Rio Tinto

Laba Rio Tinto Tertekan, Dividen Tetap Stabil

(Business Lounge – Global News) Raksasa tambang global Rio Tinto melaporkan laba bersih 2025 sebesar 9,97 miliar dolar AS, turun sekitar 14% dibanding 11,55 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah fluktuasi harga komoditas dan dinamika permintaan global, sementara laba dasar dan pembayaran kepada pemegang saham dipertahankan relatif datar.

Menurut laporan Reuters, pelemahan laba bersih terutama dipengaruhi oleh harga beberapa komoditas utama yang tak setinggi periode sebelumnya. Sebagai produsen besar bijih besi, aluminium, dan tembaga, Rio Tinto sangat sensitif terhadap pergerakan harga global, terutama dari pasar China yang menjadi konsumen utama bahan baku industri.

Walau laba bersih menyusut, perusahaan menjaga underlying earnings atau laba inti tetap stabil. Ini mencerminkan kinerja operasional yang relatif solid dan disiplin biaya di tengah lingkungan harga yang lebih lunak. Bloomberg mencatat bahwa produksi bijih besi Rio Tinto tetap konsisten, membantu menjaga arus kas meski harga tidak setinggi puncaknya.

Harga bijih besi dalam setahun terakhir bergerak fluktuatif, dipengaruhi sentimen terhadap sektor properti dan infrastruktur di China. Ketika aktivitas konstruksi melambat, tekanan terhadap harga muncul. Bagi Rio Tinto, setiap perubahan harga komoditas utama langsung berdampak pada margin.

Meski laba bersih turun, perusahaan memilih mempertahankan tingkat pembayaran dividen. Financial Times menilai langkah ini sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap kekuatan neraca dan arus kas jangka menengah. Investor sektor tambang umumnya mengandalkan dividen sebagai daya tarik utama, sehingga stabilitas payout menjadi perhatian besar pasar.

Rio Tinto juga terus berinvestasi dalam proyek pertumbuhan, terutama pada komoditas yang mendukung transisi energi seperti tembaga dan litium. Permintaan global terhadap logam untuk kendaraan listrik dan infrastruktur energi terbarukan diperkirakan meningkat dalam dekade mendatang. Strategi diversifikasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bijih besi semata.

Namun ekspansi tersebut membutuhkan belanja modal besar. Perusahaan perlu menyeimbangkan antara distribusi kas kepada pemegang saham dan pendanaan proyek jangka panjang. Dalam kondisi harga komoditas yang tak selalu stabil, pengelolaan arus kas menjadi kunci.

Reuters juga menyoroti bahwa tekanan biaya operasional tetap ada, mulai dari energi hingga tenaga kerja. Industri tambang menghadapi tuntutan efisiensi dan keberlanjutan yang makin ketat. Rio Tinto berupaya meningkatkan produktivitas melalui otomatisasi tambang dan optimalisasi logistik.

Penurunan laba bersih 14% memang terlihat signifikan di atas kertas, tetapi tidak sepenuhnya mengejutkan mengingat basis perbandingan tahun sebelumnya yang kuat. Siklus komoditas selalu bergerak naik turun. Dalam fase harga lebih rendah, perusahaan dengan struktur biaya efisien cenderung lebih tahan banting.

Pasar kini mencermati prospek permintaan global pada 2026, terutama dari China dan ekonomi berkembang lainnya. Jika stimulus infrastruktur meningkat, harga komoditas bisa terdorong kembali. Sebaliknya, perlambatan ekonomi global dapat memperpanjang tekanan.

Bagi Rio Tinto, menjaga laba dasar tetap stabil dan mempertahankan dividen menjadi pesan penting kepada investor: bisnis inti masih tangguh. Di tengah siklus komoditas yang berayun, perusahaan berupaya menunjukkan bahwa fondasi operasional dan keuangan tetap kuat.

Hasil 2025 mencerminkan realitas industri tambang yang selalu dipengaruhi gejolak harga global. Laba bersih menurun, namun disiplin biaya dan konsistensi pembayaran kepada pemegang saham memberi gambaran bahwa Rio Tinto masih mampu bertahan dalam lanskap komoditas yang berubah cepat.