(Business Lounge Journal – News)
Raksasa ritel mewah Amerika Serikat, Saks Global, resmi mengumumkan penutupan besar-besaran jaringan toko diskonnya, Saks OFF Fifth. Sebanyak 57 gerai akan ditutup, menyisakan hanya 12 lokasi yang masih beroperasi. Keputusan ini diambil tak lama setelah perusahaan induknya mengajukan perlindungan kebangkrutan, menandai salah satu restrukturisasi ritel paling drastis di awal 2026.
Saks OFF Fifth selama ini dikenal sebagai versi “lebih terjangkau” dari Saks Fifth Avenue, menjual produk fesyen dan barang mewah dengan harga diskon. Konsep ini sempat menjadi andalan untuk menjangkau konsumen kelas menengah yang ingin mencicipi merek premium tanpa harus membayar harga penuh. Namun dalam beberapa tahun terakhir, strategi tersebut semakin sulit dipertahankan.
Dalam pernyataan resminya, Saks Global menyebut penutupan ini sebagai langkah penting untuk menstabilkan keuangan perusahaan. Pernyataan mengenai penutupan 57 lokasi Saks OFF Fifth itu dikeluarkan pada 29 Januari 2026 oleh Saks Global sebagai bagian dari langkah restrukturisasi setelah perusahaan mengajukan kebangkrutan.
Dengan memangkas mayoritas jaringan OFF Fifth, perusahaan berharap bisa mengurangi beban operasional, menekan biaya sewa, serta memfokuskan sumber daya pada bisnis inti yang dinilai masih memiliki prospek jangka panjang.
Kebangkrutan Saks Global sendiri mencerminkan tekanan berat yang sedang dialami sektor ritel mewah di Amerika Serikat. Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor utama. Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, belanja barang mewah bukan lagi prioritas utama banyak rumah tangga. Konsumen cenderung menahan pengeluaran atau beralih ke platform online yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Selain itu, biaya operasional toko fisik terus meningkat. Sewa properti di lokasi premium, biaya tenaga kerja, serta logistik menjadi beban besar, terutama ketika arus pengunjung ke pusat perbelanjaan menurun. Model outlet diskon yang sebelumnya dianggap solusi justru terjebak di tengah: tidak cukup eksklusif untuk segmen atas, namun masih terlalu mahal bagi konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.
Faktor struktural lain adalah beban utang yang tinggi. Saks Global terbentuk dari serangkaian akuisisi dan restrukturisasi dalam beberapa tahun terakhir. Ketika suku bunga naik dan akses pendanaan menjadi lebih ketat, tekanan pembayaran utang kian berat. Dalam situasi ini, menutup toko-toko yang kurang menguntungkan menjadi langkah yang hampir tak terhindarkan.
Penutupan 57 gerai Saks OFF Fifth juga berdampak langsung pada ribuan pekerja. Meski perusahaan belum merinci jumlah karyawan terdampak, keputusan ini memperpanjang daftar panjang PHK di sektor ritel AS. Bagi banyak pekerja, kebangkrutan bukan sekadar angka di laporan keuangan, melainkan ancaman nyata terhadap mata pencaharian.
Ke depan, Saks Global berencana mempertahankan hanya 12 lokasi OFF Fifth yang dinilai paling strategis, sambil mengevaluasi kembali peran toko fisik dalam ekosistem bisnisnya. Fokus akan diarahkan pada efisiensi, penjualan digital, dan penguatan merek inti Saks Fifth Avenue.
Kasus Saks OFF Fifth menjadi pengingat bahwa bahkan nama besar di dunia ritel mewah tidak kebal terhadap perubahan zaman. Di era konsumen yang semakin berhitung dan persaingan digital yang kian ketat, bertahan hidup sering kali berarti mengecilkan skala bisnis demi peluang bertumbuh kembali.

