Gaya Hidup Hemat Orang Swiss

(Business Lounge Journal – Culture)

Swiss adalah salah satu destinasi wisata dunia yang terkenal dengan pemandangan pegunungan Alpen yang menakjubkan dan bunga edelweiss yang indah. Tingginya pegunungan Alpen juga sejalan dengan tingginya biaya hidup di sana. Dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, Swiss termasuk dalam negara dengan biaya hidup termahal di dunia.

Negara Jerman dan Prancis sebagai tetangga Swiss memiliki harga makanan yang lebih murah, sehingga banyak orang Swiss berbelanja ke negara tersebut untuk berhemat. Hal yang paling terasa mahal adalah tingginya harga properti di Swiss. Dengan kondisi yang serba mahal ini, orang Swiss dikenal memiliki budaya disiplin dalam berhemat.

Berikut tips warga Swiss dalam berhemat:

1. Perencanaan Keuangan yang Matang

Warga Swiss dikenal memiliki perencanaan keuangan yang sangat cermat. Setiap pengeluaran dipikirkan secara matang. Sifat ini bukan berarti pelit, melainkan memiliki anggaran keuangan yang jelas, baik tahunan maupun bulanan. Semua kebutuhan, mulai dari makanan, transportasi, pendidikan, hingga hiburan, sudah memiliki alokasi anggaran. Intinya, semua pengeluaran dicatat dengan disiplin agar tidak terjadi kebocoran. Dalam hal keuangan, orang Swiss menjunjung tinggi akuntabilitas, transparansi, dan tanggung jawab. Mereka merasa malu jika memiliki utang kepada orang lain karena dianggap tidak mampu mengelola keuangan dengan baik.

2. Punya Tabungan Sejak Kecil

Sejak kecil, warga Swiss sudah diajarkan untuk menabung dari uang saku mereka. Biasanya, orang tua akan memantau tabungan anak-anaknya. Dengan budaya menabung sejak dini, orang Swiss memiliki kestabilan finansial yang baik hingga dewasa. Swiss juga memiliki Hari Menabung Sedunia (Tag der Sparsamkeit) yang dirayakan di sekolah-sekolah, bekerja sama dengan bank lokal untuk mendorong anak-anak menyetorkan uang tabungan mereka ke rekening pertama mereka.

Rasio tabungan orang Swiss biasanya mencapai 15 hingga 20 persen dari pendapatan mereka. Metode menabung yang digunakan merupakan kombinasi tabungan otomatis, investasi konservatif, dan asuransi jiwa.

3. Filosofi “Buy Once, Buy Well”

Orang Swiss sangat cermat dalam membeli barang berkualitas. Mereka tidak tergoda membeli barang serba murah dengan kualitas rendah. Lebih baik membeli barang berkualitas dengan harga yang pantas namun tahan lama. Misalnya, mereka lebih memilih membeli jaket kulit asli seharga 350 franc (sekitar Rp7,5 juta) yang dapat dipakai bertahun-tahun, dibandingkan jaket murah yang harus diganti setiap tahun.

Bagi mereka, berhemat berarti berinvestasi pada kualitas barang atau jasa. Tidak heran banyak produk Swiss dikenal berkualitas tinggi, seperti jam tangan Rolex, Patek Philippe, Omega, TAG Heuer, dan Swatch.

Cokelat Swiss seperti Toblerone dan Lindt & Sprüngli juga mendunia, begitu pula brand Nestlé yang dikenal luas. Dalam dunia fashion, merek Bally juga menjadi simbol kualitas.

4. Transportasi Umum untuk Semua

Di Swiss, hampir semua orang menggunakan transportasi umum. Bahkan seorang CEO perusahaan besar pun tetap menggunakan kereta atau bus. Transportasi umum seperti kereta SBB dikenal sangat tepat waktu. Selain itu, biaya pajak kendaraan di Swiss sangat tinggi, sehingga memiliki kendaraan pribadi, terutama mobil mewah, dianggap tidak praktis. Masyarakat Swiss juga terbiasa berjalan kaki di udara sejuk atau bersepeda sebagai bagian dari gaya hidup mereka.

5. Budaya Membawa Makan Siang Sendiri

Makan siang di restoran di Swiss tergolong mahal. Sekali makan bisa menghabiskan biaya 25–40 franc (sekitar Rp400.000–Rp700.000), bahkan lebih. Karena itu, banyak warga Swiss membawa bekal dari rumah. Taman-taman kota sering dipenuhi orang yang makan siang bersama. Biasanya mereka membawa roti isi daging, keju, dan salad dalam kotak makan. Pemandangan ini sangat umum saat jam makan siang.

6. Menikmati Hiburan Sederhana

Hari Minggu adalah hari istirahat di Swiss. Hampir semua pusat perbelanjaan dan kegiatan bisnis tutup. Untuk menikmati waktu luang, warga Swiss biasanya melakukan aktivitas sederhana seperti hiking di pegunungan Alpen, berenang di danau, atau jogging di alam terbuka. Keindahan alam Swiss menjadi sumber hiburan yang mudah diakses dan dinikmati.

Masyarakat Swiss memang hidup hemat di negara dengan biaya hidup tinggi. Namun, hal ini bukan berarti mereka pelit. Mereka memegang prinsip frugality, yaitu hidup dalam kesederhanaan, kedisiplinan, dan menghargai kualitas. Ada rasa hormat terhadap nilai uang—memamerkan kekayaan atau gaya hidup hedonis dianggap tidak sopan, sementara kemandirian finansial dipandang sebagai tanggung jawab pribadi.