(Business Lounge – Entrepreneurship) Di tengah transformasi pasar tenaga kerja global, pekerja lepas yang dulunya dipandang sebagai pilihan terakhir kini justru menjadi gerbang masuk menuju dunia wirausaha. Temuan ini ditegaskan oleh sejumlah studi internasional, termasuk yang baru-baru ini dirilis oleh tim peneliti dari Harvard Business School dan MIT Sloan School of Management. Studi tersebut mengungkap bahwa pekerja lepas memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk memulai usaha dibandingkan populasi umum.
Secara global, istilah “pekerja lepas” atau “gig worker” merujuk pada individu yang bekerja berdasarkan proyek atau permintaan jangka pendek, baik melalui platform digital maupun secara langsung. Mereka tidak terikat sebagai karyawan tetap dan umumnya mengatur jam kerja serta aliran penghasilan mereka sendiri. Profesi ini mencakup banyak kategori: pengemudi layanan transportasi daring, pengantar makanan, freelancer desain, fotografer, hingga guru privat daring.
Para peneliti menemukan bahwa lebih dari 20 persen pekerja lepas yang disurvei memulai usaha dalam tiga tahun setelah menjalani pekerjaan semacam itu. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang bekerja di sektor formal secara penuh. Lebih menarik lagi, sebagian besar dari usaha yang dibentuk oleh mantan pekerja lepas ini menunjukkan tingkat keberlanjutan dan profitabilitas yang tinggi dalam jangka waktu dua tahun sejak berdiri.

Salah satu faktor utama yang mendorong keberhasilan ini adalah pengalaman langsung dalam mengelola ketidakpastian. Pekerja lepas terbiasa dengan pendapatan yang fluktuatif, mengatur waktu secara mandiri, dan mencari klien tanpa perantara. Mereka juga akrab dengan teknologi serta terbiasa membangun personal branding secara daring. Kemampuan-kemampuan inilah yang menjadi fondasi kuat saat mereka beralih menjadi pemilik usaha.
Di Indonesia, tren ini semakin jelas terlihat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 terdapat lebih dari 82 juta pekerja yang berada dalam sektor informal, banyak di antaranya bekerja secara lepas. Di samping itu, platform digital seperti Gojek, Grab, Tokopedia, Shopee, hingga Sribulancer dan Projects.co.id telah menjadi ekosistem yang memfasilitasi transisi dari pekerjaan lepas ke kewirausahaan skala kecil dan menengah.
Setiawan Chogah memulai kariernya sebagai freelancer pembuatan website. Pada 2018, ia mendirikan layanan konsultan digital bernama dezainin.com yang fokus pada pembuatan website terjangkau untuk UMKM. Hingga kini, dezainin.com telah membantu puluhan UMKM, lembaga sosial, dan perusahaan berkembang, bahkan menembus pasar internasional seperti Hong Kong, Amerika Serikat, dan Australia. Setiawan juga aktif membagikan konten literasi keuangan dan investasi melalui akun Instagramnya serta mengajar di dezain institute. Profil Setiawan dapat ditemukan melalui situs resminya di dezainin.com dan akun Instagram @setiawanchogah.
Kiki Gumelar, pendiri Chocodot, memulai usahanya setelah secara tidak sengaja mencampurkan dodol dengan cokelat. Meskipun awalnya mendapat penolakan, ia terus mengembangkan produknya. Kini, Chocodot telah mempekerjakan 200 orang dan mengolah 20-30 ton cokelat per bulan, serta mengembangkan wisata kota Garut dengan menyediakan wisata khusus cokelat, kafe, bakery, dan museum cokelat. Kisahnya telah diliput oleh media seperti Liputan6 dan Kompas.

Susi Pudjiastuti memulai kariernya sebagai pedagang ikan di Pangandaran. Pada 1996, ia mendirikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang mengekspor produk laut ke Asia dan Amerika. Untuk mendukung pengiriman produknya, ia membeli pesawat Cessna dan mendirikan Susi Air pada 2004. Susi Air kini menjadi operator terbesar Cessna Grand Caravans di Asia Pasifik. Profilnya tercatat dalam berbagai media internasional seperti Forbes.
Meskipun banyak kisah sukses, transisi dari pekerja lepas ke pengusaha tidak selalu mudah. Pekerja lepas umumnya kesulitan akses pembiayaan, banyak pekerja lepas kesulitan mendapatkan modal usaha karena tidak memiliki slip gaji tetap atau agunan. Namun, beberapa fintech seperti Amartha, KoinWorks, dan Modalku mulai menyediakan pinjaman berbasis reputasi digital.
Literasi keuangan. Kurangnya pengetahuan dalam mengelola keuangan usaha menjadi hambatan. Pelatihan dari komunitas, lembaga pemerintah seperti Kementerian Koperasi dan UKM, atau platform digital bisa menjadi solusi. Manajemen waktu dan SDM. Pekerja lepas yang terbiasa bekerja sendiri sering kali kesulitan membangun tim atau membagi tugas saat bisnis mulai berkembang.
Beberapa platform kini mulai menyediakan pelatihan tersebut. Gojek memiliki program GoAcademy, sementara Grab menawarkan GrabMerchant Academy. Tokopedia juga menggandeng mitra pelatihan seperti Kampus UMKM. Di luar itu, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM telah meluncurkan program-program pendampingan untuk pelaku usaha baru, termasuk yang berasal dari sektor pekerja lepas.

