(Business Loune – Global News) Raksasa perjalanan daring, Expedia Group, menutup kuartal keempat dengan dorongan kuat dari lini yang selama ini jarang jadi sorotan utama: bisnis ke bisnis. Saat pemesanan konsumen tumbuh moderat, segmen B2B justru melesat dan menjadi mesin utama pertumbuhan penjualan.
Dalam laporan keuangan yang dikutip Reuters, Expedia mencatat kenaikan penjualan 11% pada kuartal keempat. Angka itu didorong lonjakan gross bookings bisnis B2B sebesar 24%, jauh melampaui kenaikan 5% pada pemesanan konsumen langsung. Perbedaan ritme ini memperlihatkan pergeseran dinamika di industri perjalanan digital.
Bisnis B2B Expedia mencakup penyediaan inventaris hotel, penerbangan, dan layanan perjalanan lainnya kepada mitra seperti maskapai, agen perjalanan daring, bank, hingga platform loyalitas. Alih-alih hanya mengandalkan konsumen yang memesan lewat merek seperti Hotels.com atau Vrbo, Expedia kini semakin kuat di belakang layar sebagai penyedia infrastruktur perjalanan global.
Menurut Bloomberg, model B2B menawarkan karakter pertumbuhan yang relatif stabil karena berbasis kontrak dan kolaborasi jangka panjang. Ketika mitra memperluas jangkauan pasar atau meningkatkan promosi perjalanan, volume transaksi yang mengalir lewat platform Expedia ikut terdongkrak. Ini berbeda dengan pasar konsumen yang lebih sensitif terhadap harga dan promosi musiman.
Kinerja ini muncul di tengah lanskap perjalanan global yang masih dinamis. Permintaan perjalanan internasional tetap solid, tetapi konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uang. Data yang dihimpun The Wall Street Journal menunjukkan bahwa banyak pelancong membandingkan harga lebih intens dan memanfaatkan program loyalitas untuk menekan biaya.
Di sinilah kekuatan B2B terasa. Mitra seperti maskapai atau bank kerap menawarkan paket perjalanan atau penukaran poin yang terintegrasi langsung dengan sistem Expedia. Setiap transaksi tersebut masuk dalam ekosistem perusahaan, tanpa perlu belanja pemasaran besar untuk menarik pelanggan satu per satu.
Dalam paparan kepada investor yang dilaporkan CNBC, manajemen Expedia menyebut bahwa investasi teknologi beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil. Platform terpadu yang memungkinkan mitra mengakses inventaris global secara efisien menjadi fondasi pertumbuhan B2B. Transformasi ini merupakan bagian dari restrukturisasi yang digencarkan sejak pandemi mengguncang industri perjalanan.
Jika dibandingkan dengan pesaing seperti Booking Holdings, Expedia kini tampak lebih agresif menonjolkan kekuatan distribusi B2B. Booking selama ini dikenal kuat di pasar konsumen langsung, khususnya lewat merek Booking.com. Expedia mencoba memosisikan diri sebagai pemain hibrida: kuat di depan layar sekaligus dominan di belakang layar.
Pertumbuhan 24% pada gross bookings B2B juga memberi bantalan terhadap perlambatan konsumen. Kenaikan 5% pada pemesanan langsung memang masih positif, tetapi tidak secepat lonjakan pascapandemi beberapa tahun lalu. Industri perjalanan kini memasuki fase normalisasi, di mana pertumbuhan tidak lagi spektakuler, melainkan lebih terukur.
Investor membaca data ini sebagai sinyal bahwa diversifikasi model bisnis mulai terasa manfaatnya. Ketika satu segmen melambat, segmen lain bisa mengambil alih peran. Dalam dunia perjalanan daring yang sangat kompetitif, memiliki lebih dari satu mesin pertumbuhan menjadi keunggulan strategis.
Namun tantangan tetap ada. Bisnis B2B biasanya beroperasi dengan margin berbeda dibanding penjualan langsung ke konsumen. Kontrak besar sering kali disertai negosiasi harga yang ketat. Expedia perlu menjaga keseimbangan antara volume dan profitabilitas agar lonjakan pemesanan benar-benar berdampak pada laba bersih.
Selain itu, kondisi makroekonomi global masih menyimpan ketidakpastian. Jika belanja perjalanan perusahaan atau mitra melambat, efeknya bisa terasa pada jalur B2B. Untuk saat ini, tren perjalanan lintas negara dan minat pada pengalaman tetap mendukung pertumbuhan.
Kuartal keempat menjadi cermin arah baru Expedia. Alih-alih hanya bersaing memperebutkan klik konsumen, perusahaan memperkuat peran sebagai tulang punggung distribusi perjalanan digital. Dengan penjualan tumbuh 11% dan B2B melonjak 24%, strategi tersebut tampak membuahkan hasil.
Bagi industri perjalanan, ini menandai fase evolusi. Platform tidak lagi sekadar etalase pemesanan, melainkan infrastruktur global yang menghubungkan ribuan mitra dan jutaan pelancong. Expedia memilih berada di pusat jaringan itu, memastikan setiap tiket dan kamar yang dipesan—baik lewat aplikasi sendiri maupun mitra—tetap mengalir melalui sistemnya.

