(Business Lounge Journal – Human Resources)
Perdebatan soal bekerja dari kantor atau dari rumah belum benar-benar selesai. Di satu sisi, manajemen mendorong kehadiran fisik. Di sisi lain, karyawan menuntut fleksibilitas. Laporan Resume Builder menunjukkan bahwa 30% perusahaan berencana menghapus kerja jarak jauh pada 2026, sementara survei Vena Solutions mencatat 83% CEO global memperkirakan kembalinya kerja penuh dari kantor pada 2027.
Namun, fokus perdebatan perlahan bergeser. Bukan lagi soal di mana karyawan bekerja, melainkan kapan mereka bekerja.
Work-Life Balance Menyalip Gaji
Menurut Peter Miscovich, pemimpin global masa depan dunia kerja di JLL sekaligus penulis The Workplace You Need Now, 65% pekerja kantoran global kini menempatkan work-life balance sebagai prioritas utama, melampaui gaji dan kompensasi. Angka ini naik dari 59% empat tahun lalu.
Yang paling dihargai karyawan bukan lagi kebebasan lokasi semata, melainkan kendali atas waktu kerja—jam mulai dan selesai, waktu fokus tanpa gangguan, serta batas waktu pribadi yang jelas dan dapat diprediksi.
Pergeseran ini terjadi seiring meningkatnya intensitas beban kerja dan volume rapat. Kalender menjadi sumber stres utama, sehingga kontrol waktu dianggap sebagai cara paling cepat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan individu.
Dari Fleksibilitas Lokasi ke Otonomi Waktu
Pandangan ini juga diamini oleh Mohit Ramani, CEO Empyreal Infotech. Menurutnya, minat terhadap lokasi kerja mulai memudar karena yang lebih penting adalah bekerja di waktu yang tepat.
Dalam pekerjaan yang bergantung pada penilaian dan kualitas keputusan—bukan kehadiran fisik—kontrol waktu menjadi faktor kunci. Ketika fleksibilitas hanya dibahas sebagai “remote versus office”, organisasi kerap mengabaikan realitas kerja sehari-hari yang penuh interupsi dan sinkronisasi yang tidak perlu.
Bagi karyawan, fleksibilitas bukan kebijakan HR di atas kertas, melainkan pengalaman harian—bisa menjadi sumber friksi atau justru kelegaan.
Tantangan Nyata di Lapangan
Meski demikian, otonomi waktu bukan tanpa risiko. Tantangan terbesar adalah menjaga alur kerja tetap rapi tanpa menciptakan budaya always-on yang memindahkan stres ke malam hari dan akhir pekan.
Perusahaan sering tersendat ketika keputusan penting tertunda karena orang yang tepat tidak tersedia di waktu yang sama. Hal ini menciptakan antrean tersembunyi, memperlambat siklus kerja, dan mengganggu proses bisnis.
Solusi yang efektif mencakup penetapan jam kolaborasi inti, ekspektasi waktu respons yang jelas, serta jalur eskalasi dengan kepemilikan tanggung jawab yang tegas untuk pekerjaan yang sensitif terhadap waktu.
KPI Baru untuk Dunia Kerja Asinkron
Dalam model kerja dengan jam bertahap dan asinkron, perusahaan juga perlu mengubah cara mengukur kinerja. Fokus bergeser dari jam kerja ke hasil bisnis: kecepatan siklus kerja, throughput, kualitas output, tingkat rework, dampak ke pelanggan, dan kecepatan pengambilan keputusan.
Pendekatan praktisnya adalah memetakan alur kerja, mengidentifikasi jalur kritis, dan hanya mempertahankan KPI yang benar-benar mencerminkan hasil nyata.
Struktur Organisasi Ikut Dipertanyakan
Menurut Callum Gracie, pendiri Otto Media Group, perusahaan yang masih berkutat pada pertanyaan “kapan orang harus bekerja” biasanya masih mempertahankan hierarki lama yang sudah tidak relevan.
Isu utamanya bukan fleksibilitas jam kerja, melainkan apakah organisasi berani meratakan struktur dan memberi ruang bagi spesialis untuk bekerja secara otonom, atau tetap membayar lapisan koordinasi yang semakin tidak efisien.
Peran Baru Kantor Fisik
Jika fokus benar-benar bergeser dari lokasi ke waktu, lalu apa fungsi kantor fisik?
Kantor tidak lagi menjadi tempat wajib, melainkan destinasi pilihan—ruang yang menawarkan kolaborasi, pembelajaran, rasa memiliki, dan fokus yang lebih baik dibanding bekerja dari rumah. Nilai kantor tidak lagi ditentukan oleh luas bangunan, tetapi oleh perpaduan desain manusiawi, teknologi, dan ritual kerja yang membuat hari kerja di kantor terasa produktif dan bermakna.
Kepemimpinan di Era Otonomi Waktu
Di masa depan ini, kemampuan pemimpin memberi arah yang jelas menjadi keterampilan krusial. Prioritas harus tegas, hak pengambilan keputusan transparan, dan definisi pekerjaan cukup jelas untuk berjalan lintas jam kerja asinkron.
Yang tak kalah penting, pemimpin harus memberi contoh dengan menghormati batas waktu pribadi. Pola kerja pimpinan di luar jam kerja sering kali dengan cepat menjadi standar budaya organisasi.
Bukti Nyata di Lapangan
Thrive Local, sebuah perusahaan software dan agensi digital, menjadi contoh konkret. Setelah beralih dari jadwal tetap ke otonomi waktu, mereka mendefinisikan ekspektasi hasil sebelum pekerjaan dimulai.
Hasilnya signifikan: rata-rata waktu penyelesaian turun dari 9,5 hari menjadi 6,2 hari, rework akibat handoff turun 29%, dan volume pekerjaan mingguan meningkat dari 41 menjadi 56—tanpa menambah jam kerja.
Sebelumnya, produktivitas terganggu oleh kebiasaan drive-by check-ins dan dorongan status ad hoc. Setelah konteks kerja diperjelas, tim justru bekerja lebih efisien tanpa ketergantungan pada kehadiran pimpinan.
Dunia kerja bergerak ke fase baru. Work-life balance bukan lagi bonus, melainkan kebutuhan utama. Fleksibilitas pun berevolusi—dari soal lokasi ke soal waktu. Bagi perusahaan, tantangannya bukan sekadar mengizinkan otonomi, tetapi mendesain sistem, kepemimpinan, dan pengukuran kinerja yang mampu membuat otonomi waktu benar-benar menghasilkan kinerja yang lebih baik.

