(Business Lounge – Global News) Wacana membawa SpaceX melantai di bursa kembali menguat, dan kali ini alasannya bukan sekadar kebutuhan modal atau strategi bisnis biasa. Menurut sejumlah sumber industri, dorongan utama Elon Musk untuk mempercepat rencana penawaran saham perdana SpaceX berkaitan dengan ambisi yang jauh lebih besar: membangun pusat data berbasis luar angkasa. Gagasan ini, yang terdengar futuristis, kini mulai dipandang sebagai langkah logis di tengah lonjakan kebutuhan komputasi global akibat ledakan kecerdasan buatan.
Selama bertahun-tahun, Musk bersikeras bahwa SpaceX akan tetap menjadi perusahaan tertutup. Ia berulang kali menyatakan ingin melindungi perusahaan dari tekanan jangka pendek pasar modal, sekaligus menjaga fokus pada misi jangka panjang seperti kolonisasi Mars. Namun menurut laporan Bloomberg, dinamika tersebut mulai berubah ketika SpaceX semakin dalam terlibat dalam proyek infrastruktur digital berskala raksasa, terutama yang berkaitan dengan jaringan satelit Starlink dan komputasi berbasis orbit.
Sumber-sumber yang dekat dengan perusahaan menyebutkan bahwa gagasan pusat data di luar angkasa kini menjadi salah satu pendorong utama perubahan strategi ini. Dengan meningkatnya kebutuhan energi untuk menjalankan pusat data AI di Bumi, sejumlah perusahaan teknologi mulai mencari alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan. Ruang angkasa menawarkan keuntungan unik: akses energi surya yang nyaris tak terbatas, suhu alami yang lebih dingin untuk pendinginan server, serta potensi mengurangi tekanan terhadap infrastruktur listrik di darat.
Dalam konteks inilah SpaceX menjadi aset yang sangat strategis. Perusahaan ini tidak hanya menguasai teknologi peluncuran roket dengan biaya rendah, tetapi juga memiliki jaringan satelit terbesar di dunia melalui Starlink. Kombinasi tersebut membuka peluang bagi pengembangan pusat data orbit yang terhubung langsung dengan jaringan global. Menurut The Wall Street Journal, beberapa investor besar mulai melihat SpaceX bukan lagi sekadar perusahaan antariksa, melainkan calon tulang punggung infrastruktur digital masa depan.
Namun ambisi sebesar itu membutuhkan pendanaan masif. Meski SpaceX sudah mengantongi miliaran dolar dari investor swasta dan kontrak pemerintah, skala proyek pusat data luar angkasa diperkirakan melampaui pembiayaan tradisional. Di sinilah opsi IPO kembali mencuat. Dengan melantai di bursa, SpaceX berpotensi mengakses modal publik dalam jumlah besar, sekaligus memberi likuiditas bagi investor awal yang telah menanamkan dana selama lebih dari satu dekade.
Langkah ini juga sejalan dengan perubahan sikap Musk terhadap pasar modal. Setelah membawa Tesla menjadi raksasa otomotif listrik dunia, Musk semakin terbiasa memanfaatkan pasar saham sebagai alat pendanaan ambisi jangka panjang. Meski sering mengkritik volatilitas dan tekanan investor, ia juga menyadari bahwa proyek berskala planet membutuhkan sumber dana yang tak kalah besar. Financial Times mencatat bahwa pergeseran ini mencerminkan realitas baru industri teknologi, di mana batas antara perusahaan antariksa, energi, dan AI semakin kabur.
Dorongan menuju IPO juga dipengaruhi oleh meningkatnya persaingan di sektor luar angkasa. Perusahaan seperti Blue Origin milik Jeff Bezos dan sejumlah startup antariksa lain mulai agresif mengembangkan teknologi peluncuran dan infrastruktur orbit. Di saat yang sama, pemerintah di berbagai negara meningkatkan belanja pertahanan dan komunikasi berbasis satelit. Dalam lanskap seperti ini, memiliki akses modal publik dapat memberi SpaceX keunggulan strategis yang sulit disaingi.
Meski demikian, rencana ini bukan tanpa risiko. SpaceX masih menghadapi tantangan teknis besar, mulai dari pengembangan roket Starship hingga keberlanjutan model bisnis Starlink. Selain itu, membawa perusahaan ke pasar publik berarti membuka diri terhadap pengawasan ketat regulator dan investor, sesuatu yang selama ini dihindari Musk. Namun menurut sumber yang dikutip Reuters, tekanan untuk merealisasikan proyek pusat data orbit membuat opsi ini semakin sulit dihindari.
Bagi Musk, taruhan ini tampaknya sepadan. Ia melihat masa depan teknologi tidak lagi terbatas di Bumi, melainkan meluas ke luar angkasa sebagai perpanjangan dari infrastruktur digital global. Jika visi tersebut terwujud, SpaceX bukan hanya akan dikenang sebagai perusahaan roket, tetapi sebagai fondasi ekonomi digital generasi berikutnya.
Langkah menuju IPO bukan semata soal valuasi atau likuiditas, melainkan tentang skala ambisi. Dengan kebutuhan komputasi AI yang terus melonjak dan batas kapasitas Bumi yang kian terasa, ide menempatkan pusat data di orbit menjadi semakin relevan. Dan bagi Elon Musk, SpaceX tampaknya adalah kendaraan yang paling siap untuk membawa visi itu menjadi kenyataan, sebagaimana disorot oleh Bloomberg, The Wall Street Journal, dan Reuters.

