Di era serbadigital, memberikan gawai kepada balita sering dianggap sebagai “penyelamat” agar anak tenang saat orang tua bekerja atau beraktivitas. Namun berbagai temuan ilmiah menunjukkan bahwa paparan layar terlalu dini bukan sekadar memengaruhi perilaku, tetapi juga berkaitan dengan perubahan struktur dan fungsi otak yang sedang berkembang sangat cepat pada dua tahun pertama kehidupan.
Apa yang Terjadi pada Otak Balita?
Dua tahun pertama adalah fase emas pembentukan sinapsis. Pada masa ini, otak membangun jutaan koneksi baru setiap detik melalui interaksi nyata—tatapan mata, sentuhan, suara orang tua, dan eksplorasi fisik. Stimulasi pasif dari layar tidak mampu menggantikan pengalaman multisensorik tersebut.
Studi yang diterbitkan di JAMA Pediatrics tahun 2019 oleh John Hutton dan timnya menggunakan MRI untuk menunjukkan bahwa anak prasekolah dengan paparan layar tinggi memiliki integritas materi putih (white matter) yang lebih rendah. Materi putih adalah “jalur kabel” penghubung antarbagian otak. Jika kualitasnya terganggu, proses bahasa, literasi awal, dan fungsi eksekutif dapat terdampak.
Penelitian lanjutan di JAMA Pediatrics (2023) menemukan bahwa penggunaan layar pada bayi berkaitan dengan perubahan pola gelombang otak (EEG) yang memengaruhi perhatian dan kontrol diri hingga usia sekolah. Sementara itu, publikasi di The Lancet Child & Adolescent Health sering menyoroti kaitan antara perilaku sedentari dan penurunan performa kognitif anak.
Dampak Jangka Panjang
Anak dengan screen time tinggi sebelum usia dua tahun lebih berisiko mengalami:
- Keterlambatan bicara akibat minimnya interaksi dua arah.
- Kesulitan konsentrasi karena terbiasa dengan stimulasi visual cepat.
- Tantangan regulasi emosi dan pemahaman ekspresi sosial.
Istilah “kerusakan permanen” memang terdengar menakutkan. Faktanya, otak anak memiliki plastisitas tinggi. Namun, pencegahan tetap jauh lebih efektif dibanding intervensi setelah gangguan muncul.
Organisasi seperti World Health Organization dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan nol screen time untuk anak di bawah 18–24 bulan, kecuali untuk video call bersama keluarga.
Bagaimana Dampaknya pada Otak Orang Dewasa?
Walau fokus utama penelitian adalah anak, screen time berlebihan juga berdampak pada otak orang dewasa. Paparan konten cepat dan terus-menerus dapat:
- Menurunkan rentang perhatian (attention span).
- Mengganggu kualitas tidur akibat paparan cahaya biru yang menekan produksi melatonin.
- Meningkatkan stres dopaminik, membuat otak terbiasa dengan rangsangan instan dan sulit menikmati aktivitas yang lebih lambat seperti membaca mendalam.
- Memengaruhi kesehatan emosional, termasuk meningkatnya kecemasan dan kelelahan mental.
Berbeda dengan balita, otak dewasa sudah matang secara struktural, sehingga tidak mengalami gangguan perkembangan dasar. Namun, kebiasaan digital berlebihan dapat mengubah pola konektivitas dan regulasi perhatian melalui mekanisme neuroplastisitas.
Intinya, baik pada anak maupun dewasa, layar bukanlah musuh—tetapi penggunaannya perlu bijak dan terukur. Otak kita, di setiap usia, tetap membutuhkan interaksi nyata, gerak fisik, dan hubungan sosial yang hangat untuk berkembang optimal.

