Cara Mengatasi Brain Rot, Terutama pada Anak!

(Business Lounge Journal – Medicine)

Masalah brain rot, atau penurunan kemampuan mental dan intelektual seseorang—khususnya karena terlalu banyak mengonsumsi materi (terutama yang online) yang tidak menantang—memang menjadi tantangan masa kini. Brain rot bisa terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Jika hal ini menimpa anak-anak, orang tualah yang harus berusaha memperbaikinya, tentu dengan dukungan dan kemauan dari sang anak untuk berubah.

Memang, brain rot sering kali terjadi karena frekuensi penggunaan gadget yang berlebihan, serta kebiasaan berpindah konten dengan sangat cepat.

Seperti yang dibahas di artikel sebelumnya, dampak brain rot memang berbahaya. Salah satunya adalah menurunnya daya ingat. Pada anak usia sekolah, hal ini tentu dapat berdampak pada kecerdasan serta kemampuan akademis mereka.

Nah, sekarang bagaimana cara mencegah dan menangani brain rot, terutama jika itu terjadi pada anak-anak?

1. Berikan aktivitas sosial secara langsung

Biasakan anak untuk berkomunikasi dan bermain bersama orang lain, serta hindari kebiasaan berkomunikasi hanya melalui gadget. Jika anak memiliki kakak atau adik, biasakan mereka memiliki waktu bermain bersama. Jika anak Anda adalah anak tunggal, carilah teman sebaya—misalnya dari saudara, tetangga, atau komunitas—untuk bermain bersama secara langsung, bukan melalui gadget.

Anda sendiri juga bisa menjadi teman bermain bagi anak. Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas fisik bersama, seperti bermain, bersepeda, atau mengajaknya ke playground dan tempat aktivitas fisik lainnya yang jauh dari gadget.

2. Lakukan detoks digital secara berkala

Untuk anak Anda, mungkin ada faktor tertentu yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya lepas dari gadget, misalnya karena kebutuhan sekolah. Namun, detoks digital tetap perlu dilakukan.

Sebagai contoh, Anda dapat menetapkan aturan bahwa mulai Jumat sore hingga Minggu, anak tidak menggunakan gadget sama sekali dan fokus pada aktivitas sosial. Jika dalam kondisi mendesak anak harus menggunakan gadget, ia harus meminta izin kepada orang tua dan penggunaan waktunya dibatasi sesuai kebutuhan saja.

3. Lakukan aktivitas stimulasi otak

Aktivitas stimulasi otak dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan bermanfaat, seperti membaca, bermain puzzle, mengerjakan teka-teki silang, menggambar, atau belajar bahasa baru. Semua kegiatan tersebut berguna untuk meningkatkan kemampuan berpikir sekaligus mengurangi risiko brain rot.

4. Perbanyak aktivitas fisik yang berhubungan dengan life skill

Ajarkan anak berbagai keterampilan yang berkaitan dengan life skill, seperti belajar memainkan alat musik, berkebun, atau memasak ringan yang aman—misalnya membuat adonan kue dan kegiatan sederhana lainnya. Aktivitas ini dapat membantu anak menjauhi gadget dan menggunakan waktunya untuk hal yang lebih bermanfaat.

5. Batasi screen time dan konten yang dilihat anak

Orang tua perlu mengetahui dengan jelas konten apa yang dilihat oleh anak. Jangan biasakan mereka menonton konten yang tidak mendidik atau bermain gim yang tidak bermanfaat, apalagi yang dapat memicu perubahan perilaku.

Hindari memberikan gadget secara sembarangan. Setelah mengetahui konten yang diakses anak, batasi pula waktu screen time mereka. Jika memungkinkan, hubungkan gadget anak dengan gadget orang tua agar orang tua dapat memantau aktivitas digital anak. Tentu semua ini dilakukan demi kebaikan serta perkembangan kecerdasan anak.

6. Jelaskan kepada anak bahwa kehidupan di media sosial belum tentu sesuai kenyataan

Hal ini penting untuk dijelaskan oleh orang tua. Kehidupan yang terlihat di media sosial sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.

Anak tidak perlu memiliki impian semu atau “halu” untuk menjadi seperti influencer atau figur tertentu di media sosial. Sebaliknya, anak perlu menemukan bakat dan hobinya sendiri, serta berkembang sesuai kemampuan dan minatnya, bukan sekadar mengikuti apa yang dilihat di media sosial.

7. Untuk orang tua: jangan melihat gadget saat anak mengajak bicara

Hal ini sangat penting, karena anak belajar dari contoh yang diberikan oleh orang tua. Jangan sepenuhnya menyalahkan anak jika ia terbiasa melihat gadget terlalu lama, sementara orang tua di depannya melakukan hal yang sama.

Usahakan untuk tidak melihat gadget ketika anak Anda mengajak bicara. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Ingat, jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari.