(Business Lounge – Global News) Saham Burberry melonjak tajam setelah rumah mode asal Inggris itu melaporkan kenaikan penjualan yang melampaui ekspektasi pasar. Pada pembukaan perdagangan, saham Burberry naik sekitar 5,3 persen, mencerminkan optimisme investor terhadap arah baru strategi perusahaan yang kini semakin serius membidik konsumen muda, khususnya Generasi Z. Di tengah melambatnya pasar barang mewah global, langkah ini dinilai sebagai angin segar bagi merek legendaris yang identik dengan trench coat ikonis tersebut.
Kinerja positif ini datang pada saat industri fesyen mewah menghadapi tantangan berat. Konsumen kelas atas mulai menahan belanja akibat ketidakpastian ekonomi global, inflasi yang masih tinggi di beberapa wilayah, serta perlambatan pertumbuhan di China. Namun Burberry justru berhasil mencatat pertumbuhan penjualan, sebuah sinyal bahwa strategi reposisi merek yang mereka jalankan mulai membuahkan hasil.
Menurut Reuters, pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh peningkatan permintaan dari konsumen muda yang tertarik pada pendekatan desain Burberry yang lebih segar dan relevan. Di bawah kepemimpinan kreatif baru, Burberry menggeser citra klasiknya menjadi lebih modern, tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas Inggris yang menjadi ciri khasnya. Langkah ini terlihat dari koleksi yang lebih berani, kampanye pemasaran yang dekat dengan budaya pop, serta kolaborasi yang menyasar audiens digital.
Gen Z memang menjadi target utama banyak merek mewah saat ini. Kelompok konsumen ini tidak hanya memiliki daya beli yang terus tumbuh, tetapi juga membentuk tren melalui media sosial. Burberry tampaknya membaca perubahan ini dengan cukup jeli. Alih-alih hanya mengandalkan warisan merek, perusahaan mulai membangun narasi baru yang lebih inklusif dan relevan dengan gaya hidup generasi muda.
Menurut Bloomberg, kenaikan penjualan Burberry juga didukung oleh performa kuat di Amerika dan Eropa, sementara pasar Asia menunjukkan tanda-tanda stabil setelah periode yang lebih lemah. Meski China belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi, minat terhadap produk Burberry tetap terjaga, terutama di kalangan konsumen muda kelas menengah atas.
Strategi penyesuaian harga juga memainkan peran penting. Di saat beberapa merek mewah menaikkan harga secara agresif, Burberry memilih pendekatan yang lebih seimbang. Harga tetap mencerminkan eksklusivitas, tetapi tidak melampaui daya beli target pasar barunya. Hal ini membuat produk mereka lebih mudah diakses oleh konsumen muda yang baru memasuki dunia fesyen mewah.
Dari sisi investor, laporan keuangan terbaru ini memberikan sinyal bahwa Burberry berada di jalur pemulihan yang tepat. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan sempat tertinggal dibanding pesaing seperti LVMH dan Kering, yang lebih agresif dalam membangun portofolio merek dan ekspansi global. Kini, dengan fokus yang lebih tajam dan identitas merek yang diperbarui, Burberry mulai kembali diperhitungkan.
Menurut analisis Financial Times, keberhasilan Burberry bukan hanya soal desain, tetapi juga soal disiplin operasional. Perusahaan berhasil mengendalikan biaya, memperbaiki manajemen persediaan, dan meningkatkan efisiensi rantai pasok. Di tengah kondisi industri yang penuh tekanan, kemampuan menjaga margin menjadi faktor krusial yang diapresiasi pasar.
Meski demikian, tantangan ke depan masih besar. Persaingan di segmen mewah semakin ketat, sementara selera Gen Z dikenal cepat berubah. Apa yang relevan hari ini bisa dengan mudah ditinggalkan besok. Burberry harus terus berinovasi tanpa kehilangan identitas, sebuah keseimbangan yang tidak mudah dijaga dalam industri mode.
Selain itu, ketergantungan pada tren digital dan media sosial juga membawa risiko tersendiri. Popularitas bisa melonjak cepat, tetapi juga bisa turun dalam waktu singkat. Oleh karena itu, konsistensi kualitas produk dan narasi merek akan menjadi kunci untuk menjaga loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
Bagi pasar, lonjakan saham Burberry mencerminkan harapan bahwa transformasi yang dilakukan perusahaan mulai menunjukkan hasil nyata. Investor melihat adanya peluang bahwa Burberry dapat kembali menjadi pemain utama di segmen luxury global, bukan sekadar merek warisan yang bertahan dari masa lalu.
Fokus pada Gen Z kemungkinan akan terus diperkuat, baik melalui desain, pemasaran digital, maupun pengalaman belanja yang lebih personal. Jika strategi ini berhasil dipertahankan, Burberry berpotensi tidak hanya menghangatkan kembali citra mereknya, tetapi juga menciptakan fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di tengah dinamika industri fesyen global yang terus berubah.

