Apple, AI, dan Siri: Penundaan Menjadi Ujian Kredibilitas Strategi

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Apple selama lebih dari satu dekade dikenal sebagai perusahaan yang jarang terburu-buru dalam merilis teknologi baru. Filosofi “better, not first” menjadi slogan yang membedakan perusahaan ini dari pesaing. Namun, dalam era kecerdasan buatan (AI) yang bergerak dengan kecepatan eksponensial, pendekatan konservatif ini kini diuji secara besar-besaran oleh pasar, investor, dan publik teknologi global.

Di tengah tekanan tersebut, analis Wedbush Securities justru mempertahankan rekomendasi “Outperform” terhadap saham Apple, dengan argumen bahwa drama penundaan Siri bukanlah akhir cerita—melainkan awal dari transformasi platform AI Apple.

Selama satu tahun terakhir, Apple dinilai bukan dari apa yang telah diluncurkan, melainkan dari apa yang belum selesai dikirim ke pasar. Fitur “personalized Siri” yang dijanjikan menjadi simbol kesiapan Apple dalam era AI generatif. Setiap rumor penundaan peluncuran Siri terbaru langsung diterjemahkan pasar sebagai tanda bahwa Apple tertinggal dari kompetitor seperti OpenAI, Google, Microsoft, atau bahkan pemain baru seperti Anthropic. Penundaan terbaru bahkan sempat menghapus sekitar US$200 miliar kapitalisasi pasar Apple dalam satu sesi perdagangan, menunjukkan betapa sensitifnya investor terhadap narasi AI perusahaan ini.

Wedbush, melalui analis Dan Ives, menilai reaksi pasar tersebut terlalu berlebihan. Mereka percaya bahwa 2026 akan menjadi titik balik ketika AI Apple beralih dari janji strategis menjadi produk nyata yang dapat dimonetisasi.

2026: Tahun “Apple Masuk ke Permainan AI”

Dalam catatan risetnya, Wedbush menggambarkan 2026 sebagai tahun krusial ketika Apple benar-benar memasuki kompetisi AI global. Meskipun peluncuran Siri generasi baru akan dilakukan secara bertahap melalui beberapa pembaruan iOS, analis menilai roadmap tersebut masih berada di jalur yang dapat diterima secara strategis.

Apple juga disebut memperkuat fondasi internalnya dengan kepemimpinan baru di bidang AI, arsitektur Siri yang direkonstruksi, serta kemitraan strategis dengan Google dalam penggunaan model Gemini sebagai basis Apple Foundation Models. Pendekatan ini menandakan pergeseran paradigma Apple: tidak lagi berlomba dalam membangun model AI terbesar, tetapi memaksimalkan distribusi AI melalui perangkat dan ekosistemnya.

Strategi tersebut mencerminkan DNA Apple—mengintegrasikan teknologi ke dalam pengalaman pengguna, bukan sekadar demonstrasi kemampuan teknis.

Menariknya, Wedbush mengalihkan fokus diskusi dari pertanyaan “apakah Siri akan lebih pintar?” ke pertanyaan yang lebih fundamental: apakah Siri akan bisa dijual sebagai layanan?

Analis Wedbush memperkirakan monetisasi AI dapat menambah nilai saham Apple hingga US$75–US$100 per saham dalam beberapa tahun ke depan, melalui layanan berbasis langganan yang dibangun di atas basis pengguna Apple yang mencapai miliaran perangkat.

Ini mencerminkan paradigma baru industri teknologi: AI bukan hanya fitur, tetapi platform bisnis baru dengan recurring revenue, mirip dengan App Store, Apple Music, atau iCloud.

Distribusi vs Model: Strategi Khas Apple

Dalam perlombaan AI, perusahaan seperti OpenAI dan Google bertarung pada level model dan kapabilitas komputasi. Apple, sebaliknya, memilih jalur distribusi: menjadikan iPhone sebagai “front door” menuju era AI konsumen.

Dengan lebih dari 2,5 miliar perangkat iOS dan 1,5 miliar iPhone aktif, Apple memiliki aset distribusi yang tidak dimiliki pesaing lain. Dalam konteks ini, AI Apple tidak harus menjadi yang paling canggih secara teknis—cukup menjadi yang paling terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari pengguna.

Pendekatan ini selaras dengan sejarah Apple yang sering masuk ke pasar setelah teknologi matang, tetapi memenangkan nilai ekonomi melalui integrasi ekosistem.

Siri 2.0: Dari Asisten ke Chatbot AI

Bloomberg melaporkan bahwa Apple berencana mengubah Siri menjadi chatbot AI penuh dengan nama kode internal “Campos”, yang akan terintegrasi di iPhone, iPad, dan Mac. Transformasi ini menandai pergeseran Siri dari sekadar voice assistant menuju antarmuka AI generatif yang kontekstual dan multimodal.

Namun, analis juga memperingatkan bahwa jika 2026 kembali menjadi tahun demonstrasi tanpa realisasi, pasar akan terus memperlakukan Siri sebagai indikator kredibilitas Apple di era AI.

Wedbush melihat peluang besar:

  • AI dapat mendorong siklus upgrade iPhone baru
  • Layanan AI dapat menciptakan recurring revenue baru
  • Ekosistem Apple dapat menjadi platform utama bagi pengembang AI konsumen

Sebaliknya, skeptisisme pasar sederhana: Apple telah mengajarkan konsumen untuk menunggu. Jika AI Apple terus tertunda, kepercayaan pasar bisa terkikis, dan saham akan terus diperdagangkan dengan “diskon AI”.

AI sebagai Ujian Identitas Strategis Apple

Kisah AI Apple bukan hanya soal teknologi, tetapi soal identitas perusahaan. Selama puluhan tahun, Apple dikenal sebagai perusahaan yang tidak pertama, tetapi paling menguntungkan dalam monetisasi teknologi baru—dari smartphone hingga layanan digital.

Jika strategi AI Apple berhasil, perusahaan ini berpotensi menciptakan “supercycle” baru dalam industri perangkat konsumen. Jika gagal, Apple berisiko kehilangan posisi sebagai gatekeeper ekosistem digital konsumen global.

Akhir dari Opera Sabun AI?

Wedbush menyebut saga Siri sebagai “soap opera” teknologi yang akhirnya mendekati klimaks. Namun, ending-nya belum ditentukan.

Bagi Apple, AI bukan sekadar fitur baru—melainkan taruhan eksistensial terhadap masa depan ekosistem perangkat dan layanan mereka. Tahun 2026 akan menjadi tahun pembuktian: apakah Apple dapat mengubah AI dari hype menjadi produk yang dapat dijual, atau justru tertinggal dalam salah satu transformasi teknologi terbesar abad ini.