pada umumnya. Namun yang membedakan adalah roti baguette itu sendiri yang telah menjadi identitas nasional bangsa Prancis. Di Negeri Ayam Jago ini, mencicipi roti baguette menjadi pengalaman kuliner yang hampir wajib dilakukan.
Salah satu karakter masyarakat Prancis adalah perhatian mereka terhadap kualitas, terutama dalam urusan makanan. Misalnya, pemilihan sayuran harus benar-benar segar. Prancis juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis keju berkualitas. Bagi mereka, rasa keju harus benar-benar terasa sebagai keju, dan daging harus mempertahankan karakter rasa aslinya sesuai standar pengolahan yang tepat.
Hidangan escargot menjadi salah satu kuliner yang menarik sekaligus menantang. Bahan utamanya adalah siput yang dimasak dengan mentega, bawang putih, dan rempah-rempah. Cara menyantapnya menggunakan penjepit escargot (escargot tongs) dan garpu escargot (escargot fork). Dalam penyajian formal, digunakan piring khusus dari keramik atau logam dengan beberapa cekungan — biasanya enam atau dua belas lubang — agar cangkang siput tetap stabil dan mentega bumbunya tidak tumpah.
Bagi sebagian orang, menikmati escargot di Paris menjadi pengalaman kuliner yang benar-benar autentik dan ekstrem. Setiap orang biasanya memiliki pengalaman tersendiri ketika mencoba hidangan ini. Tidak ketinggalan pula crème brûlée yang legendaris, dengan lapisan gula karamel renyah di atas krim lembut, menghadirkan perpaduan tekstur sederhana namun tetap terasa elegan dan berkelas.
Menjelang malam, suasana Paris berubah menjadi lebih gemerlap, terlebih dengan pemandangan Eiffel Tower yang memancarkan cahaya memukau. Suasana restoran, kafe, dan bistro terasa lebih hangat dan intim dengan para pengunjung yang menikmati makan malam sambil berbincang santai.
Bagi warga Paris, makan malam bukan sekadar aktivitas makan biasa, melainkan momen untuk menghargai seni hidup yang dijalani secara perlahan, memberi ruang bagi lidah untuk mengenali setiap rasa.
Dalam beberapa dekade terakhir, Paris juga semakin terbuka terhadap pengaruh budaya dari berbagai wilayah dunia, termasuk bekas wilayah koloninya. Kini, terutama di kawasan pinggiran kota, dapat ditemukan restoran dengan sentuhan Afrika Utara, Timur Tengah, maupun Asia. Berbagai cita rasa baru hadir dalam kuliner Prancis modern tanpa meninggalkan teknik dasar khas Prancis yang telah menjadi fondasinya.

