(Business Lounge – Tech) Perlombaan kecerdasan buatan tidak lagi hanya soal model bahasa atau chip supercepat. Kini pertarungan bergeser ke satu aspek yang sering luput dari sorotan: listrik. Google menjadi salah satu perusahaan teknologi yang bergerak agresif untuk mengamankan pasokan energi bagi pusat data AI yang terus membengkak. Langkah terbaru datang lewat kesepakatan membeli pengembang energi angin dan surya Intersect, sebuah strategi yang menurut laporan The Wall Street Journal memperlihatkan bagaimana raksasa teknologi mulai bertindak seperti perusahaan energi.
Lonjakan kebutuhan komputasi membuat konsumsi listrik pusat data melonjak tajam. Model AI generatif membutuhkan daya jauh lebih besar dibanding layanan cloud tradisional. Situasi ini memicu kekhawatiran tentang krisis energi di berbagai wilayah, terutama di Amerika Serikat yang menjadi pusat ekspansi data center. Analisis Bloomberg menyebut perusahaan teknologi kini berlomba mengunci sumber listrik jangka panjang agar ekspansi AI tidak terganggu oleh keterbatasan jaringan.
Bagi Google, akuisisi Intersect bukan langkah tunggal, melainkan bagian dari rangkaian manuver yang telah disusun sejak beberapa tahun terakhir. Perusahaan terus menandatangani kontrak pembelian listrik terbarukan dalam skala besar, sekaligus berinvestasi pada proyek penyimpanan energi. Strategi ini membantu Google menyeimbangkan dua tujuan sekaligus: memastikan pasokan listrik stabil dan mempertahankan citra sebagai perusahaan yang berkomitmen pada energi bersih.
Pusat data modern membutuhkan kombinasi sumber energi yang fleksibel. Energi surya dan angin menawarkan solusi rendah karbon, tetapi ketersediaannya bergantung pada kondisi alam. Karena itu, perusahaan teknologi harus mengatur portofolio energi dengan cermat agar server tetap menyala tanpa jeda. Menurut laporan Reuters, kesepakatan dengan pengembang energi memberi Google kontrol lebih besar terhadap proyek yang akan memasok listrik langsung ke fasilitas AI mereka di masa depan.
Langkah agresif Google mencerminkan perubahan besar dalam lanskap teknologi. Dulu, perusahaan digital hanya membeli listrik dari utilitas lokal. Sekarang, mereka ikut membangun pembangkit sendiri, bahkan mengakuisisi pengembang energi untuk memastikan kapasitas yang cukup. Pengamat yang diwawancarai Financial Times menilai strategi ini sebagai bentuk vertikalisasi baru di era AI, di mana perusahaan teknologi ingin mengendalikan seluruh rantai nilai, mulai dari chip hingga sumber listrik.
Kebutuhan energi yang meningkat juga membuat persaingan antar raksasa teknologi makin intens. Microsoft, Amazon, dan Meta sama-sama mengumumkan investasi besar dalam energi terbarukan dan solusi daya alternatif. Namun Google terlihat ingin melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan proyek energi langsung ke strategi bisnis AI mereka. Dengan memiliki pengembang seperti Intersect, perusahaan bisa merancang proyek listrik yang disesuaikan dengan kebutuhan pusat data tertentu.
Di balik ambisi tersebut, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Infrastruktur listrik di banyak wilayah belum siap menampung lonjakan permintaan dari pusat data generasi baru. Proses perizinan proyek energi bisa memakan waktu lama, sementara perusahaan teknologi bergerak dengan ritme cepat. Laporan CNBC mencatat bahwa banyak operator jaringan listrik kini menghadapi antrean proyek baru yang panjang, memaksa perusahaan teknologi mencari solusi kreatif agar ekspansi tidak terhambat.
Investor melihat langkah Google sebagai sinyal bahwa energi akan menjadi faktor penentu dalam persaingan AI. Perusahaan yang mampu mengamankan listrik murah dan stabil memiliki keunggulan besar dalam menekan biaya operasional model AI yang mahal. Tidak heran jika akuisisi Intersect dianggap sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan fondasi energi yang kuat sebelum krisis pasokan benar-benar terasa.
Di sisi lain, langkah ini juga mengubah persepsi publik tentang peran perusahaan teknologi dalam transisi energi global. Google tidak lagi sekadar pembeli listrik hijau, tetapi juga pengembang proyek yang berkontribusi pada kapasitas energi baru. Pendekatan tersebut memberi peluang bagi perusahaan untuk mengurangi jejak karbon sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis AI yang membutuhkan daya luar biasa besar.
Cerita tentang Google dan Intersect menunjukkan bahwa revolusi AI memaksa industri teknologi memikirkan ulang hubungan mereka dengan energi. Server yang semakin canggih membutuhkan sumber listrik yang tidak hanya besar, tetapi juga dapat diprediksi. Dalam situasi ini, perusahaan yang mampu menggabungkan inovasi digital dengan strategi energi yang matang berpeluang memimpin era baru komputasi.
Ketika persaingan AI terus memanas, energi berubah dari faktor pendukung menjadi elemen inti strategi bisnis. Google tampaknya memahami bahwa masa depan kecerdasan buatan tidak hanya ditentukan oleh algoritma, tetapi juga oleh siapa yang memiliki akses ke listrik paling stabil. Dengan mengamankan proyek angin dan surya lebih awal, perusahaan mencoba memastikan bahwa ambisi AI mereka tidak terhambat oleh krisis daya yang mulai membayangi industri pusat data di seluruh dunia.
