(Business Lounge Journal – Event)
Industri arsitektur sedang mengalami pergeseran fundamental. Ia tidak lagi sekadar soal bentuk, estetika, atau fungsi ruang. Hari ini, arsitektur menjadi titik temu—antara teknologi, budaya, keberlanjutan, hingga strategi bisnis.
Dalam konteks itu, gelaran ARCH:ID 2026 yang resmi dibuka pada 23 April di ICE BSD City menjadi lebih dari sekadar pameran. Ia adalah refleksi dari bagaimana arsitektur berevolusi: dari disiplin yang berdiri sendiri, menjadi praktik kolaboratif yang menyatukan berbagai perspektif. Mengusung tema “Skema Sintesa: Arsitektur Keterlibatan”, ARCH:ID tahun ini secara tegas menempatkan kolaborasi sebagai inti. Bukan hanya antar arsitek, tetapi lintas profesi—mulai dari desainer produk, lighting designer, hingga asosiasi energi dan keberlanjutan.
Dengan skala yang meningkat signifikan—725 booth, lebih dari 180 peserta, dan area seluas 18.000 meter persegi—ARCH:ID menunjukkan satu hal: industri ini tidak hanya tumbuh, tetapi juga semakin kompleks.
Dari Pameran ke Ekosistem: Arsitektur sebagai Ruang Interaksi
Yang menarik dari ARCH:ID 2026 bukan hanya skalanya, tetapi cara ia mendefinisikan ulang pengalaman pameran.
Melalui konsep Tetenger, format konvensional berupa deretan booth diubah menjadi ruang yang lebih hidup dan kontekstual. Zona seperti Tetenger Riung, Rembuk, hingga Teduh tidak hanya menjadi area fungsi, tetapi juga narasi—mendorong interaksi, diskusi, bahkan refleksi. Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran penting: bahwa arsitektur tidak hanya dipamerkan, tetapi dialami.
Lebih dari 60 arsitek lintas generasi terlibat dalam perancangan ruang ini. Kolaborasi tidak berhenti di level konsep, tetapi benar-benar diwujudkan dalam bentuk fisik. Bahkan, keterlibatan komunitas seperti Ibu Arsitek dan Scootarch memperkuat dimensi sosial dari praktik arsitektur itu sendiri.
Di sisi lain, kehadiran area komunal seperti angkringan dan alun-alun menjadi simbol pendekatan yang lebih human-centered—menghapus batas antara profesional dan publik, antara formal dan informal.
ARCH:ID, dalam hal ini, tidak hanya menjadi pameran. Ia berubah menjadi ekosistem.
Kolaborasi sebagai Strategi Bisnis, Bukan Sekadar Idealisme
Di balik narasi kolaborasi, terdapat realitas yang lebih strategis: arsitektur kini semakin terhubung dengan industri dan pasar.
Sebagai platform B2B, ARCH:ID memainkan peran penting dalam mempertemukan arsitek, brand, developer, hingga pemilik proyek. Program seperti Business Matching menjadi contoh konkret bagaimana ide bisa langsung diterjemahkan menjadi peluang bisnis. Di sinilah arsitektur bersinggungan dengan strategi—mulai dari product sourcing, eksplorasi material, hingga adopsi teknologi seperti BIM, smart building, dan solusi modular.
Tak hanya itu, kehadiran Hackathon bertema “Synthesis in Action” memperlihatkan arah masa depan industri. Generasi baru arsitek tidak lagi bekerja secara linear, tetapi dalam ekosistem digital yang kolaboratif—menggabungkan tools seperti Autodesk Forma, Rhinoceros, dan SketchUp dalam satu alur kerja. Hal ini menegaskan bahwa kompetensi arsitek ke depan tidak hanya terletak pada desain, tetapi juga pada kemampuan berkolaborasi lintas disiplin dan memanfaatkan teknologi.
Dengan target lebih dari 31.000 pengunjung, ARCH:ID 2026 bukan hanya event tahunan—melainkan indikator bagaimana industri arsitektur Indonesia sedang bergerak menuju fase yang lebih terintegrasi, adaptif, dan strategis.
Dan mungkin yang paling penting: ia mengingatkan bahwa masa depan arsitektur tidak akan dibentuk oleh satu disiplin saja, tetapi oleh kemampuan untuk menyatukan banyak perspektif menjadi satu sintesis yang relevan.

