Lululemon

Pertarungan di Tubuh Lululemon Kembali Memanas

(Business Lounge – Global News) Pertarungan di tubuh Lululemon Athletica kembali memanas. Pendiri perusahaan, Chip Wilson, melancarkan kritik terbuka terhadap jajaran direksi dan menuding tata kelola perusahaan melemah serta arah strategi bisnis kian kabur. Langkah ini memicu ketegangan baru di antara pemegang saham, sekaligus membuka kembali luka lama antara sang pendiri dan manajemen yang kini memimpin salah satu merek athleisure paling berpengaruh di dunia.

Dalam pernyataan yang dikutip Reuters, Wilson menyebut dewan direksi gagal menjaga disiplin strategis dan terlalu permisif terhadap keputusan yang menurutnya menjauh dari DNA awal Lululemon. Ia menilai perusahaan kehilangan fokus pada kualitas produk inti dan terlalu sibuk mengejar ekspansi tanpa fondasi yang solid. Tuduhan ini langsung menyedot perhatian pasar karena datang dari figur yang membangun merek tersebut sejak awal berdiri di Vancouver.

Sejak mundur dari posisi manajemen aktif beberapa tahun lalu, Wilson memang tetap menjadi pemegang saham signifikan. Hubungannya dengan dewan tidak selalu mulus. Namun kali ini, kritiknya terdengar lebih keras. Ia menyoroti apa yang disebutnya sebagai kelemahan governance—mulai dari komposisi dewan, mekanisme pengawasan, hingga akuntabilitas terhadap strategi jangka panjang. Menurutnya, dewan seharusnya lebih berani mengevaluasi arah ekspansi global dan kontrol biaya.

Manajemen Lululemon membalas dengan nada terukur. Dalam keterangan resmi yang dilaporkan Bloomberg, perusahaan menegaskan bahwa tata kelola berjalan sesuai praktik terbaik dan strategi ekspansi internasional masih berada di jalur yang direncanakan. Lululemon juga menggarisbawahi pertumbuhan pendapatan yang tetap kuat, terutama di pasar Asia dan kategori pria. Pihak perusahaan menyebut kritik Wilson tidak mencerminkan realitas operasional saat ini.

Meski begitu, pasar tak bisa mengabaikan bobot pernyataan seorang pendiri. Dalam sejarah korporasi global, konflik antara founder dan dewan sering kali mengguncang persepsi investor. Lululemon pernah mengalami dinamika serupa pada masa lalu, ketika isu kepemimpinan dan budaya perusahaan menjadi sorotan publik. Kini, perdebatan beralih pada pertanyaan yang lebih strategis: apakah perusahaan masih setia pada identitas awalnya atau sudah terlalu jauh bereksperimen?

Analis yang diwawancarai CNBC melihat dua sisi cerita. Di satu sisi, Lululemon masih mencatatkan pertumbuhan penjualan yang relatif tangguh dibanding banyak peritel pakaian lain. Brand equity-nya tetap kuat di segmen premium, dengan margin yang termasuk tinggi di industri. Namun di sisi lain, ekspansi agresif dan investasi besar di kanal digital serta pasar internasional membawa risiko eksekusi. Jika pertumbuhan melambat, struktur biaya bisa menjadi beban.

Wilson menyoroti apa yang ia anggap sebagai “strategic drift”—pergeseran arah tanpa jangkar jelas. Ia berpendapat bahwa diferensiasi Lululemon dulu terletak pada komunitas, kualitas teknis produk, dan koneksi erat dengan konsumen yoga. Kini, menurutnya, fokus itu terpecah oleh ambisi menjadi merek gaya hidup global yang serba ada. Bagi sebagian investor lama, kritik ini terdengar akrab.

Dewan direksi, dalam pernyataan terpisah yang dikutip Financial Times, menekankan bahwa strategi diversifikasi justru memperluas basis pelanggan dan memperkuat daya saing. Lululemon tidak lagi sekadar merek yoga, melainkan pemain global di pakaian olahraga premium. Ekspansi ke sepatu, pakaian pria, dan pasar internasional dipandang sebagai evolusi logis, bukan penyimpangan.

Pertarungan ini juga menyentuh isu klasik dalam dunia bisnis: sejauh mana pendiri berhak memengaruhi arah perusahaan setelah tak lagi memegang kendali operasional. Di banyak kasus, founder vision menjadi sumber inspirasi sekaligus sumber gesekan. Wilson dikenal memiliki pandangan kuat tentang identitas merek. Ketika arah perusahaan tak sejalan dengan keyakinannya, konflik pun sulit dihindari.

Dari sudut pandang pasar modal, isu governance bisa berdampak besar. Investor institusi biasanya sensitif terhadap potensi instabilitas dewan. Jika konflik berkembang menjadi perebutan kursi atau kampanye proksi, volatilitas saham berpotensi meningkat. Namun untuk saat ini, sebagian analis melihatnya sebagai tekanan reputasional yang masih bisa dikelola.

Menariknya, perdebatan ini muncul di tengah lanskap ritel global yang sedang berubah. Konsumen lebih selektif, kompetisi makin padat, dan inovasi produk menjadi faktor pembeda utama. Lululemon selama ini dianggap berhasil menjaga keseimbangan antara eksklusivitas dan pertumbuhan. Tantangannya adalah mempertahankan premium positioning tanpa terjebak dalam ekspansi berlebihan.

Wilson tampaknya ingin memastikan warisan mereknya tidak tergerus. Ia menyerukan evaluasi ulang komposisi dewan dan mendorong pendekatan yang lebih fokus pada profitabilitas inti. Apakah ini akan berujung pada perubahan nyata di tingkat manajemen masih menjadi tanda tanya. Sejarah menunjukkan bahwa tekanan publik dari pendiri bisa memicu reformasi, tetapi juga bisa memecah belah pemegang saham.

Bagi investor, yang terpenting tetap angka. Selama Lululemon mampu menjaga pertumbuhan pendapatan dan margin, konflik internal mungkin dianggap sebagai dinamika biasa. Namun bila performa mulai goyah, kritik Wilson bisa memperoleh dukungan lebih luas. Dalam dunia korporasi, legitimasi sering kali ditentukan oleh hasil.

Pertarungan ini menjadi bab terbaru dalam perjalanan Lululemon sebagai perusahaan publik. Dari merek yoga lokal hingga raksasa athleisure global, evolusinya penuh tantangan. Kini, sorotan tertuju pada ruang rapat dewan. Apakah perusahaan akan menyesuaikan arah, atau tetap melaju dengan strategi yang ada?

Yang jelas, suara pendiri tidak mudah diabaikan. Di balik angka dan grafik saham, ada narasi tentang identitas, visi, dan kontrol. Konflik ini bukan sekadar soal kursi dewan, melainkan tentang siapa yang memegang kompas ketika kapal bisnis berlayar di perairan kompetisi global yang kian dinamis.