Selain pelatihan teknis, dukungan psikologis juga penting. Banyak pekerja lepas yang merasa terisolasi atau ragu untuk mengambil langkah besar menjadi pengusaha. Komunitas daring seperti Femalepreneur Indonesia, Freelancer Indonesia, dan UKM Digital Indonesia menjadi ruang berbagi pengalaman dan membangun semangat kolektif.
Satu aspek menarik lainnya dari transisi ini adalah perubahan mentalitas. Pekerja lepas umumnya memiliki kontrol atas waktu dan beban kerja mereka. Ketika mereka memutuskan untuk membangun usaha, mereka membawa semangat fleksibilitas itu ke dalam model bisnis mereka. Banyak dari mereka yang menerapkan sistem kerja jarak jauh, jam kerja adaptif, dan model bagi hasil dengan mitra. Hal ini membuat usaha mereka lebih gesit dan responsif terhadap perubahan pasar.
Dari sisi kebijakan publik, para ahli menyarankan agar pemerintah mengadopsi pendekatan inklusif dalam merumuskan regulasi ketenagakerjaan digital. Dalam wawancara dengan The Jakarta Post, ekonom dari INDEF, Bhima Yudhistira, menegaskan pentingnya perlindungan sosial bagi pekerja lepas sekaligus pembinaan terstruktur bagi yang ingin naik kelas menjadi pengusaha. Ia menyarankan integrasi sistem jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan dan insentif pajak bagi usaha rintisan yang berasal dari sektor informal.
Perusahaan teknologi pun mulai melihat pekerja lepas sebagai aset jangka panjang. Beberapa di antaranya bahkan menciptakan jalur karier khusus atau program loyalitas untuk mitra kerja mereka yang menunjukkan potensi kewirausahaan. Strategi ini bertujuan mempertahankan talenta sekaligus memperluas ekosistem bisnis yang berbasis pada komunitas pengguna dan penyedia jasa.
Baca juga : Inovasil atau Tenggelam?
Apa yang terjadi saat ini adalah perubahan struktural dalam dunia kerja. Pekerjaan tidak lagi berarti masuk kantor dari jam 9 pagi sampai 5 sore. Bekerja lepas dan membangun usaha kini bisa berjalan berdampingan. Bahkan, bagi banyak orang, pekerjaan lepas adalah laboratorium mini untuk menguji ide, membangun jejaring, dan mengenal pasar—tiga unsur penting dalam memulai usaha yang berkelanjutan.
Namun dengan dukungan teknologi, komunitas daring, serta berkembangnya ekosistem pembinaan UMKM, semakin banyak peluang bagi pekerja lepas Indonesia untuk naik kelas menjadi pengusaha. Mereka bukan hanya membuka peluang untuk diri sendiri, tapi juga menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan ekonomi lokal dari bawah ke atas.
Seiring waktu, pergeseran ini berpotensi memperkuat struktur ekonomi nasional. Dengan meningkatnya jumlah pengusaha baru yang lahir dari latar belakang pekerja lepas, terbentuk pula jaringan produksi dan distribusi yang lebih merata. Di kota-kota lapis kedua dan ketiga, geliat wirausaha dari kalangan mantan pekerja lepas turut mengurangi ketimpangan pembangunan.
Pemerintah pun mulai mencermati tren ini. Dalam beberapa kebijakan strategis yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dukungan terhadap ekonomi digital dan pemberdayaan UMKM menjadi prioritas utama. Program inkubasi bisnis, pelatihan digital marketing, serta akses ke pasar internasional mulai diperluas bagi pengusaha baru yang lahir dari sektor informal.
Lembaga swadaya masyarakat dan universitas juga memainkan peran penting. Berbagai inkubator wirausaha telah dibentuk, baik oleh kampus seperti Universitas Indonesia, ITB, maupun lembaga independen seperti Impact Hub Jakarta dan Kinara Indonesia. Mereka memberikan pendampingan teknis, pelatihan manajerial, hingga mempertemukan startup dengan investor.
Tidak sedikit pula pekerja lepas yang memanfaatkan media sosial untuk menjaring pasar dan membangun komunitas konsumen. Dari TikTok, Instagram, hingga YouTube, berbagai cerita sukses wirausaha lokal bermula dari konten yang dibagikan konsisten dan berdaya tarik emosional. Keberadaan komunitas digital ini memberi validasi awal terhadap ide bisnis sebelum benar-benar diluncurkan.
Dalam skala nasional, bila tren ini terus berlanjut, pekerja lepas yang menjadi pengusaha dapat menjadi motor penggerak baru dalam penciptaan lapangan kerja. Mengingat 97 persen lapangan kerja di Indonesia diserap oleh UMKM, maka transisi pekerja lepas ke pengusaha dapat memperkuat resilien ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Pekerja lepas bukan lagi sekadar pengisi kekosongan pasar tenaga kerja. Mereka kini adalah embrio pengusaha tangguh masa depan. Dan ketika dukungan ekosistem semakin solid, peluang bagi mereka untuk sukses tidak lagi sekadar mimpi. Mereka bisa menjadi fondasi ekonomi yang lebih mandiri, inklusif, dan berdaya saing tinggi di era digital.

