valuasi

Tiga Cara Investor Menilai Valuasi Startup

(Business Lounge – Financial) Dalam dunia startup, pertanyaan tentang valuasi selalu menjadi momen krusial. Di satu sisi, founder ingin mendapatkan pendanaan dengan melepas saham seminimal mungkin. Di sisi lain, investor ingin memastikan bahwa harga yang mereka bayar sepadan dengan risiko yang diambil. Lalu bagaimana sebenarnya investor menghitung valuasi sebuah startup?

Secara umum, ada tiga pendekatan yang paling sering digunakan: asset-based valuation, market multiple valuation, dan discounted cash flow valuation atau DCF. Masing-masing metode memiliki logika, keunggulan, serta keterbatasan tersendiri. Pemahaman terhadap ketiganya penting, baik bagi founder yang ingin mencari pendanaan maupun bagi investor yang ingin menilai peluang investasi secara rasional.

Metode pertama adalah asset-based valuation. Pendekatan ini paling sederhana karena fokus utamanya adalah menghitung nilai bersih aset perusahaan. Secara konsep, valuasi dihitung dengan mengurangi total aset dengan total kewajiban atau liabilities.

Misalnya, sebuah startup di bidang retail memiliki aset berupa gedung, persediaan barang, dan kas yang jika ditotal mencapai Rp10 miliar. Namun perusahaan tersebut juga memiliki utang sebesar Rp3 miliar. Maka valuasinya berdasarkan metode ini adalah Rp10 miliar dikurangi Rp3 miliar, yaitu Rp7 miliar. Cara paling praktis untuk melihat angka ini adalah dengan membuka laporan neraca atau balance sheet perusahaan.

Metode ini relatif mudah diterapkan karena berbasis pada data historis yang nyata. Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan besar ketika digunakan untuk startup berbasis jasa atau teknologi yang tidak memiliki banyak aset fisik. Banyak startup digital justru memiliki nilai utama pada software, jaringan pengguna, brand, atau intellectual property yang tidak selalu tercermin secara optimal dalam neraca keuangan. Dalam kasus seperti ini, valuasi berbasis aset sering kali menghasilkan angka yang jauh di bawah potensi sebenarnya.

Karena itu, investor sering beralih ke metode kedua: market multiple valuation. Sesuai namanya, pendekatan ini menggunakan faktor pengali atau multiple. Pertanyaannya, apa yang dikalikan dan berapa faktor pengalinya?

Umumnya, investor akan melihat earning atau laba perusahaan, kemudian mengalikannya dengan faktor tertentu yang relevan dengan industri tersebut. Agar adil, perbandingan harus dilakukan secara apple to apple, artinya dengan perusahaan lain yang bergerak di industri yang sama dan memiliki karakteristik serupa.

Sebagai ilustrasi, bayangkan ada dua perusahaan di industri yang sama: Perusahaan A dan Perusahaan B. Perusahaan A memiliki omzet Rp250 miliar dengan laba Rp10 miliar. Sementara itu, Perusahaan B memiliki omzet Rp300 miliar dengan laba Rp30 miliar. Perusahaan B telah menerima investasi Rp30 miliar untuk 25 persen sahamnya.

Dari informasi tersebut, kita bisa menghitung valuasi Perusahaan B. Jika 25 persen saham bernilai Rp30 miliar, maka 100 persen saham bernilai Rp120 miliar. Artinya, valuasi Perusahaan B adalah Rp120 miliar. Karena laba Perusahaan B sebesar Rp30 miliar, maka multiple yang digunakan kira-kira empat kali laba.

Angka empat inilah yang kemudian bisa digunakan sebagai faktor pengali untuk menilai Perusahaan A. Dengan laba Rp10 miliar dan multiple empat kali, maka valuasi Perusahaan A diperkirakan sebesar Rp40 miliar.

Dari sini, founder Perusahaan A bisa mulai menghitung strategi pendanaan. Jika mereka ingin menggalang dana Rp10 miliar, maka secara teori mereka dapat menawarkan maksimal 25 persen saham. Namun jika mereka hanya menawarkan 10 persen saham untuk Rp10 miliar, maka investor kemungkinan besar akan menilai penawaran tersebut terlalu mahal.

Dalam praktiknya, di sinilah terjadi proses negosiasi. Founder akan menekankan potensi pertumbuhan, peluang ekspansi, dan diferensiasi produk. Investor sebaliknya akan menekan pada risiko bisnis dan ketidakpastian proyeksi. Faktor pengali bisa naik atau turun tergantung pada kekuatan posisi tawar masing-masing pihak.

