(Business Lounge – Medicine) Obat penurun berat badan seperti Ozempic dan Wegovy telah menjadi fenomena global dalam beberapa tahun terakhir. Digunakan jutaan orang untuk menurunkan berat badan dan mengontrol diabetes, obat berbasis semaglutide ini kerap dipandang sebagai solusi cepat terhadap obesitas. Namun, para ahli kini menegaskan satu hal penting: obat-obatan ini bukan solusi sementara, melainkan terapi jangka panjang. Ketika pengguna berhenti mengonsumsinya, tubuh bisa bereaksi dengan cara yang tidak sedikit orang sadari.
Menurut laporan Wall Street Journal dan Bloomberg, banyak pasien yang menghentikan Ozempic atau Wegovy mengalami kenaikan berat badan kembali, sering kali dalam waktu relatif singkat. Fenomena ini bukan anomali, melainkan konsekuensi biologis yang telah diprediksi oleh para peneliti. Obat-obatan ini bekerja dengan menekan nafsu makan dan memperlambat pengosongan lambung, sehingga tubuh merasa kenyang lebih lama. Ketika obat dihentikan, mekanisme tersebut ikut menghilang.
Para dokter menekankan bahwa obesitas kini dipandang sebagai penyakit kronis, bukan sekadar akibat gaya hidup. Artinya, pengobatannya mirip dengan tekanan darah tinggi atau diabetes, yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Dalam konteks ini, Ozempic dan Wegovy bukanlah “obat diet”, melainkan terapi medis berkelanjutan. Reuters mencatat bahwa banyak pasien yang berharap bisa berhenti setelah berat badan turun, namun justru mengalami rebound karena hormon lapar kembali aktif.
Penelitian menunjukkan bahwa setelah penghentian obat, kadar hormon yang mengatur rasa lapar seperti ghrelin meningkat kembali. Akibatnya, nafsu makan melonjak dan tubuh cenderung menyimpan energi lebih agresif. Dalam beberapa studi, pasien bahkan mendapatkan kembali sebagian besar berat badan yang telah hilang dalam waktu satu tahun setelah menghentikan pengobatan. Hal ini menjelaskan mengapa para dokter menyarankan pendekatan jangka panjang, bukan penggunaan sementara.
Selain kenaikan berat badan, ada pula dampak psikologis yang sering luput dari perhatian. Banyak pengguna merasa frustrasi atau gagal ketika berat badan kembali naik, padahal kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya disiplin. Financial Times menyoroti bahwa ekspektasi publik terhadap obat ini sering kali tidak realistis, seolah-olah penurunan berat badan bisa dipertahankan tanpa perubahan biologis yang permanen.
Para ahli kesehatan menegaskan bahwa Ozempic dan Wegovy bekerja paling efektif bila dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup yang berkelanjutan. Pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres tetap menjadi fondasi utama. Namun, bahkan dengan semua itu, banyak pasien tetap memerlukan obat untuk menjaga keseimbangan metabolisme mereka.
Isu lain yang mulai mencuat adalah kesiapan sistem kesehatan menghadapi penggunaan jangka panjang obat-obatan ini. Biaya menjadi faktor besar, terutama di negara-negara yang tidak menanggung obat penurun berat badan dalam asuransi kesehatan. Ketika pasien harus berhenti karena alasan finansial, risiko kenaikan berat badan kembali menjadi lebih besar. Bloomberg mencatat bahwa hal ini berpotensi menciptakan kesenjangan kesehatan baru antara mereka yang mampu membayar terapi jangka panjang dan yang tidak.
Di sisi lain, perusahaan farmasi menegaskan bahwa obat-obatan ini dikembangkan dengan asumsi penggunaan jangka panjang. Produsen Wegovy dan Ozempic menyatakan bahwa terapi obesitas harus diperlakukan seperti penyakit kronis lainnya. Artinya, menghentikan pengobatan tanpa rencana lanjutan sama halnya dengan menghentikan obat tekanan darah secara tiba-tiba.
Diskusi tentang Ozempic dan Wegovy juga memunculkan perdebatan etis dan sosial. Sebagian kalangan mengkhawatirkan normalisasi penggunaan obat sebagai jalan pintas penurunan berat badan, terutama di kalangan non-medis. Namun para dokter menekankan bahwa masalah utamanya bukan pada obat, melainkan pada cara masyarakat memandang obesitas. Selama obesitas dianggap sekadar masalah kemauan, pemahaman tentang perlunya terapi jangka panjang akan terus keliru.
Bagi pasien, pesan yang paling penting adalah memahami apa yang mereka hadapi sebelum memulai pengobatan. Mengonsumsi Ozempic atau Wegovy berarti berkomitmen pada perawatan jangka panjang, bukan program singkat. Diskusi terbuka dengan dokter mengenai manfaat, risiko, serta kemungkinan efek setelah penghentian menjadi krusial agar tidak muncul ekspektasi yang salah.
Para peneliti berharap muncul terapi baru yang lebih berkelanjutan, baik dari sisi efektivitas maupun biaya. Namun untuk saat ini, konsensus medis semakin jelas: obat penurun berat badan modern bukanlah solusi instan. Mereka adalah alat bantu dalam pengelolaan penyakit kronis yang memerlukan pendekatan jangka panjang dan realistis.
Seperti dicatat oleh Wall Street Journal, Bloomberg, dan Reuters, memahami apa yang terjadi setelah menghentikan Ozempic atau Wegovy adalah kunci agar masyarakat tidak terjebak pada ilusi solusi cepat. Dalam dunia medis, tidak ada jalan pintas—yang ada hanyalah manajemen jangka panjang dengan pemahaman yang tepat.

