Cathay Pacific Catat Laba Naik di Tengah Dampak Perang Iran pada Industri Penerbangan Global

(Business Lounge Journal – Global News)

Maskapai asal Hong Kong, Cathay Pacific, berhasil mencatat peningkatan laba meskipun industri penerbangan global sedang menghadapi tekanan besar akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Perang yang melibatkan Iran telah memicu lonjakan harga bahan bakar pesawat dan gangguan jalur udara, memaksa banyak maskapai di dunia untuk menyesuaikan strategi operasional mereka.

Dalam laporan keuangan terbarunya, Cathay Pacific melaporkan laba tahunan sekitar HK$10,8 miliar, meningkat sekitar 9,5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kinerja positif ini didorong oleh meningkatnya permintaan perjalanan udara serta pemulihan kuat pada sektor kargo setelah beberapa tahun penuh tantangan bagi industri penerbangan global.

Namun, pencapaian tersebut datang di tengah situasi yang tidak stabil. Konflik di Timur Tengah telah menyebabkan lonjakan tajam harga bahan bakar jet—komponen biaya terbesar bagi maskapai, yang dapat mencapai sekitar 40 persen dari total biaya operasional. Harga bahan bakar bahkan sempat melonjak dari sekitar US$85–US$90 per barel menjadi US$150–US$200 hanya dalam waktu singkat.

Lonjakan harga energi ini sebagian besar dipicu oleh gangguan pada jalur ekspor minyak global, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Ketika pasokan terganggu, harga energi global ikut melonjak dan berdampak langsung pada industri penerbangan.

Selain kenaikan harga bahan bakar, maskapai juga menghadapi perubahan mendadak dalam pola perjalanan penumpang dan rute penerbangan. Banyak penerbangan harus menghindari wilayah udara tertentu di Timur Tengah demi alasan keamanan, sehingga rute menjadi lebih panjang dan membutuhkan lebih banyak bahan bakar. Kondisi ini menambah tekanan pada biaya operasional maskapai.

Menghadapi situasi tersebut, Cathay Pacific mengatakan sedang mempertimbangkan kenaikan fuel surcharge (biaya tambahan bahan bakar) untuk menutupi sebagian biaya operasional yang meningkat. Perusahaan menilai langkah ini diperlukan agar operasional penerbangan tetap stabil di tengah lonjakan harga energi.

Langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah maskapai lain. Qantas, maskapai nasional Australia, telah menaikkan tarif penerbangan internasional karena biaya bahan bakar yang semakin mahal. Maskapai lain seperti Air New Zealand dan beberapa maskapai Eropa juga mulai menyesuaikan harga tiket atau menambah biaya  bahan bakar.

Meski demikian, Cathay Pacific tetap optimistis terhadap prospek bisnisnya. Maskapai ini berencana meningkatkan kapasitas penumpang sekitar 10 persen pada 2026 dengan menambah frekuensi penerbangan dan destinasi baru. Permintaan perjalanan internasional, terutama pada rute jarak jauh, masih menunjukkan tren kuat meskipun kondisi geopolitik sedang tidak menentu.

Bagi industri penerbangan global, situasi ini menjadi pengingat bahwa sektor transportasi udara sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik dan harga energi. Ketika konflik internasional terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan tersebut, tetapi juga oleh maskapai dan penumpang di seluruh dunia.

Ke depan, maskapai kemungkinan akan terus menyesuaikan harga tiket, rute penerbangan, dan strategi bahan bakar untuk menghadapi volatilitas pasar energi. Dalam kondisi seperti ini, fleksibilitas dan manajemen risiko menjadi kunci bagi maskapai untuk tetap bertahan dan menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian global.