Konsep multiple ini sebenarnya sangat familiar bagi investor pasar saham. Salah satu rasio yang sering digunakan adalah price to earnings ratio atau PER. Rasio ini menunjukkan berapa kali laba yang dihargai oleh pasar. Founder bisa mencari rata-rata PER industri sebagai referensi awal untuk menentukan faktor pengali yang wajar.

Namun bagaimana jika startup bergerak di industri baru yang belum memiliki pembanding di bursa saham? Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya mempertimbangkan berbagai faktor kualitatif: ukuran pasar, kecepatan pertumbuhan pengguna, model bisnis, margin potensial, hingga kekuatan tim manajemen. Semakin besar potensi pertumbuhan dan semakin kuat traction yang sudah terlihat, semakin besar kemungkinan multiple yang diberikan.

Metode ketiga yang sering digunakan, terutama oleh investor yang lebih analitis, adalah discounted cash flow valuation atau DCF. Berbeda dengan dua metode sebelumnya yang lebih berbasis pada kondisi saat ini atau pembanding eksternal, DCF fokus pada kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas di masa depan.

Prinsip dasarnya sederhana, nilai sebuah perusahaan hari ini adalah nilai sekarang dari seluruh arus kas yang akan dihasilkan di masa depan. Karena uang di masa depan memiliki nilai yang lebih rendah dibanding uang hari ini, maka arus kas tersebut harus didiskontokan dengan tingkat diskonto tertentu.

Dalam konteks startup, investor biasanya meminta proyeksi cash flow beberapa tahun ke depan. Yang menjadi fokus utama adalah free cash flow, yaitu arus kas yang benar-benar tersedia setelah semua biaya operasional dan investasi modal diperhitungkan.

Sebagai contoh, sebuah startup memproyeksikan arus kas sebagai berikut: tahun pertama Rp1 miliar, tahun kedua Rp3 miliar, tahun ketiga Rp2,7 miliar, tahun keempat Rp5 miliar, dan tahun kelima Rp4,5 miliar. Investor kemudian menentukan discount rate, misalnya 20 persen untuk startup yang sudah memiliki traction yang cukup solid. Untuk startup tahap sangat awal dengan risiko tinggi, discount rate bisa mencapai 50 persen.

Rumus dasarnya adalah cash flow tahun ke-n dibagi dengan satu ditambah r, dipangkatkan n, di mana r adalah discount rate dan n adalah tahun ke berapa. Dengan cara ini, setiap arus kas di masa depan dikonversi menjadi present value atau nilai saat ini.

Setelah seluruh present value dari tahun pertama hingga tahun kelima dihitung, langkah terakhir adalah menjumlahkan semuanya. Total inilah yang menjadi estimasi valuasi perusahaan saat ini menurut pendekatan DCF.

Metode DCF sering dianggap lebih “ilmiah” karena berbasis pada proyeksi arus kas riil dan mempertimbangkan risiko melalui discount rate. Namun metode ini juga sangat sensitif terhadap asumsi. Sedikit perubahan pada proyeksi pertumbuhan atau discount rate dapat menghasilkan perbedaan valuasi yang sangat besar. Oleh karena itu, diskusi antara founder dan investor sering kali berpusat pada asumsi yang digunakan dalam model tersebut.

Valuasi startup bukan hanya soal angka. Faktor seperti potensi pertumbuhan eksponensial, kualitas dan kekompakan tim, kemampuan eksekusi, serta chemistry antara founder dan investor juga memainkan peran penting. Dua startup dengan angka yang mirip bisa mendapatkan valuasi berbeda jika investor melihat tingkat keyakinan yang berbeda terhadap masa depannya.

Bagi founder, memahami tiga metode ini memberikan posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi. Mereka bisa menghitung sendiri kisaran valuasi yang masuk akal sebelum bertemu investor. Bagi investor, pemahaman ini membantu mengelola risiko dan memastikan bahwa harga yang dibayar sebanding dengan peluang keuntungan.

Valuasi bukanlah angka absolut yang benar atau salah. Ia adalah hasil kompromi antara harapan masa depan dan realitas saat ini, antara optimisme founder dan kehati-hatian investor. Dengan memahami logika di balik asset-based valuation, market multiple valuation, dan discounted cash flow valuation, proses negosiasi menjadi lebih rasional, transparan, dan terukur.