(Business Lounge – Global News) Maskapai berbiaya rendah asal Inggris, easyJet, kembali mencatatkan kerugian pada kuartal pertama tahun fiskalnya meskipun jumlah penumpang dan pendapatan menunjukkan kenaikan. Dalam laporan keuangan untuk periode tiga bulan hingga Desember, perusahaan membukukan rugi sebelum pajak sebesar 93 juta pound sterling, lebih lebar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini mencerminkan tantangan struktural yang masih membayangi industri penerbangan Eropa, sekaligus menegaskan bahwa pemulihan pascapandemi belum sepenuhnya stabil.
Kenaikan jumlah penumpang sebenarnya menjadi kabar positif. easyJet melaporkan pertumbuhan permintaan perjalanan, terutama pada rute-rute utama di Eropa Barat dan destinasi liburan musim dingin. Tingkat keterisian kursi meningkat, sejalan dengan membaiknya kepercayaan konsumen dan minat bepergian yang kembali menguat. Pendapatan pun ikut naik, mencerminkan tarif tiket yang lebih tinggi serta kontribusi dari layanan tambahan seperti bagasi dan pemilihan kursi. Namun, peningkatan ini belum cukup untuk menutup lonjakan biaya operasional yang terus menekan kinerja keuangan perusahaan.
Biaya bahan bakar menjadi salah satu faktor utama yang memperlebar kerugian. Harga avtur yang masih fluktuatif membuat maskapai sulit menjaga margin, terutama di tengah persaingan ketat dengan operator berbiaya rendah lainnya. Selain itu, biaya tenaga kerja juga meningkat seiring penyesuaian upah dan kebutuhan mempertahankan kru di tengah pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif. Menurut analis industri penerbangan, tekanan biaya ini dirasakan hampir seluruh maskapai Eropa, bukan hanya easyJet, sebagaimana dilaporkan Financial Times dan Bloomberg.
Musim dingin secara historis memang menjadi periode yang menantang bagi maskapai Eropa. Permintaan cenderung lebih lemah dibandingkan musim panas, sementara banyak biaya bersifat tetap. easyJet selama ini mengandalkan musim panas untuk mengimbangi kerugian di paruh awal tahun fiskal. Namun, pola perjalanan yang mulai berubah pascapandemi membuat perhitungan ini menjadi kurang pasti. Wisatawan kini lebih selektif dalam membelanjakan uang, terutama di tengah tekanan inflasi dan biaya hidup yang masih tinggi di banyak negara Eropa, seperti dicatat Reuters.
Meski demikian, manajemen easyJet tetap menunjukkan optimisme. Perusahaan menyatakan pemesanan untuk musim panas menunjukkan tren yang solid, dengan harga tiket rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Permintaan untuk rute Mediterania, Eropa Selatan, dan destinasi wisata populer lainnya disebut cukup kuat. easyJet juga terus mengandalkan strategi fleksibilitas armada dan efisiensi operasional untuk menjaga daya saing di tengah pasar yang semakin padat.
Strategi tersebut mencakup optimalisasi jadwal penerbangan, pengendalian biaya per kursi, serta peningkatan pendapatan tambahan dari layanan non-tiket. Maskapai ini juga terus menyesuaikan kapasitas dengan permintaan, menghindari ekspansi agresif yang berisiko menekan margin. Menurut analis yang dikutip The Wall Street Journal, pendekatan ini relatif konservatif namun realistis, mengingat volatilitas pasar penerbangan global yang masih tinggi.
Di sisi lain, investor tetap mencermati perkembangan kinerja easyJet dengan hati-hati. Saham maskapai penerbangan Eropa secara umum bergerak fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir, dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik, serta perubahan pola konsumsi masyarakat. Laporan keuangan easyJet kali ini mencerminkan dilema yang dihadapi banyak maskapai: permintaan tumbuh, tetapi biaya tumbuh lebih cepat.
Jika dibandingkan dengan para pesaingnya, posisi easyJet relatif tidak buruk. Beberapa maskapai lain justru menghadapi tekanan lebih besar akibat beban utang yang tinggi atau gangguan operasional. Namun, pasar tetap menunggu bukti bahwa kenaikan pendapatan dapat diterjemahkan menjadi profitabilitas yang berkelanjutan. Keberhasilan musim panas mendatang akan menjadi penentu utama, mengingat periode tersebut menyumbang porsi laba terbesar dalam setahun.
Fokus utama easyJet adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi dan disiplin biaya. Manajemen menegaskan komitmen untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar, memperbaiki utilisasi armada, serta memaksimalkan pendapatan dari setiap penerbangan. Di tengah persaingan yang semakin ketat dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, kemampuan mengeksekusi strategi ini akan sangat menentukan arah kinerja perusahaan.
Bagi industri penerbangan secara keseluruhan, laporan easyJet menjadi cerminan realitas baru: pemulihan pascapandemi memang terjadi, tetapi tidak berjalan mulus. Permintaan yang kembali tumbuh belum otomatis menjamin keuntungan, terutama ketika biaya operasional terus meningkat. Seperti dicatat Bloomberg dan Reuters, tahun ini akan menjadi ujian penting bagi maskapai Eropa untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya mampu terbang penuh, tetapi juga terbang dengan menguntungkan.

