pekerja

Profesi yang Paling Dipercaya dan Paling Diragukan: Potret Kepercayaan Publik di Era Global

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Di dunia yang semakin transparan dan terhubung secara global, reputasi profesi tidak lagi dibentuk semata oleh gelar atau institusi, melainkan oleh persepsi publik terhadap integritas, akuntabilitas, dan dampak sosial. Sebuah survei tahunan yang dilakukan oleh Gallup kembali mengingatkan bahwa kepercayaan adalah mata uang paling mahal—dan paling rapuh—dalam dunia profesional modern.

Survei ini mengukur bagaimana masyarakat Amerika memandang tingkat kejujuran dan etika berbagai profesi, mulai dari tenaga kesehatan, pendidik, hingga politisi dan pelaku industri komersial. Meski berbasis di Amerika Serikat, hasilnya mencerminkan tren global yang relevan bagi dunia bisnis, pemerintahan, dan institusi di berbagai negara.

Hasil survei menunjukkan bahwa profesi yang berkaitan dengan penjualan agresif, persuasi, dan kekuasaan politik cenderung mendapatkan tingkat kepercayaan paling rendah.

Di posisi terbawah adalah telemarketer, profesi yang secara global sering diasosiasikan dengan intrusi privasi, praktik manipulatif, dan kurangnya transparansi. Persepsi negatif ini juga terlihat di banyak negara lain, seiring meningkatnya regulasi perlindungan data dan konsumen.

Menyusul di bawah adalah anggota parlemen (Members of Congress). Tingginya ketidakpercayaan publik terhadap politisi tidak hanya terjadi di Amerika, tetapi juga menjadi fenomena global—dipicu oleh polarisasi politik, isu korupsi, serta jarak yang dirasakan antara pembuat kebijakan dan kebutuhan masyarakat.

Tenaga penjual mobil, pialang saham, dan praktisi periklanan juga masuk dalam daftar profesi dengan persepsi etika rendah. Di tingkat global, profesi-profesi ini menghadapi tantangan yang sama: tuntutan target bisnis yang tinggi sering kali berbenturan dengan ekspektasi publik akan kejujuran dan perlindungan konsumen.

Profesi dengan Persepsi Etika Tertinggi

Sebaliknya, profesi yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik, keselamatan, dan kesejahteraan manusia secara konsisten menempati posisi teratas.

Perawat kembali dinobatkan sebagai profesi paling etis. Fenomena ini bersifat universal. Pandemi COVID-19 memperkuat persepsi global bahwa tenaga kesehatan berada di garis depan bukan hanya secara medis, tetapi juga secara moral.

Diikuti oleh veteran militer, dokter, apoteker, dan guru sekolah menengah, profesi-profesi ini dinilai memiliki komitmen kuat terhadap tanggung jawab sosial, disiplin, dan pelayanan jangka panjang. Menariknya, meskipun kepercayaan terhadap institusi bisa naik turun, kepercayaan terhadap individu yang bekerja langsung untuk masyarakat cenderung lebih stabil.

Pelajaran Global bagi Dunia Bisnis dan Profesional

Bagi pelaku usaha dan profesional di era global, temuan ini menyampaikan pesan penting: etik bukan lagi isu normatif, melainkan strategi reputasi dan keberlanjutan.

Di tengah meningkatnya kesadaran ESG (Environmental, Social, and Governance), konsumen dan mitra bisnis semakin menilai perusahaan berdasarkan nilai, transparansi, dan tanggung jawab sosial, bukan hanya kinerja finansial. Profesi yang dipersepsikan “kurang etis” bukan berarti tidak relevan, tetapi menandakan perlunya transformasi dalam cara berkomunikasi, melayani, dan membangun kepercayaan.

Bagi perusahaan global, terutama yang bergerak di sektor keuangan, pemasaran, dan penjualan, tantangannya adalah bagaimana membangun trust architecture—mulai dari tata kelola, etika bisnis, hingga pengalaman pelanggan—yang mampu menjawab skeptisisme publik.

Etika sebagai Keunggulan Kompetitif

Dalam lanskap bisnis internasional yang semakin kompetitif, etika tidak lagi menjadi pelengkap citra, melainkan keunggulan strategis. Profesi dan institusi yang mampu menjaga integritas secara konsisten akan lebih tahan terhadap krisis, perubahan regulasi, dan tekanan publik.

Survei Gallup ini, meski berangkat dari konteks Amerika, memberikan refleksi global: di era informasi tanpa batas, reputasi profesional bersifat lintas negara. Dan pada akhirnya, kepercayaan publik tetap menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan bisnis, institusi, dan kepemimpinan di tingkat global.