(Business Lounge – Medicine) Saat permintaan vaksin Covid-19 tak lagi seramai masa darurat global, Moderna memilih berdiri tegak dengan nada percaya diri. Perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat itu menegaskan kembali target pertumbuhan pendapatan rata-rata 10% dalam beberapa tahun mendatang, walau bisnis vaksin Covid yang dulu menjadi mesin uang kini melandai tajam.
Dalam laporan kuartal keempat, Moderna membukukan rugi bersih 826 juta dolar AS atau 2,11 dolar per saham. Angka itu terdengar berat, tetapi justru lebih baik dari perkiraan analis Wall Street. Seperti dicatat Reuters, pasar sebelumnya memproyeksikan kerugian yang lebih dalam. Respons investor pun relatif tenang karena hasil tersebut dinilai masih berada dalam koridor ekspektasi.
Kontrasnya terasa jelas jika menengok beberapa tahun silam. Di puncak pandemi, vaksin mRNA Moderna menjadi salah satu produk paling diburu pemerintah di seluruh dunia. Pendapatan melonjak drastis, laba mengalir deras. Kini, ketika Covid-19 berubah status dari krisis global menjadi penyakit yang dikelola rutin, permintaan vaksin ikut menyusut. Banyak negara telah memiliki stok memadai, sementara minat booster tahunan tidak setinggi kampanye vaksinasi awal.
Menurut laporan Bloomberg, penjualan vaksin Covid Moderna turun signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Musim vaksinasi yang lebih pendek dan cakupan imunisasi yang lebih terbatas menjadi faktor utama. Selain itu, kompetisi dengan rival seperti Pfizer dan mitranya BioNTech ikut memengaruhi pangsa pasar.
Meski begitu, manajemen Moderna menekankan bahwa perusahaan kini berada dalam fase transisi, bukan kemunduran permanen. Dalam paparan kepada investor yang dikutip CNBC, eksekutif perusahaan menyatakan fokus utama adalah memperluas portofolio vaksin dan terapi berbasis mRNA di luar Covid-19. Target pertumbuhan 10% dipandang realistis dengan asumsi sejumlah produk baru berhasil menembus pasar.
Pipeline Moderna memang terbilang padat. Perusahaan mengembangkan vaksin RSV, kombinasi flu-Covid, hingga kandidat vaksin kanker personalisasi berbasis teknologi mRNA. Dalam analisis The Wall Street Journal, strategi ini disebut sebagai upaya mengubah citra Moderna dari “perusahaan satu produk” menjadi pemain platform biotek yang lebih beragam.
Namun perjalanan itu tidak murah. Beban penelitian dan pengembangan tetap tinggi. Moderna menggelontorkan miliaran dolar untuk uji klinis tahap lanjut, manufaktur, dan ekspansi fasilitas produksi. Kerugian kuartalan mencerminkan investasi agresif tersebut. Bagi manajemen, rugi hari ini adalah harga yang dibayar demi sumber pendapatan baru esok hari.
Di pasar saham, narasi jangka panjang sering kali lebih penting daripada angka satu kuartal. Sejumlah analis yang diwawancarai Yahoo Finance menilai kinerja kuartal keempat menunjukkan disiplin biaya yang mulai membaik. Pengeluaran operasional ditekan dibanding puncak pandemi, sementara kas perusahaan masih tergolong tebal hasil lonjakan laba beberapa tahun lalu.
Tetap saja, risiko membayangi. Permintaan vaksin Covid kemungkinan tidak akan kembali ke level 2021–2022. Jika produk-produk baru terlambat mendapat persetujuan regulator atau gagal memenuhi ekspektasi klinis, proyeksi pertumbuhan bisa terganggu. Industri biotek dikenal penuh ketidakpastian; satu hasil uji klinis dapat mengubah arah valuasi dalam hitungan hari.
Di sisi lain, peluang tetap terbuka. Vaksin RSV untuk lansia dan bayi, misalnya, dinilai memiliki pasar yang luas. Kombinasi vaksin flu dan Covid dalam satu suntikan juga dipandang menarik bagi sistem kesehatan yang ingin menyederhanakan distribusi. Jika inovasi tersebut sukses, Moderna berpotensi menciptakan sumber pendapatan berulang yang lebih stabil dibanding lonjakan musiman vaksin pandemi.
Lingkungan makroekonomi juga ikut memengaruhi sentimen. Suku bunga yang lebih tinggi membuat investor lebih selektif terhadap perusahaan yang belum menghasilkan laba konsisten. Dalam konteks ini, komitmen Moderna terhadap target pertumbuhan 10% menjadi pesan penting: perusahaan ingin menunjukkan jalur yang jelas menuju profitabilitas berkelanjutan.
Bagi Moderna, fase sekarang adalah ujian kedewasaan. Dari bintang pandemi dengan pendapatan spektakuler, ia harus bertransformasi menjadi perusahaan biotek dengan portofolio luas dan arus kas lebih terdiversifikasi. Transisi seperti ini jarang mulus. Fluktuasi pendapatan dan laba hampir tak terhindarkan.
Namun sejarah industri farmasi menunjukkan bahwa inovasi yang tepat bisa mengubah peta persaingan. Teknologi mRNA, yang dulu dianggap eksperimental, kini telah terbukti efektif dalam skala global. Moderna ingin memanfaatkan fondasi tersebut untuk melangkah lebih jauh, bukan hanya bertahan dari surutnya vaksin Covid.
Kerugian 826 juta dolar pada kuartal keempat mungkin tampak mencolok, tetapi pasar membaca cerita yang lebih besar: apakah perusahaan mampu mengubah lonjakan satu dekade menjadi fondasi jangka panjang. Dengan kas yang masih kuat dan pipeline yang aktif, Moderna memilih tetap agresif.
Di tengah meredanya euforia pandemi, perusahaan ini mencoba menulis babak baru. Bukan lagi soal krisis global, melainkan tentang konsistensi inovasi dan disiplin eksekusi. Target pertumbuhan 10% menjadi jangkar narasi tersebut. Apakah ia akan tercapai, sangat bergantung pada keberhasilan Moderna menerjemahkan sains menjadi produk yang benar-benar dibutuhkan pasar.

