(Business Lounge Journal – News)
Pernahkah Anda membayangkan sebuah negara yang ukurannya tidak lebih besar dari Jakarta, tapi punya nyali untuk menantang raksasa teknologi dunia? Ya, itulah negara Singapura, tetangga kita Indonesia. Baru-baru ini, “Negeri Singa” ini kembali membuat gebrakan dengan mengumumkan investasi fantastis senilai US$786 juta (sekitar Rp12,4 triliun) khusus untuk riset kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Angka yang bikin mata terbelalak ini bukan sekadar buat pamer. Ini adalah bagian dari rencana jangka panjang kementerian baru mereka, Ministry of Digital Development and Information, untuk memastikan Singapura tetap relevan di masa depan yang serba otomatis.
Bukan Sekadar Algoritma, Tapi Soal Manusia
Yang menarik, uang sebanyak itu tidak hanya habis untuk membeli server canggih atau menyewa kabel fiber optik tercepat. Fokus utama mereka justru ada pada orangnya. Melalui strategi yang disebut National AI Strategy (NAIS) 2.0, Singapura punya target ambisius: melipatgandakan jumlah praktisi AI di sana hingga tiga kali lipat.
Bayangkan saja, mereka menargetkan ada 15.000 tenaga ahli AI yang berkumpul di pulau tersebut. Mereka ingin Singapura menjadi magnet bagi para kreator AI terbaik dari seluruh penjuru bumi. Jadi, jika nanti ada teknologi AI paling mutakhir yang mengubah cara kita bekerja, kemungkinan besar “otak” di baliknya sedang menyeruput kopi di kawasan one-north Singapura.
AI yang Bertanggung Jawab dan Efisien
Di tengah ketakutan global soal AI yang mungkin bakal “mengambil alih dunia” atau boros energi, Singapura mengambil pendekatan yang lebih bijak. Dana jumbo ini diarahkan untuk pengembangan AI yang bertanggung jawab dan hemat sumber daya.
Artinya, mereka ingin menciptakan teknologi yang tidak hanya pintar, tapi juga etis dan ramah lingkungan. Riset ini nantinya akan disebar ke berbagai sektor industri, mulai dari kesehatan, transportasi, hingga layanan publik, agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Langkah Singapura ini mengirimkan pesan kuat ke wilayah Asia Tenggara: masa depan adalah tentang siapa yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi. Dengan menjadi pusat riset AI, Singapura sedang membangun benteng ekonomi baru yang tidak lagi bergantung pada perdagangan fisik semata, melainkan pada kekayaan intelektual dan data.
Bagi kita di Indonesia, fenomena ini bisa jadi pemacu semangat. Kompetisi talenta digital di tingkat regional akan semakin ketat. Singapura sudah mencuri start dengan modal triliunan rupiah; kini pertanyaannya adalah bagaimana negara tetangganya merespons ambisi besar ini.
Satu hal yang pasti, Singapura sedang membuktikan bahwa untuk menjadi raksasa di era digital, Anda tidak butuh lahan yang luas. Di masa kini, Anda hanya butuh visi yang tajam, ekosistem yang mendukung, dan tentu saja, investasi yang berani.

